UIN Syekh Wasil dan UIN Madura Gelar Kuliah Tamu Multikultural
Tulisan dari Nurul Dwi Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh Dr. Salma Sunaiyah, M.Pd. (Dosen UIN Syekh Wasil Kediri)
Pamekasan, 17 September 2026 — Tadris Bahasa Indonesia UIN Syekh Wasil Kediri berkolaborasi dengan Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura menyelenggarakan Kuliah Tamu Pendidikan Multikultural pada Kamis, 17 September 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB tersebut bertempat di Aula Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Madura. Kuliah tamu menghadirkan Dr. Salma Sunaiyah, M.Pd., dosen Tadris Bahasa Indonesia UIN Syekh Wasil Kediri, sebagai pemateri.
Mengusung tema “Pendidikan Multikultural Inklusif: Membangun Generasi Inklusif, Harmonis, dan Toleran di Era Global”, kegiatan ini mengangkat pentingnya pendidikan multikultural sebagai pendekatan pendidikan yang tidak sekadar mengenalkan budaya lain, tetapi juga secara aktif menghargai dan mengakui keberagaman dalam masyarakat. Dalam materi yang disampaikan, pendidikan multikultural diarahkan untuk membangun kesadaran terhadap perbedaan budaya, ras, agama, serta mengembangkan kemampuan beradaptasi dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.
Dr. Salma menjelaskan bahwa pendidikan multikultural memiliki peran penting dalam menjawab tantangan globalisasi dan mencegah polarisasi sosial. Melalui pendidikan multikultural, peserta didik dapat mengembangkan toleransi dan empati, meningkatkan keterampilan sosial seperti komunikasi, kolaborasi, dan negosiasi lintas budaya, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di dunia yang semakin terhubung. Pendidikan multikultural juga dapat menjadi sarana untuk mengurangi stereotip dengan menggantikan prasangka melalui pengetahuan dan pemahaman terhadap keberagaman.
Dalam pemaparannya, Dr. Salma juga menguraikan empat prinsip dasar pendidikan multikultural, yaitu penghargaan terhadap keberagaman, inklusi dan keadilan, pemberdayaan (empowerment), serta penghapusan diskriminasi. Keempat prinsip tersebut menjadi fondasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang adil dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang serta berpartisipasi tanpa memandang latar belakangnya.
Lebih lanjut, keberagaman dalam lingkungan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan suku atau warna kulit. Materi kuliah tamu menyoroti sejumlah dimensi keberagaman, meliputi budaya, sosial ekonomi, linguistik, gender, dan agama. Kepekaan terhadap berbagai dimensi tersebut diperlukan agar lingkungan pembelajaran mampu memberikan ruang yang aman dan setara bagi peserta didik dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Penerapan pendidikan multikultural juga perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kurikulum dan materi, metode pengajaran, lingkungan belajar, hingga kemitraan dengan komunitas dan keluarga. Dalam hal ini, materi pembelajaran perlu mengintegrasikan literatur dan sejarah dari perspektif berbagai kelompok, sedangkan metode pembelajaran dapat menggunakan pendekatan kooperatif dan interaktif yang mengakomodasi beragam gaya belajar. Lingkungan belajar yang inklusif juga perlu diwujudkan melalui penghargaan terhadap berbagai praktik dan hari budaya.
Peran guru menjadi bagian penting dalam mewujudkan pendidikan multikultural. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator ruang aman, pengajar yang responsif terhadap budaya (culturally responsive teaching), serta penggerak kolaborasi lintas latar belakang. Pendekatan tersebut memungkinkan guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan karakteristik dan latar belakang peserta didik sekaligus menciptakan ruang dialog yang membuat setiap peserta merasa didengar dan dihargai.
Kuliah tamu tersebut juga membahas sejumlah tantangan dalam penerapan pendidikan multikultural di era globalisasi, seperti stigma dan stereotip, kurikulum yang bias mayoritas, ketidakpahaman terhadap konsep multikultural, keterbatasan sumber daya, serta resistensi lingkungan. Untuk memperkuat literasi multikultural, berbagai sumber dapat dimanfaatkan, mulai dari buku dan literatur fiksi maupun ilmiah, pelatihan dan pengembangan profesional, platform media digital, hingga keterlibatan komunitas lokal.
Melalui kegiatan kolaboratif ini, pendidikan multikultural ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun generasi yang mampu hidup di tengah keberagaman. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membentuk peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang berempati, toleran, adil, dan mampu menghargai perbedaan. Sebagaimana ditekankan dalam materi, keberagaman dapat menjadi sumber kekuatan dan inovasi apabila dikelola melalui pendidikan yang inklusif, bukan menjadi alasan untuk menciptakan perpecahan.
Kuliah tamu Pendidikan Multikultural ini sekaligus menjadi ruang penguatan kolaborasi akademik antara Tadris Bahasa Indonesia UIN Syekh Wasil Kediri dan Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura, khususnya dalam memperluas wawasan tentang pendidikan bahasa dan pembelajaran yang responsif terhadap keberagaman masyarakat di era global.

