#KaburAjaDulu dan Kegelisahan-nya

Mhasiswi yang sedang menempuh pendidikan S1Linguistik Indonesia Pada Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Elana Deswita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, ada banyak anak muda memilih untuk meninggalkan Indonesia.Hal Ini bukan semata-mata karena ikut tren, melainkan mereka lelah dengan kenyataan di negeri ini. Mereka sudah berusaha keras, namun merasa tidak dihargai. Bukan berarti mereka tidak mencintai tanah air, melainkan ingin tinggal ditempat yang memberi ruang tumbuh, menghargai kerja keras, dan adil dalam memberi kesempatan.
Pergi dari negara asal bukan berarti tidak nasionalisme. Bagi sebagian orang, pindah adalah cara bertahan demi hidup yang lebih layak bagi diri sendiri dan keluarga. Fenomena ini merupakan bentuk cinta yang diam-diam memperbaiki diri ditempat yang memberi harapan, dengan impian suatu hari bisa kembali.
Sayangnya, pilihan ini kerap dipandang sebagai pengkhianatan. Padahal, keputusan itu lahir dari kekecewaan mendalam terhadap sistem yang tidak adil pada negara ini. Mereka tidak mencari kemewahan, hanya ingin dihargai dan diberi kesempatan untuk berkembang. Bila itu tidak bisa didapat di negeri sendiri, maka wajar saja jika mereka mencarinya di luar. Bukan karena benci Indonesia, tapi karena ingin hidup sebagai manusia yang utuh.
Salah satu masalah utama ketenagakerjaan di Indonesia adalah terbatasnya lapangan kerja dan ketidakcocokan antara kualifikasi lulusan dengan kebutuhan industri. Zulkarnain (2024) menyoroti bahwa banyak lulusan baru (Fresh Graduate) kesulitan mendapatkan pekerjaan, bukan hanya karena minimnya lowongan, tetapi juga karena keterampilan mereka tidak sesuai dengan yang dibutuhkan pasar. Berdasarkan dari data BPS (2023) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka tertinggi justru ada pada lulusan SMK dan perguruan tinggi, padahal mereka seharusnya paling siap kerja. Pertumbuhan lapangan kerja formal juga tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja, memperlebar kesenjangan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja. Parahnya lagi, banyak lowongan mencantumkan syarat pengalaman kerja yang tidak realistis,sehingga sangat menyulitkan para pencari kerja pemula terutama Gen Z atau bagi anak sekolah yang batu saja lulus SMA atau SMK. Kondisi ini menegaskan perlunya perbaikan sistem pendidikan dan kebijakan kerja agar lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.
Selain itu, ketimpangan akses dan keadilan sosial juga mendorong banyak anak muda meninggalkan daerah asalnya. Lestari (2023) menyebutkan bahwa akses terhadap pendidikan unggulan masih terpusat di kota besar. Anak-anak di daerah harus berjuang ekstra atau mengalah, karena fasilitas pendidikan dan infrastruktur digital masih belum merata. Ketimpangan ini menciptakan jurang antara kota dan desa. Bahkan, banyak daerah yang kaya sumber daya manusia justru kekurangan lapangan kerja, memaksa warganya pergi mencari peluang di tempat lain (Kompas.id, 2023). Pemerataan pembangunan sangat penting agar semua warga, di mana pun berada, punya kesempatan yang setara.
Di sisi lain, krisis kepercayaan terhadap institusi negara juga menjadi ancaman serius. Laporan RRI (2025) menyatakan bahwasannya semakin banyak generasi muda kecewa terhadap pemerintah, terutama karena korupsi. Anggraini (2023) menegaskan bahwa korupsi tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik, khususnya dari kalangan muda.Dengan adanya hal ini dapat menimbulkan efek samping bagi para Gen Z serta kesehatan mental mereka yang bisa saja terguncang dari adanya krisis tersebut. Fenomena #KaburAjaDulu yang viral di media sosial menunjukkan keinginan banyak anak muda untuk pergi ke luar negeri mencari kehidupan yang lebih baik (Wikipedia contributors, 2025). Jika dibiarkan, krisis ini bisa melemahkan ikatan warga dengan negara dan mengancam masa depan Indonesia.
Dapat diambil solusi ataupun saran dari perihal tersebut yakni Fenomena Kabur Aja Dulu muncul karena banyak anak muda merasa tidak diberi ruang tumbuh yang adil di negerinya sendiri. Mereka pergi bukan karena tidak cinta, tapi karena ingin hidup lebih layak dan dihargai.Pemerintah perlu mereformasi sistem pendidikan dan pelatihan agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang dan akan lebih baik lagi untuk melibatkan Gen Z dalam proses pembuatan kebijakan akan memberikan mereka rasa memiliki dan membuat kebijakan lebih responsif terhadap kebutuhan mereka. Untuk mengembalikan kepercayaan generasi muda, pemerintah harus meningkatkan transparansi dalam pengelolaan anggaran & memberantas korupsi secara serius.
Demikian artikel ini saya tulis kurang lebihnya mohon maaf jika ada kesalahan atau kekeliruan dalam menulis mengungkapkan aspirasi ini.Terima Kasih.
ED
