Kepemimpinan Heroik dan Jalan Panjang Menuju Indonesia Emas 2045

Komisioner Bawaslu Provinsi Banten
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ocit Abdurrosyid Siddiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca Ulang Kepemimpinan dari Kesadaran Diri hingga Tanggung Jawab Kolektif
Pemimpin seperti apakah yang dibutuhkan untuk membawa bangsa ini menuju 2045? Pertanyaan itu tidak sesederhana mencari sosok yang pandai berpidato, piawai menyusun program, atau cekatan mengeksekusi kebijakan. Persoalan kepemimpinan hari ini juga terletak pada kesadaran memahami akibat setiap keputusan terhadap manusia, institusi, dan kehidupan bersama.
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk membaca buku The Art of Heroic Leadership: From Systemic Blindness to Trustworthy Shared Action, karya Zulfikar M. Rachman dan Ahmad Mukhlis Yusuf, terbitan IPB Press Agustus 2026. Para penulis tidak langsung mengajarkan teknik memimpin, melainkan mengajak kita memeriksa kesadaran, cara pandang, dan kualitas keberadaan manusia yang menjalankan kepemimpinan.
Tawaran ini relevan ketika Indonesia menapaki jalan menuju satu abad kemerdekaan. Bonus demografi dan kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menjelma menjadi kemajuan. Kekayaan bisa menjadi berkah, tetapi juga sumber konflik apabila dikelola dengan kesadaran yang sempit.
Kebutaan Sistemik: Ketika Akar Persoalan Tak Terlihat
Salah satu gagasan penting buku ini adalah systemic blindness, atau kebutaan sistemik: keadaan ketika pemimpin tidak mampu melihat pola, hubungan, kepentingan, dan konsekuensi di balik suatu persoalan. Ia merasa masalah selesai karena program terlaksana dan target administratif tercapai, padahal akar persoalan belum tersentuh.
Dalam birokrasi, keberhasilan sering diukur dari penyerapan anggaran, jumlah kegiatan, dan laporan pertanggungjawaban. Semua itu penting. Namun, apakah penyerapan anggaran selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan? Apakah rapat koordinasi berjam-jam selalu menghasilkan koordinasi yang lebih baik? Keberhasilan administratif belum tentu identik dengan perubahan substantif.
Buku ini juga mengingatkan bahwa pemimpin bukan pengamat di luar sistem. Cara berpikir, kebiasaan, dan relasi kekuasaannya ikut membentuk keadaan. Karena itu, memperbaiki sistem tidak cukup dengan mengganti prosedur. Pemimpin juga harus bersedia memeriksa dirinya sendiri.
Tiga Gerakan dan Keutuhan Manusia
Argumentasi buku ini dibangun melalui tiga gerakan: Descent, yakni turun lebih dalam melihat kebutaan pada sistem dan diri sendiri; Re-Formation, yakni membangun kembali landasan batin dan tanggung jawab; serta Widening, yakni memperluas kesadaran personal menjadi tindakan bersama yang dapat dipercaya.
Dalam pembentukan diri, buku ini menawarkan konsep Pancaloka: keutuhan manusia melalui lima dimensi, yaitu pikiran, hati, tubuh, jiwa, dan energi. Kepemimpinan tidak cukup bertumpu pada kecerdasan berpikir. Gagasan ini mengingatkan saya pada orang yang mampu menjelaskan sesuatu dengan sangat cerdas, tetapi belum tentu mampu mendengarkan. Bisa jadi, telinga diciptakan sepasang dan mulut hanya satu, tetapi dalam praktik kepemimpinan penggunaannya sering terbalik.
Pembahasan tentang Being dan Doing menegaskan bahwa kualitas tindakan berkaitan dengan kualitas keberadaan pelakunya. Pemimpin perlu bertanya, "Dari kesadaran seperti apa saya mengerjakannya, untuk siapa, dan apa akibatnya?" Dengan begitu, kepemimpinan menjadi tanggung jawab etis, bukan sekadar jabatan.
Arena, Gotong Royong, dan Kepercayaan Publik
Konsep Arena menggambarkan medan relasi tempat orang dapat mendengarkan, menyampaikan kebenaran, berbeda pendapat, dan bergerak bersama. Kualitas pemimpin diukur dari kemampuannya menciptakan lingkungan yang membuat orang lain tumbuh dan berpartisipasi secara bermakna.
Gagasan ini dekat dengan gotong royong, yang bukan sekadar bekerja bersama karena instruksi, melainkan kesediaan berbagi tanggung jawab dan saling mendengarkan. Bagi saya, ini penting untuk membaca demokrasi dan tata kelola. Pemerintahan harus membangun kepercayaan publik, dan kepercayaan tidak lahir dari baliho, slogan, atau konferensi pers dengan tata cahaya sempurna. Kepercayaan tumbuh ketika perkataan, keputusan, dan tindakan konsisten.
Model HEROIC: Ritme Kepemimpinan Bersama
Gagasan-gagasan itu mengerucut dalam model HEROIC: Heartful Flow State, Envisioning, Reality Check, Options Exploration, Implementing Strategies, dan Commitment to Stewardship. Keenamnya membentuk ritme yang menghubungkan kesiapan batin, pembacaan masa depan, keberanian menghadapi kenyataan, penjelajahan pilihan, pelaksanaan strategi, dan komitmen menjaga keberlanjutan.
HEROIC bukan daftar tahapan teknis, melainkan ritme yang dijalani bersama. Visi tidak boleh menjadi monopoli seorang pemimpin, dan pelaksanaan tidak boleh dibebankan kepada mereka yang tak pernah dilibatkan dalam keputusan. Kepemimpinan heroik bukan kepahlawanan individual, melainkan kemampuan membangun kapasitas kolektif untuk bergerak secara bertanggung jawab.
Menautkan dengan Visi Indonesia Emas 2045
Dalam kerangka RPJPN 2025–2045 (UU Nomor 59 Tahun 2024), visi Indonesia bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan dijabarkan melalui delapan misi, tujuh belas arah pembangunan, dan empat puluh lima indikator utama. Target sebesar itu membutuhkan lebih dari perencanaan yang baik. Peningkatan mutu pendidikan, misalnya, berkaitan dengan anggaran, kesejahteraan keluarga, kesehatan, teknologi, dan tata kelola.
Di sinilah systemic blindness menjadi lensa untuk membaca risiko pembangunan: kecenderungan bekerja dalam sekat sektoral. Kita bisa memiliki banyak program unggulan, tetapi tetap gagal menyelesaikan persoalan jika masing-masing berjalan seperti rombongan yang menuju tujuan sama dengan kendaraan dan peta berbeda. Kepercayaan antarlembaga dan antara negara dengan masyarakat juga menjadi fondasi. Karena itu, trustworthy shared action, yaitu tindakan bersama yang dapat dipercaya, menjadi penting.
Catatan Kritis: Dari Refleksi Menuju Praktik
Buku ini menempatkan diri sebagai formation text, bukan manual teknis. Pembaca yang mengharapkan petunjuk operasional rinci mungkin memerlukan penjabaran lebih lanjut. Kerangka HEROIC, misalnya, membutuhkan indikator, mekanisme evaluasi, dan penyesuaian kelembagaan bila diterapkan dalam birokrasi. Catatan ini bukan kelemahan yang membatalkan nilai buku, melainkan ruang dialog dan pengembangan. Kesadaran diri tidak boleh berhenti menjadi percakapan tentang diri sendiri, sebagaimana gotong royong tidak boleh berhenti menjadi jargon yang ramai ketika spanduk kegiatan dipasang.
Heroisme yang Menjadi Milik Bersama
Indonesia Emas 2045 membutuhkan pemimpin yang memahami apa yang sedang dibangun, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang mungkin tertinggal, dan bagaimana keberlanjutannya dijaga. Ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukan hanya seberapa tinggi bangunan yang didirikan, melainkan seberapa kokoh kepercayaan yang tumbuh di antara warganya.
Masa depan membutuhkan manusia yang bersedia berubah sebelum mengubah keadaan, dan pemimpin yang mau mendengarkan sebelum memberi perintah. Jika Indonesia Emas adalah cita-cita kolektif, kepemimpinannya pun harus menjadi milik bersama. Mungkin itulah makna terpenting kepemimpinan heroik: bukan menjadi pahlawan bagi semua orang, melainkan membantu banyak orang menemukan keberanian untuk memikul masa depan bersama.
