Pendidikan dan Ekonomi: Hubungan Langsung yang Belum Dioptimalkan

saya adalah seorang mahasiswa unpam dengan jurusan pendidikan ekonomi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan dan Ekonomi: Hubungan yang Sering Kita Lupakan
Hei, pernah nggak kamu berpikir begini — kenapa ada keluarga yang hidupnya terus-menerus kesulitan, sulit keluar dari kesempitan? Dan kenapa keluarga lain bisa makin baik dari masa ke masa? Bukan cuma soal harta yang diturunkan, lho. Yang paling besar pengaruhnya itu pendidikan. Tapi anehnya, kita sering memisahkan keduanya — pendidikan dianggap urusan sekolah saja, ekonomi urusan kerja dan uang. Padahal keduanya itu seperti akar dan pohon: kalau akarnya kuat, pohonnya tumbuh subur. Kalau pendidikannya baik, perekonomian bangkit sendiri. Yuk, kita bahas pelan-pelan.
1. Sebenarnya, Bagaimana Pendidikan Menggerakkan Ekonomi?
Sederhananya, pendidikan itu bukan cuma soal dapat nilai bagus atau ijazah. Pendidikan itu mengubah cara berpikir, melatih keterampilan, dan membentuk kebiasaan yang berguna seumur hidup. Orang yang berpendidikan lebih mampu melihat peluang, menyelesaikan masalah, beradaptasi dengan hal baru, dan bekerja lebih rapi serta efisien.
Bayangkan begini: kalau petani diberi pengetahuan baru tentang cara menanam dan merawat tanaman, hasil panennya bisa naik berkali-kali lipat tanpa harus menambah lahan. Kalau pengusaha kecil belajar mengelola keuangan dan memasarkan barang, usahanya bisa berkembang, mempekerjakan orang lain, dan ikut memutar roda ekonomi di sekitarnya. Kalau pekerja terus belajar hal baru, dia bisa melakukan pekerjaan yang lebih bernilai, gajinya naik, dan kehidupannya membaik.
Jadi pendidikan itu bukan biaya yang dikeluarkan — itu investasi. Uang yang dipakai untuk mengajar, melatih, dan membekali anak-anak hari ini akan kembali berlipat ganda ke masyarakat bertahun-tahun ke depan. Setiap orang yang terdidik bukan cuma menguntungkan dirinya sendiri — dia akan menciptakan nilai yang bisa dinikmati banyak orang di sekitarnya.
2. Mengapa Hubungan Ini Belum Berjalan Sesuai Harapan?
Padahal kita sudah sadar betapa pentingnya pendidikan, kenyataannya belum sepenuhnya berjalan seperti yang diharapkan. Ada beberapa hal yang membuat keduanya belum saling menguatkan.
Pertama, banyak yang belajar tapi belum sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dunia kerja. Sekolah dan perguruan tinggi mengajarkan banyak hal, tapi kadang isinya belum cocok dengan keterampilan yang dibutuhkan lapangan. Akibatnya, banyak lulusan yang kesulitan langsung bekerja, sementara perusahaan kesulitan mencari orang yang tepat. Ilmu yang sudah dipelajari belum bisa langsung dipakai untuk menghasilkan sesuatu.
Kedua, kesempatan belajar belum merata. Anak yang lahir di kota besar bisa belajar dengan fasilitas lengkap, guru terlatih, dan banyak pilihan. Anak di daerah terpencil atau dari keluarga kurang mampu harus berjuang lebih keras, fasilitas terbatas, dan kadang terpaksa berhenti sekolah lebih dulu. Padahal mereka punya potensi yang sama besar. Bakat yang tidak terasah itu seperti benih yang tidak disiram — tidak akan tumbuh. Itu kerugian besar bagi kita semua.
Ketiga, pendidikan belum sepenuhnya mengajarkan kemandirian dan keterampilan hidup. Banyak yang sudah lulus tapi belum tahu cara mengelola uang, memulai usaha, atau mencari peluang sendiri. Selalu menunggu diberi pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan. Padahal kemampuan berinovasi dan berani memulai hal baru itulah yang menggerakkan ekonomi maju.
Keempat, orang sering melihat pendidikan sebagai beban biaya, bukan tabungan masa depan. Banyak keluarga yang kesulitan mengirim anak sekolah karena butuh bantuan penghasilan sekarang. Akhirnya anak bekerja lebih awal, berhenti belajar, dan seumur hidup melakukan pekerjaan yang berat dengan penghasilan yang rendah. Lingkaran kesulitan itu terus berputar.
3. Apa Dampaknya Kalau Pendidikan Lemah?
Kalau kualitas pendidikan belum membaik, dampaknya terasa ke mana-mana. Pertama, perekonomian kita akan tertinggal dibanding negara lain. Dunia sekarang bergerak cepat — teknologi baru muncul, cara kerja berubah. Kalau rakyat tidak siap belajar hal baru, kita akan terus menjadi penyuplai tenaga kerja murah dan bahan mentah, bukan pembuat barang bernilai tinggi. Keuntungannya akan lari ke tempat lain.
Kedua, kesenjangan makin melebar. Anak dari keluarga yang mampu bisa terus belajar, peluangnya makin terbuka. Anak dari keluarga kurang mampu kesulitan naik ke tingkat yang lebih tinggi, peluangnya makin sempit. Lama-lama yang kaya makin maju, yang susah makin tertinggal. Itu tidak adil dan bisa melemahkan persatuan kita.
Ketiga, potensi besar terbuang percuma. Di antara jutaan anak yang lahir setiap tahun, pasti ada yang punya bakat jadi penemu, pengusaha hebat, pemimpin bijak. Tapi kalau mereka tidak diberi kesempatan belajar, bakat itu hilang begitu saja. Bayangkan berapa banyak kemajuan yang terlewatkan karena anak-anak yang cerdas tidak sempat mengembangkan kemampuannya.
4. Kalau Dioptimalkan, Bagaimana Hasilnya?
Sebaliknya, kalau pendidikan benar-benar disesuaikan dan diperbaiki, perubahannya luar biasa. Orang yang terdidik lebih sehat, karena paham cara menjaga tubuh dan lingkungan. Keluarganya lebih terencana, anak-anaknya juga bisa sekolah lebih tinggi. Penghasilan naik, daya beli tumbuh, usaha berkembang, lapangan kerja bertambah. Satu orang yang berhasil karena pendidikan bisa mengangkat keluarganya, lingkungannya, dan ikut membangun negaranya.
Negara-negara yang dulunya miskin lalu maju — seperti Korea Selatan, Singapura, dan Finlandia — bukan kaya karena tambang atau hutan. Mereka maju karena memprioritaskan pendidikan rakyatnya. Mereka sadar bahwa harta yang paling berharga bukan yang ada di bawah tanah, tapi yang ada di kepala manusia.
5. Lalu, Apa yang Harus Diubah?
Ada beberapa hal yang bisa membuat pendidikan dan ekonomi saling menguatkan dengan benar.
Pertama, sesuaikan apa yang dipelajari dengan apa yang dibutuhkan. Jangan cuma hafalan — latih keterampilan berpikir, memecahkan masalah, bekerja sama, dan berkomunikasi. Sertakan keterampilan teknis yang bisa langsung dipakai, sehingga setelah lulus bisa bekerja atau membuka usaha sendiri.
Kedua, pastikan semua anak punya kesempatan yang sama. Di mana pun mereka tinggal, siapa pun orang tuanya — mereka berhak mendapat pendidikan yang layak. Bantuan, beasiswa, dan dukungan harus sampai ke yang paling membutuhkan, supaya tidak ada potensi yang terbuang.
Ketiga, ajarkan juga kemandirian dan pemahaman tentang kehidupan. Pengelolaan keuangan, kewirausahaan, tanggung jawab, dan etika kerja — semua itu penting agar lulusan tidak cuma pintar teori, tapi juga mampu berdiri sendiri dan berguna bagi orang lain.
Keempat, beri penghargaan kepada yang belajar dan berkembang. Pastikan orang yang meningkatkan kemampuannya benar-benar dihargai dengan penghasilan yang layak dan kesempatan yang lebih luas. Dengan begitu, orang akan makin termotivasi untuk terus belajar seumur hidup.
Penutup
Teman, pendidikan dan ekonomi itu satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa mengharapkan perekonomian maju kalau rakyatnya belum terdidik dengan baik. Dan pendidikan tidak akan bermakna kalau tidak membantu kehidupan rakyat menjadi lebih sejahtera.
Uang yang dikeluarkan untuk sekolah, guru, dan pelatihan bukan pengeluaran yang sia-sia. Itu tabungan paling berharga yang bisa kita simpan untuk masa depan. Setiap anak yang bisa bersekolah dan belajar dengan benar adalah investasi yang akan kembali berlipat ganda. Kalau kita benar-benar mengoptimalkan hubungan ini, percayalah — kemajuan tidak akan datang sendiri, tapi kita yang akan membangunnya dengan tangan dan kepala kita sendiri.
Jadi, jangan pernah melihat pendidikan sebagai urusan orang lain atau sekadar tugas anak-anak. Itu urusan kita semua. Masa depan bangsa ini tidak ditentukan di rapat-rapat besar saja, tapi di setiap ruang kelas, di setiap kesempatan belajar, dan di setiap keinginan untuk menjadi lebih baik.
