Pertanian dan Ketahanan Pangan: Sektor Vital yang Sering Terlupakan

saya adalah seorang mahasiswa unpam dengan jurusan pendidikan ekonomi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanian dan Ketahanan Pangan — Fondasi yang Sering Kita Lupakan
Setiap hari kita menyiapkan makanan di meja, tanpa banyak berpikir: dari mana semua ini datang? Kita sibuk membangun gedung tinggi, teknologi canggih, dan jalan raya yang lebar — semua hal yang terlihat megah di permukaan. Namun di balik semua kemegahan itu, ada satu fondasi yang menopang seluruh kehidupan bangsa: tanah, benih, dan tangan petani yang bekerja dari fajar hingga senja. Dan sayangnya, justru inilah yang paling sering kita pandang sebelah mata.
Mengapa Sektor Ini Terasa "Terlupakan"?
Banyak di antara kita menganggap pertanian hanyalah urusan menanam dan memanen — pekerjaan yang sederhana, kuno, dan bukan bagian dari kemajuan. Padahal, dari sanalah pangan kita berasal, jutaan keluarga mencari nafkah, dan roda kehidupan berputar. Pandangan sempit ini membuat pertanian selalu ditempatkan di barisan belakang, bukan di posisi terdepan yang seharusnya.
Perhatian dan dana pun mengalir ke tempat lain. Industri, jasa, pembangunan kota — semuanya mendapat dukungan besar. Sementara ladang kekurangan irigasi yang baik, jalan yang menghubungkan desa ke pasar belum memadai, dan teknologi pertanian masih tertinggal. Petani bekerja dengan keringat sendiri, namun hasilnya belum sebanding dengan jerih payahnya.
Dan satu hal yang mengkhawatirkan: anak muda semakin enggan melanjutkan. Citra pertanian dianggap berat, penghasilan belum menentu, dan belum modern. Rata-rata usia petani kita kini sudah di atas 50 tahun. Siapa yang akan menggantikan mereka kelak? Pertanyaan itu belum terjawab.
Selama makanan tersedia di pasar, kita merasa aman. Kita tidak menyadari betapa rapuhnya semuanya — sampai tiba-tiba pasokan menipis atau harga naik tajam. Baru saat itulah kita teringat: ternyata kita sepenuhnya bergantung pada tanah dan tenaga yang selama ini kita lupakan.
Apa yang Terjadi Jika Kita Terus Mengabaikannya?
Jika pertanian dalam negeri tidak kuat, kita terpaksa membeli pangan dari luar. Ketika harga di dunia naik atau pasokan terganggu, meja makan kita ikut terancam. Kita tidak bisa menentukan nasib pangan sendiri — hal yang paling mendasar justru dikendalikan oleh orang lain.
Belum lagi perubahan iklim yang semakin nyata. Cuaca yang tidak menentu, kekeringan, banjir — semuanya langsung menyentuh ladang. Tanpa dukungan teknologi, perawatan lahan, dan persiapan yang matang, produksi pangan bisa turun drastis sewaktu-waktu.
Sementara itu, sebagian besar rakyat yang tinggal di pedesaan dan bergantung pada pertanian belum sejahtera. Mengabaikan sektor ini berarti membiarkan kesenjangan semakin lebar — kemajuan di kota terasa nyata, sementara di desa masih tertatih.
Dan satu hal yang paling mendasar: bangsa yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri, tidak bisa dikatakan benar-benar merdeka. Ketahanan pangan bukan sekadar soal harga atau ketersediaan — ia adalah fondasi kedaulatan negara, sama pentingnya dengan pertahanan diri.
Apa yang Harus Kita Mulai Lakukan?
Sudah saatnya kita mengembalikan pertanian ke tempat yang layak: sebagai urusan paling utama. Dukungan anggaran, pembangunan irigasi, jaminan harga yang adil, serta perlindungan lahan dari pengalihfungsian — semua ini bukan biaya yang sia-sia, melainkan investasi bagi seluruh bangsa.
Pertanian juga harus menjadi pilihan yang menarik bagi generasi muda. Bukan sekadar mengandalkan tenaga fisik, melainkan memadukan teknologi, digitalisasi pasar, serta dukungan modal dan pelatihan. Pertanian modern bisa menjadi usaha yang inovatif, menguntungkan, dan membanggakan — jika kita membangunnya bersama-sama.
Kesadaran ini pun harus tumbuh di setiap rumah. Mengurangi sisa makanan, memilih produk lokal, menghargai setiap butir makanan — itu adalah cara kita mendukung petani dan ketahanan pangan. Pemahaman ini perlu ditanamkan sejak dini, agar tidak ada lagi anak yang tumbuh menganggap pertanian adalah hal yang tidak penting.
Penutup
Pertanian bukan sekadar urusan petani atau urusan dapur — ia adalah urat nadi kehidupan bangsa. Kita tidak boleh menunggu sampai pangan menjadi langka dan mahal baru kemudian sadar. Jika kita terus melupakan tanah yang memberi makan kita, kita sedang mengorbankan masa depan generasi mendatang.
Menghormati tangan yang menanam, menjaga lahan yang memberi kehidupan, dan membangun pertanian yang mandiri — itulah cara paling nyata menjaga kedaulatan dan kesejahteraan seluruh rakyat. Sektor ini tidak boleh lagi "terlupakan".
