Efek Domino Krisis Iklim: Mengapa Harga Barang Makin Mahal dan Langka?

Head of International Affairs and Cooperation at Politeknik Siber Cerdika Internasional
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fahed Syauqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda membayangkan bahwa krisis iklim yang terjadi ribuan kilometer jauhnya bisa menentukan harga ponsel pintar, ketersediaan mobil listrik, hingga stok kopi favorit Anda?
Selama puluhan tahun, dunia bergantung pada Rantai Pasok Global (Global Value Chain). Lewat sistem ini, komponen ponsel pintar Anda bisa saja dibuat di Indonesia, dirakit di Vietnam, diuji di Taiwan, lalu dijual di Eropa. Semua dirancang untuk satu tujuan: efisiensi biaya.
Namun, belakangan ini model ekonomi tersebut mulai goyah. Krisis iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan atau gerakan menanam pohon, melainkan ancaman nyata yang sedang mengacak-acak perdagangan dunia.
Dua Pukulan Utama Krisis Iklim
Mengapa krisis iklim begitu berbahaya bagi bisnis global saat ini? Ada dua pukulan utama yang terjadi secara bersamaan:
1. Jalur Logistik Dunia Lumpuh
Lebih dari 80% barang di dunia diangkut melalui laut. Ketika cuaca ekstrem makin sering terjadi, jalur-jalur vital perdagangan ikut kena dampaknya.
Kekeringan parah, misalnya, sempat membuat air di Terusan Panama surut drastis. Akibatnya, ratusan kapal kargo tertahan berpekan-pekan dan biaya pengiriman melambung tinggi. Ditambah lagi badai ekstrem yang makin sering menghantam pelabuhan-pelabuhan utama di Asia.
2. Aturan Perdagangan Karbon yang Ketat
Selain faktor alam, aturan perdagangan internasional kini makin ketat. Negara-negara maju tidak lagi mau menerima barang yang diproduksi dengan cara "kotor" atau tinggi emisi.
Uni Eropa, contohnya, memberlakukan pajak karbon bagi barang-barang impor padat emisi seperti besi, baja, dan semen. Artinya, barang yang murah tetapi merusak lingkungan akan kalah bersaing di pasar global.
Dilema Indonesia di Rantai Pasok Dunia
Di tengah perubahan ini, Indonesia memegang peran sangat penting. Transisi menuju energi bersih membutuhkan banyak mineral kritis seperti nikel untuk membuat baterai kendaraan listrik dan panel surya.
Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia berada di posisi strategis. Namun, tantangan baru bermunculan. Pasar internasional kini tidak hanya bertanya: "Berapa banyak nikel yang Anda punya?", tetapi juga: "Apakah proses pengolahannya cukup hijau?"
Jika fasilitas pengolahan tambang kita masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara, produk ekspor Indonesia berisiko terkena penalti tarif tinggi atau bahkan ditolak oleh pabrikan kendaraan listrik dunia.
Cara Baru Dunia Berbisnis
Untuk bertahan, lanskap bisnis global kini mulai berubah total:
Tidak Lagi Cuma Cari Murah: Perusahaan kini lebih memilih menumpuk cadangan pasokan dan mencari pemasok yang aman dari bencana alam.
Mencari Mitra "Hijau": Kerja sama perdagangan tidak hanya melihat jarak terdekat, tetapi juga melihat komitmen lingkungan negara mitra.
Lacak Emisi dari Hulu ke Hilir: Perusahaan wajib melaporkan jejak karbon sejak bahan mentah diambil hingga produk sampai di tangan konsumen.
Penutup
Krisis iklim membuktikan bahwa memproduksi barang dengan murah tanpa memedulikan dampak lingkungan sudah tidak zaman lagi.
Bagi Indonesia, transisi ke energi bersih dan menjaga kelestarian lingkungan di kawasan industri bukan sekadar aksi sosial, melainkan syarat utama agar produk kita tetap laku di pasar internasional.
Di masa depan, pemenang persaingan global bukan lagi negara yang menawarkan biaya produksi paling murah, melainkan negara yang punya rantai pasok paling tangguh dan ramah lingkungan.
Referensi
European Commission. (2023). Regulation (EU) 2023/956 of the European Parliament and of the Council of 10 May 2023 establishing a Carbon Border Adjustment Mechanism. Official Journal of the European Union, L 130, 52–104. https://eur-lex.europa.eu/legal-content/EN/TXT/?uri=CELEX:32023R0956
Gereffi, G., Humphrey, J., & Sturgeon, T. (2005). The governance of global value chains. Review of International Political Economy, 12(1), 78–104. https://doi.org/10.1080/09692290500049805
International Energy Agency. (2024). Global critical minerals outlook 2024. IEA Publications. https://www.iea.org/reports/global-critical-minerals-outlook-2024
Intergovernmental Panel on Climate Change. (2023). Climate change 2023: Synthesis report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change (Core Writing Team, H. Lee, & J. Romero, Eds.). IPCC. https://doi.org/10.59327/IPCC/AR6-9789291691647
United Nations Conference on Trade and Development. (2024). Navigating troubled waters: The impact on global trade of disruption to shipping routes in the Red Sea, Black Sea and Panama Canal. UNCTAD. https://unctad.org/publication/navigating-troubled-waters-impact-global-trade-disruption-shipping-routes
