Regenerasi Peternak Sapi Perah di Tengah Tantangan Harga Susu RI

Gerakan Sosial Penciptaan Lapangan Kerja Berbasis Kewirausahaan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari OK OCE tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bandung — Program Global Applied Research hasil kolaborasi OK OCE Indonesia dan USC Marshall School of Business kembali melanjutkan agenda dairy farm group melalui kunjungan ke peternakan sapi perah milik Pak Darsa dan Surya. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan bagi mahasiswa USC Marshall School of Business untuk melihat secara langsung praktik peternakan sapi perah berbasis keluarga di Indonesia.
Di tengah hamparan kawasan peternakan, usaha yang telah berjalan sejak tahun 1982 ini menjadi bukti keberlanjutan bisnis lintas generasi. Saat ini, peternakan Pak Darsa mengelola total 33 ekor sapi, dengan pembagian kepemilikan antara keluarga, di mana Pak Darsa memiliki 25 ekor dan Surya mengelola 8 ekor sapi. Dari sapi yang produktif, peternakan ini mampu menghasilkan sekitar 200 liter susu per hari.
Sistem usaha yang dijalankan menunjukkan pola kemitraan dengan pihak korporasi, di mana operasional peternakan mengikuti standar dan arahan dari perusahaan mitra. Praktik ini telah berjalan lintas tiga generasi dalam keluarga, meskipun pemanfaatan program pemerintah masih tergolong terbatas.
Sosok Surya menjadi perhatian utama dalam kunjungan tersebut. Di usianya yang baru 19 tahun, ia telah mengambil peran penting dalam melanjutkan usaha keluarga yang dirintis oleh kakeknya. Aktivitas hariannya meliputi pemberian pakan, pengelolaan produksi susu, hingga koordinasi pekerja di lapangan.
“Saya ingin usaha ini tetap berjalan dan berkembang. Memang tidak mudah, tapi saya ingin melanjutkan apa yang sudah dibangun keluarga,” ujar Surya.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa USC — Lauditya Malik, Jesse Hutchinson, dan Lucas Oliveira — menggali lebih dalam berbagai aspek operasional, mulai dari praktik perawatan ternak, kesehatan, biaya produksi, manajemen peternakan, hingga sistem pencatatan data individu sapi dan produktivitas susu baik per ekor maupun total produksi. Diskusi ini juga mencakup keuntungan dari penjualan susu kepada pihak korporasi serta berbagai tantangan dalam menjalankan usaha peternakan.
Dalam operasionalnya, peternakan menerapkan pola pemberian pakan berupa rumput sebanyak tiga kali sehari dan konsentrat seperti ampas tahu dua kali sehari. Untuk menekan biaya produksi, peternakan juga melakukan efisiensi dengan mencari rumput secara mandiri serta memanfaatkan ampas tahu sebagai alternatif pakan tambahan.
Hasil produksi susu kemudian dijual kepada pihak korporasi sebagai bagian dari sistem kemitraan yang telah berjalan. Dari sisi ekonomi, usaha ini mampu menghasilkan pendapatan kotor sekitar 32 juta hingga 50 juta per bulan. Namun, keuntungan yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh biaya produksi, khususnya harga pakan yang terus mengalami kenaikan.
“Tantangannya sekarang itu biaya pakan makin tinggi, tapi harga susu tidak banyak berubah. Jadi harus benar-benar efisien supaya tetap bisa jalan,” tambahnya.
Mahasiswa USC juga mengeksplorasi peluang peningkatan produktivitas, khususnya dalam meningkatkan hasil susu per ekor sapi. Mereka menyoroti pentingnya sistem pencatatan data ternak sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa juga merekomendasikan pemanfaatan teknologi, seperti aplikasi atau Artificial Intelligence (AI) untuk membantu pencatatan data dan manajemen perawatan ternak. Awalnya, Surya menyampaikan keraguan terhadap penggunaan teknologi tersebut karena dinilai kurang praktis. Namun, setelah mendapatkan penjelasan mengenai kemudahan penggunaan, termasuk pendekatan berbasis percakapan (conversational tools), ia mulai terbuka untuk mencoba penerapannya di masa depan.
“Ke depan saya ingin mengembangkan usaha ini dan punya peternakan yang lebih besar,” ungkap Surya.
Kunjungan ini memberikan gambaran nyata mengenai dinamika peternakan sapi perah rakyat di Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya regenerasi peternak muda, efisiensi operasional, serta adopsi teknologi dalam meningkatkan produktivitas. Dengan dukungan inovasi, kolaborasi, serta akses terhadap teknologi, sektor peternakan diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
