Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Lebih Mudah Terbuka kepada Orang Tertentu?

Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI

Pernah enggak merasa baru kenal seseorang, tetapi rasanya sudah nyaman untuk cerita banyak hal? Sebaliknya, ada juga orang yang sudah lama kita kenal, tetapi tetap terasa sulit untuk diajak membicarakan hal-hal pribadi.

Padahal, sama-sama manusia dan sama-sama bisa diajak berbicara. Lalu, kenapa kita bisa lebih mudah terbuka kepada orang tertentu?

Ternyata, keterbukaan dalam komunikasi tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa lama kita mengenal seseorang. Ada rasa nyaman, kepercayaan, pengalaman, dan cara seseorang merespons cerita kita.

Rasa Nyaman Membuat Kita Lebih Mudah Bercerita

Salah satu alasan seseorang bisa lebih terbuka adalah karena merasa nyaman saat berbicara.

Ketika berbicara dengan orang yang membuat kita nyaman, kita biasanya tidak terlalu sibuk memikirkan apakah perkataan kita akan dianggap aneh, berlebihan, atau salah. Akhirnya, kita bisa berbicara lebih bebas.

Rasa nyaman ini bisa muncul dari hal-hal sederhana. Misalnya, orang tersebut mau mendengarkan tanpa terburu-buru memotong pembicaraan atau tidak langsung menghakimi ketika kita menceritakan sesuatu.

Karena itu, terkadang bukan siapa yang paling lama kita kenal yang membuat kita paling nyaman, tetapi siapa yang membuat kita merasa aman saat berbicara.

Cara Merespons Juga Berpengaruh

Pernah cerita sesuatu kepada seseorang, lalu jawabannya justru membuat kita malas melanjutkan cerita?

Hal seperti ini bisa terjadi karena respons lawan bicara ikut menentukan apakah kita ingin melanjutkan komunikasi atau tidak.

Misalnya, ketika seseorang sedang bercerita, kita langsung memotong dengan kalimat seperti, “Ah, itu mah biasa.” Meskipun mungkin tidak bermaksud buruk, respons tersebut bisa membuat orang merasa ceritanya tidak dianggap penting.

Sebaliknya, respons sederhana seperti “Terus gimana?” atau “Aku ngerti kenapa kamu merasa begitu” dapat membuat percakapan terasa lebih terbuka.

Artinya, mendengarkan dan memberikan respons yang tepat dapat membangun suasana komunikasi yang lebih nyaman.

Kepercayaan Tidak Muncul dalam Sekali Percakapan

Keterbukaan juga berkaitan dengan kepercayaan. Kita biasanya lebih mudah menceritakan sesuatu kepada orang yang dianggap mampu menjaga cerita tersebut.

Kepercayaan bisa terbentuk dari berbagai pengalaman kecil. Misalnya, ketika seseorang pernah mendengarkan cerita kita tanpa menyebarkannya kepada orang lain.

Semakin sering seseorang menunjukkan bahwa dirinya bisa dipercaya, semakin besar kemungkinan kita merasa nyaman untuk bercerita lebih banyak.

Itulah sebabnya ada orang yang awalnya hanya menjadi teman ngobrol biasa, tetapi lama-kelamaan justru menjadi tempat untuk menceritakan banyak hal.

Kita Juga Mempertimbangkan Pengalaman Sebelumnya

Pengalaman komunikasi sebelumnya dapat memengaruhi cara kita berkomunikasi dengan orang lain.

Kalau sebelumnya kita pernah bercerita kepada seseorang dan mendapatkan respons yang membuat kita merasa tidak nyaman, kita mungkin akan menjadi lebih hati-hati saat ingin terbuka lagi.

Sebaliknya, pengalaman positif dapat membuat kita lebih berani untuk bercerita.

Jadi, keterbukaan seseorang tidak selalu berarti dia pemalu atau tertutup. Bisa saja dia hanya membutuhkan waktu dan pengalaman yang cukup untuk merasa percaya kepada orang lain.

Terbuka Bukan Berarti Harus Menceritakan Semuanya

Keterbukaan dalam komunikasi juga bukan berarti kita harus menceritakan semua hal kepada semua orang.

Setiap orang memiliki batasan pribadi. Ada cerita yang bisa dibagikan kepada teman dekat, ada yang hanya ingin disampaikan kepada keluarga, dan ada pula hal yang memang ingin disimpan sendiri.

Menentukan kepada siapa kita ingin bercerita merupakan bagian dari proses komunikasi.

Karena itu, jika seseorang tidak langsung terbuka kepada kita, belum tentu dia tidak percaya. Mungkin saja dia masih membutuhkan waktu untuk merasa nyaman.

Komunikasi yang Nyaman Dibangun Bersama

Pada akhirnya, keterbukaan bukan hanya tentang siapa yang bercerita, tetapi juga tentang bagaimana kedua orang dalam percakapan membangun rasa nyaman.

Mendengarkan dengan baik, tidak terburu-buru menghakimi, menjaga cerita yang dipercayakan, dan memberikan respons yang sesuai dapat membuat seseorang merasa lebih aman untuk berkomunikasi.

Mungkin itu juga alasan mengapa kita memiliki orang-orang tertentu yang terasa lebih mudah diajak cerita. Bukan selalu karena mereka memiliki jawaban terbaik, tetapi karena kita merasa didengarkan ketika berbicara dengan mereka.

Dalam komunikasi, rasa nyaman sering kali menjadi awal dari munculnya kepercayaan.