Konten dari Pengguna

Lamine Yamal Mulai Masuk Zona Messi: Brace Ketiga Beruntun di La Liga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat dengan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat dengan AI

Jika ada satu pemain yang membuat musim 2026/27 terasa berbeda dari semua musim sebelumnya, itu adalah Lamine Yamal.

Sebulan setelah mengangkat trofi Piala Dunia di MetLife Stadium, penyerang Barcelona berusia 19 tahun ini kembali ke La Liga dan langsung melanjutkan dari tempat ia berhenti. Tiga laga pertama kompetisi domestik musim ini, tiga kali brace. Angka yang bahkan membuat media Spanyol mulai menggunakan frasa yang selama bertahun-tahun hanya disematkan untuk satu nama.

Media menyebut Yamal mulai masuk zona Lionel Messi. Di usia 19 tahun. Di bulan September.

Tiga Brace, Lima Laga, Pemimpin Klasemen.

La Liga 2026/27 baru memasuki pekan keenam, dan Yamal sudah berbagi posisi sebagai top skor bersama Mbappe, Raphinha, dan Sergio Camello dengan enam gol masing-masing. Angka itu lahir dari tiga brace berturut-turut, sebuah konsistensi yang jarang dimiliki pemain di usia manapun, apalagi di usia 19 tahun di liga terkuat di dunia saat ini.

Barcelona sendiri mengawali musim dengan sempurna. Lima laga, lima kemenangan, termasuk kemenangan tandang 5-0 atas Valencia dan kemenangan 5-2 atas Rayo Vallecano, menjadikan Barca tim dengan tren kemenangan terpanjang di awal musim. Di balik permainan kolektif yang diracik Hansi Flick, Yamal adalah mesin yang menggerakkan ancaman dari sisi kanan dengan cara yang tidak dimiliki pemain lain di dunia hari ini.

Yang lebih menarik, produktivitas Yamal di La Liga berjalan paralel dengan peran pentingnya di Liga Champions. Barcelona memulai kampanye UCL dengan kemenangan atas Atletico Madrid, dan Yamal kembali terlibat langsung dalam kreasi peluang yang berujung gol.

Bukan Kebetulan, Ini Sistem.

Ada yang berubah dari Yamal musim ini dibanding Piala Dunia, dan perubahannya justru lebih mengkhawatirkan bagi lawan. Di Piala Dunia, ia bermain sebagai ancaman tanpa gol langsung, perannya lebih sebagai magnet yang membuka ruang bagi rekan. Di La Liga musim ini, ia menjadi keduanya sekaligus: magnet dan pencetak gol.

Hansi Flick membangun sistem yang memberi Yamal kebebasan bergerak masuk ke dalam, bukan hanya melebar. Dengan Raphinha di sisi kiri dan Ferran Torres atau Robert Lewandowski di tengah sebagai opsi sekunder, lawan tidak bisa sekadar menumpuk bek di sisi kanan untuk menghentikannya. Pilihan pertama, kedua, dan ketiga semuanya berbahaya.

Tiga brace dalam tiga laga beruntun bukan hanya soal bakat yang meledak. Ini tanda bahwa sistem di sekitar Yamal sudah cukup matang untuk memaksimalkan kemampuannya secara konsisten, bukan hanya sesekali.

Zona Messi: Label yang Berat, tapi Tidak Salah.

Membandingkan pemain mana pun dengan Messi adalah standar yang hampir tidak mungkin dipenuhi. Messi adalah ukuran tertinggi dalam sepak bola modern, dan membawa nama itu di usia 19 tahun adalah beban yang bisa menghancurkan jika tidak dikelola dengan benar.

Tapi ada alasan mengapa perbandingan itu mulai muncul, bukan hanya karena angka golnya, melainkan karena cara Yamal bermain. Ia mencetak gol dari sudut yang tidak masuk akal. Ia membuat keputusan dalam sepersekian detik yang bahkan pelatihnya tidak selalu bisa antisipasi. Dan ia melakukannya dengan ekspresi yang sama tenangnya seperti saat mengikat tali sepatu.

Messi butuh beberapa musim untuk mencapai konsistensi seperti ini di level senior. Yamal melakukannya di musim pertamanya setelah juara Piala Dunia, di usia 19 tahun, enam hari setelah ulang tahunnya. Perbandingan itu tidak salah. Yang salah hanya ekspektasi bahwa semuanya akan berlangsung tanpa hambatan.

Tiga brace berturut-turut di La Liga bukan kebetulan, bukan juga euforia pasca-Piala Dunia yang akan memudar. Lamine Yamal sedang dalam lintasan yang berbeda dari semua pemain muda sebelumnya di Barcelona, dan mungkin di dunia. Barcelona memimpin klasemen La Liga, dan selama Yamal bermain seperti ini, sangat sulit membayangkan siapa yang bisa menghentikan mereka. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan menjadi salah satu pemain terbaik di dunia. Pertanyaannya adalah seberapa cepat.