Andaikan 'Simsalabim' Bisa Musnahkan Semua Virus, Akankah Hidup Jadi Lebih Baik?
Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan kamu bisa memusnahkan semua virus di muka Bumi ini. Bayangkan, kamu bertemu dengan jin baik dari sebuah teko ajaib, dan simsalabim, kamu telah membuat semua virus hilang.
Dan dalam seketika, virus polio hilang. Virus ebola yang sangat mematikan hilang. Virus rabies tiba-tiba hilang. Virus campak, virus gondongan, dan berbagai jenis virus influenza juga ikut hilang.
HIV hilang, dan bencana AIDS tidak pernah terjadi. Dengue hilang, semua virus rotavirus yang telah menyebabkan ratusan ribu anak-anak di negara berkembang meninggal setiap tahun, lenyap.
Virus Zika, demam kuning, serta Herpes B yang kerap dibawa oleh kawanan kera dan seringkali berakibat fatal jika ditularkan kepada manusia, hilang. Tidak ada lagi yang menderita cacar air, hepatitis, herpes zoster, bahkan flu biasa.
Virus SARS tahun 2003 yang menandai era pandemi modern, lenyap. Dan tentu saja virus SARS-CoV-2 yang telah membunuh lebih dari dua juta orang, hilang.
Apakah kamu merasa dunia menjadi lebih baik?
Sayangnya, semuanya tidak sesederhana itu. Kamu tak akan bisa membuat dunia menjadi lebih baik dari sekarang dengan memusnahkan semua virus yang ada.
Hidup di Dunia Virus
Mengutip artikel David Quammen yang dimuat Majalah National Geographic, hubungan antara dunia dan virus lebih kompleks dan rumit dari yang pernah kita bayangkan. Fakta yang harus kita terima: kita hidup di dunia virus, virus yang sangat beragam dan melimpah.
Lautan saja, mungkin mengandung lebih banyak partikel virus ketimbang bintang di alam semesta yang dapat diamati. Mamalia bisa membawa setidaknya 320 ribu spesies virus berbeda di dalam tubuhnya. Dan di luar angka-angka besar itu, ada konsekuensi besar: banyak dari virus tersebut membawa manfaat adaptif bagi kehidupan di Bumi termasuk kehidupan manusia.
Kita tidak akan bisa melanjutkan kehidupan tanpa virus. Ada DNA yang berasal dari virus dan sekarang berada dalam genom manusia dan primata lainnya. Yang tanpa virus itu, maka kehamilan pada manusia dan primata lain tidak mungkin terjadi.
Ada DNA virus yang terletak di antara gen-gen hewan darat yang membantu menyimpan ingatan dalam gelembung protein kecil. Sementara gen-gen lain yang dikooptasi dari virus berkontribusi pada pertumbuhan embrio, mengatur sistem kekebalan, hingga melawan kanker.
Virus ternyata memainkan peran penting dalam memicu transisi evolusi besar. Singkirkan semua virus seperti yang kamu bayangkan tadi, dan kehidupan akan berhenti.
Memang benar, virus adalah parasit. Tetapi kadang parasitisme itu bersifat sebagai simbiosis saling ketergantungan dan menguntungkan. Seperti api, virus adalah fenomena yang tidak dalam semua kasus baik atau buruk, mereka dapat memberikan keuntungan sekaligus kehancuran.
Semua tergantung pada virus, situasinya, serta titik acuan manusia. Virus ibarat malaikat dalam kegelapan evolusi, hebat dan mengerikan. Karena itu, mereka menjadi sangat menarik.
Sulitnya Mendefinisikan Virus
Untuk memahami keragaman virus, kita harus memulai dengan dasar-dasar apa itu virus dan apa yang bukan. Dan faktanya, lebih mudah untuk menyebutkan apa yang bukan bagian dari mereka.
Mereka bukanlah sel hidup, melainkan sebuah sel dari jenis yang dirakit dalam jumlah besar untuk membentuk tubuh kita, binatang, dan makhluk hidup lain. Mereka berada dalam sebuah ‘mesin’ yang sangat rumit untuk membangun protein, mengemas energi, serta melakukan fungsi khusus lainnya tergantung pada apakah sel itu tinggal.
Bakteri juga merupakan sel dengan atribut serupa meski jauh lebih sederhana, tapi virus tidak termasuk bakteri. Sulit memahami virus, bahkan sekadar untuk mendefinisikannya.
Martinus Beijerinck, seorang ahli botani Belanda yang mempelajari virus mosaik tembakau, berspekulasi pada 1898, bahwa virus adalah cairan yang dapat menular. Untuk sementara waktu, virus ditentukan terutama oleh ukurannya: sesuatu yang jauh lebih kecil dari bakteri, tetapi mirip seperti bakteri, dan dapat menyebabkan penyakit.
Belakangan, virus dianggap sebagai agen submikroskopis, yang hanya mengandung genom yang sangat kecil dan bereplikasi di dalam sel hidup. Tetapi itu hanya langkah pertama menuju pemahaman yang lebih baik, nyatanya masih lebih banyak yang belum diketahui tentang virus ketimbang yang sudah.
Ahli Mikrobiologi Prancis, Andre Lwoff dalam esai terkenalnya yang berjudul ‘The Concept of Virus’ yang diterbitkan tahun 1957, mengatakan bahwa virus adalah virus. Tentu itu bukan definisi yang banyak memberikan pencerahan.
Lwoff tahu, bahwa virus lebih mudah dideskripsikan ketimbang didefinisikan. Setiap virus terdiri atas rangkaian instruksi genetik yang dikemas di dalam kapsul protein atau dikenal sebagai kapsid.
Dalam beberapa kasus, kapsid dikelilingi oleh selaput membran yang melindungi dan membantunya menangkap sel. Virus dapat menggandakan dirinya dengan memasuki sel dan mengambil alih mesin cetak 3D yang mengubah informasi genetik menjadi protein.
Jika sel inang tidak beruntung, akan banyak partikel virus baru yang diproduksi dan mereka akan keluar meninggalkan sel inang sebagai puing-puing. Kerusakan seperti ini yang juga disebabkan oleh SARS-CoV-2 pada pasien COVID-19. Dalam kondisi seperti ini, virus menjelma menjadi patogen.
Tapi jika sel inang beruntung, mungkin virus akan menetap. Kemungkinan ini akan membawa banyak implikasi untuk pencampuran genom untuk evolusi, bahkan untuk rasa identitas kita sebagai manusia.
Pengetahuan tentang virus masih terbatas pada berita buruk seperti flu dan COVID-19 seperti sekarang. Tapi hari ini, beberapa virus diketahui memberikan manfaat. (Widi Erha Pradana / YK-1)

