Konten dari Pengguna

Bioetanol dan Ketahanan Nasional: Energi Menjadi Benteng Kedaulatan Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pangiutan Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Ilustrasi Produksi Bioethanol (Dok: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Produksi Bioethanol (Dok: Istimewa)

Ketahanan energi semakin tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi merupakan bagian integral dari keamanan nasional. Ketergantungan terhadap energi fosil dan impor membuat suatu negara rentan terhadap gejolak geopolitik, konflik kawasan, gangguan rantai pasok, hingga fluktuasi harga energi dunia. Karena itu, langkah Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mengembangkan bioetanol berbasis multi-feedstock dan multi-generation di Lampung memiliki arti strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar pengembangan energi terbarukan.

Pertamina NRE melalui Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, membangun fasilitas pilot yang mencakup pengembangan bahan baku, budidaya, pengujian teknologi hingga validasi proses produksi. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas hingga 60 kiloliter per tahun dan diproyeksikan menjadi basis pengujian sebelum pengembangan menuju skala demonstrasi dan komersial. Yang menarik, pendekatan yang digunakan tidak bergantung pada satu jenis bahan baku, melainkan mengembangkan sorgum, singkong, jagung dan biomassa lainnya.

Dari perspektif keamanan nasional, strategi multi-feedstock merupakan bentuk diversifikasi sumber energi domestik. Ketika suatu negara hanya bergantung pada satu sumber energi atau satu rantai pasok, maka gangguan terhadap sumber tersebut dapat berkembang menjadi ancaman ekonomi dan sosial. Sebaliknya, pemanfaatan berbagai komoditas pertanian dan biomassa membuat sistem energi nasional lebih adaptif. Sorgum, misalnya, tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan bioetanol generasi pertama melalui niranya, tetapi biomassa yang tersisa dapat dikembangkan menjadi bahan baku bioetanol generasi kedua. Konsep ini membuat satu komoditas dapat menghasilkan nilai energi yang lebih besar.

Lebih jauh, bioetanol berpotensi menciptakan rantai ketahanan nasional dari desa hingga industri. Pengembangan energi berbasis pertanian berarti petani tidak lagi hanya ditempatkan sebagai produsen komoditas pangan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem energi nasional. Kerja sama Pertamina NRE dengan Pemerintah Provinsi Lampung untuk mengembangkan agribisnis, ketahanan energi dan pangan menunjukkan bahwa kebijakan energi dapat sekaligus menjadi instrumen pembangunan wilayah. Jika dikelola dengan baik, model ini dapat memperkuat ekonomi daerah sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.

Target produksi hingga 1 juta kiloliter bioetanol per tahun karena itu harus dilihat sebagai agenda strategis nasional. Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang besar, tetapi tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas produksi yang konsisten, ekonomis dan berkelanjutan. Di sinilah teknologi generasi pertama dan kedua menjadi penting. Pengembangan teknologi 2G memungkinkan biomassa atau residu pertanian yang sebelumnya kurang bernilai dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Dengan demikian, hilirisasi tidak berhenti pada komoditas, tetapi bergerak menuju hilirisasi energi dan teknologi.

Pada akhirnya, bioetanol harus ditempatkan sebagai bagian dari arsitektur ketahanan energi nasional. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan lahan dan bahan baku, kepastian regulasi, insentif investasi, riset teknologi, infrastruktur distribusi serta integrasi dengan kebijakan energi dan industri nasional. Indonesia tidak boleh menunggu krisis energi global baru kemudian membangun alternatif. Ketahanan nasional justru dibangun ketika negara mampu mengantisipasi ancaman sebelum menjadi krisis. Dalam konteks tersebut, bioetanol bukan sekadar bahan bakar alternatif, melainkan salah satu instrumen untuk memperkuat kedaulatan energi Indonesia di tengah dunia yang semakin penuh ketidakpastian.