Konten dari Pengguna

Jebakan 'Overthinking': Saat Otak Terjebak Hiperaktivitas DMN

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pekik Aulia Rochman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Ruslan Alekso. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Ruslan Alekso. Sumber: pexels.com

Pernahkah Anda merasa sangat lelah secara batin, padahal sepanjang hari Anda tidak melakukan aktivitas fisik yang berat? Atau pernahkah Anda mendapati diri Anda terjebak dalam pusaran pikiran yang berputar-putar tanpa henti—memutar ulang percakapan masa lalu yang canggung, membayangkan skenario terburuk di masa depan, atau terus-menerus mempertanyakan harga diri Anda—justru di saat Anda sedang berniat untuk beristirahat?

Masyarakat modern sering melabeli kondisi ini secara sederhana sebagai overthinking. Namun, di dalam kacamata neurosains kognitif, fenomena ini bukanlah sekadar kebiasaan "banyak berpikir". Ini adalah indikasi klinis dan biologis dari sebuah jaringan di dalam otak kita yang sedang mengalami over-kapasitas: Default Mode Network (DMN) yang mengalami hiperaktivitas.

Memahami Default Mode Network: Pedang Bermata Dua

Default Mode Network (DMN) adalah sirkuit saraf berskala besar di dalam otak—melibatkan area medial prefrontal cortex, posterior cingulate cortex, dan hippocampus—yang secara otomatis mengandalkan aktivitasnya saat seseorang sedang tidak berfokus pada tugas eksternal tertentu. DMN adalah sakelar otomatis yang menyala ketika kita sedang melamun, berjalan santai, mendengarkan musik, atau beristirahat sejenak dari layar komputer.

Secara evolusioner, DMN diciptakan sebagai instrumen yang sangat luhur. Dalam kondisi seimbang dan sehat, DMN membantu manusia melakukan refleksi diri yang positif (constructive self-reflection), mengonsolidasikan memori masa lalu menjadi hikmah kehidupan, merancang masa depan, serta mengasah pemahaman kognitif empati (theory of mind). Tanpa DMN, manusia tidak akan memiliki kapasitas untuk mencipta seni, menulis narasi filosofis, atau memikirkan makna keberadaannya.

Namun, DMN bisa berubah menjadi pedang bermata dua yang sangat merusak. Ketika DMN disusupi oleh kecemasan terselubung (shadow anxiety)—yaitu trauma yang belum terurai, rasa tidak aman yang ditekan, atau ketakutan akan penolakan—sirkuit ini tidak lagi menjalankan tugas refleksi, melainkan terjebak dalam hiperaktivitas ruminasi.

Anatomi Hiperaktivitas DMN: Dari Refleksi Menjadi Penjara Batin

Bagaimana cara membedakan antara refleksi diri yang sehat dengan hiperaktivitas DMN yang merusak? Perbedaannya terletak pada arah dan kualitas narasi internal di dalam kepala kita.

  1. Ruminasi Berulang (The Loop of Regret):

    DMN yang terdistorsi akan memutar rekaman peristiwa pahit atau kesalahan masa lalu secara berulang-ulang tanpa solusi. Pikiran seperti "Mengapa kemarin aku mengambil keputusan itu?" atau "Mengapa tatapan kawan kerjaku tadi begitu dingin?" diputar terus-menerus. Otak terjebak dalam simulasi penyesalan yang tidak bisa diubah.

  2. Proyeksi Masa Depan yang Paranoik (Catastrophizing):

    Bukannya merencanakan masa depan dengan optimis, DMN hiperaktif justru meracik skenario-skenario kegagalan yang belum tentu terjadi. Amigdala—pusat emosi ancaman—terpancing untuk melepaskan hormon stres kortisol secara konstan, membuat tubuh merasa seolah-olah bencana sedang terjadi detik ini juga.

  3. Narsisme Negatif (Hyper-Self-Consciousness):

    DMN hiperaktif membesarkan ego secara destruktif. Seseorang merasa seolah-olah seluruh dunia sedang memperhatikan, menilai, dan menghakimi kekurangannya. Ia kehilangan kapabilitas untuk terdiferensiasi secara emosional dari opini orang lain.

Kondisi hiperaktif ini memicu kelelahan neurobiologis yang amat sangat. Otak manusia membakar hingga 20 persen energi metabolik tubuh. Saat DMN terus-menerus membakar kalori hanya untuk memutar balik ketakutan-ketakutan maya, tidak mengherankan jika seseorang merasa habis tenaga secara fisik dan mental meski hanya duduk diam seharian.

Mematikan Sakelar DMN: Dari Ruminasi Menuju Kedaulatan Batin

Dalam kajian neuro-psikologi, kita tidak bisa menghentikan overthinking hanya dengan memerintahkan otak untuk "berhenti berpikir". Semakin kita memaksa otak untuk diam, DMN justru akan merespons dengan kewaspadaan yang lebih tinggi.

Untuk menjinakkan hiperaktivitas DMN, kita harus belajar memindahkan aktivitas listrik otak secara sadar dari DMN menuju Central Executive Network (CEN)—jaringan otak yang bertanggung jawab atas kesadaran penuh, tugas eksternal, dan eksekusi tindakan.

Ada tiga langkah praktis dan neuro-biologis yang dapat kita lakukan untuk merebut kembali kedaulatan batin kita:

  1. Melakukan Penjangkaran Sensorik (Sensory Grounding):

    Ketika pikiran mulai berputar liar, tarik perhatian Anda secara tegas ke alam fisik saat ini. Rasakan telapak kaki yang menyentuh lantai, amati tekstur meja di depan Anda, atau dengarkan secara detail suara angin di sekitar. Stimulasi sensorik langsung memaksa otak menyalakan CEN dan secara otomatis meredam aktivitas DMN.

  2. Mengalirkan Narasi Lewat Tulisan (Expressive Writing):

    Ruminasi terjadi karena otak menganggap ada "ancaman tak terurai" yang harus terus diingat. Dengan menuliskan kecemasan tersebut secara jujur di atas kertas, kita sedang mentransfer beban dari DMN menuju analisis prefrontal cortex. Begitu ide atau ketakutan itu tertuang dalam bentuk teks fisik, sirkuit ruminasi akan mengendur secara alami.

  3. Aktivitas Motorik Berbasis Kehadiran (Mindful Action):

    Alih-alih melamun di atas tempat tidur saat cemas, mulailah bergerak secara fisik. Merapikan kamar, berjalan kaki tanpa melihat telepon genggam, atau berolahraga ringan. Aktivitas motorik yang membutuhkan koordinasi tubuh secara otomatis merebut bandwidth kognitif dari DMN.

Penutup: Merebut Kembali Kendali Istirahat

Kesejahteraan jiwa yang sejati bukanlah kondisi di mana hidup kita sepenuhnya bebas dari masalah, melainkan kemampuan kita untuk menjadi penguasa atas rumah pikiran kita sendiri.

Default Mode Network adalah anugerah luar biasa yang memungkinkan manusia untuk bercermin, beriman, dan mencipta. Namun, tanpa kesadaran sadar untuk mengendalikannya, ia dapat berubah menjadi ruang gelap yang menyandera kebahagiaan kita.

Sebelum kecemasan terselubung mengikis imunitas batin kita lebih dalam, mari belajar untuk kembali hadir secara utuh di sini dan saat ini. Sebab pada akhirnya, kedaulatan batin yang sejati bermula saat kita mampu mematikan riuh rendah di dalam kepala, dan kembali memeluk keheningan hidup dengan dada yang lapang.