Konten dari Pengguna

Di Balik Kata “Terserah”: Perempuan, Perasaan, dan Luka yang Tak Pernah Terucap

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Petraman Anugrah Laoli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar dari AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar dari AI

Saya dulu mengira kata “terserah” hanyalah jawaban netral—sebuah bentuk kebebasan memilih, atau mungkin tanda tidak ingin ikut campur. Namun, semakin sering saya mendengarnya, terutama dari perempuan, saya mulai curiga: kata ini tidak sesederhana kelihatannya. Ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Ada perasaan yang tidak benar-benar selesai.

Dalam banyak percakapan, “terserah” muncul bukan karena seseorang tidak punya pendapat, melainkan karena pendapat itu tidak lagi dianggap penting. Kata ini lahir setelah beberapa kali suara diabaikan, setelah keinginan dianggap berlebihan, atau setelah emosi dicap terlalu sensitif. Pada titik tertentu, diam terasa lebih aman daripada terus menjelaskan.

Saya melihat ini terjadi berulang kali. Dalam hubungan personal, perempuan sering kali diminta untuk mengerti lebih dulu, mengalah lebih dulu, dan menjaga suasana agar tetap baik-baik saja. Ketika mereka akhirnya memilih diam dan berkata “terserah”, diam itu justru disalahpahami sebagai ketidakpedulian. Padahal, sering kali itulah bentuk kelelahan emosional.

Budaya kita—sadar atau tidak—masih memelihara ekspektasi tertentu terhadap perempuan. Perempuan yang dianggap baik adalah yang tidak banyak menuntut, tidak terlalu vokal, dan tidak membuat keadaan menjadi rumit. Pujian seperti “dewasa”, “pengertian”, atau “nggak ribet” terdengar manis, tetapi di baliknya tersimpan tuntutan untuk terus menekan perasaan sendiri.

Akibatnya, kejujuran emosional menjadi barang mahal. Banyak perempuan belajar sejak dini bahwa menyampaikan apa yang dirasakan bisa berujung pada konflik, penilaian, atau pengabaian. Maka, “terserah” menjadi bahasa kompromi—cara paling halus untuk tetap bertahan tanpa harus berdebat.

Yang sering luput dipahami, “terserah” bukan berarti tidak peduli. Justru sering kali kata itu diucapkan oleh mereka yang terlalu peduli, sampai akhirnya lelah. Ada harapan yang tidak terjawab, ada kebutuhan yang tidak diberi ruang, dan ada luka-luka kecil yang terus dibiarkan menumpuk.

Dalam relasi apa pun, persoalan seperti ini tidak bisa terus dianggap sepele. Perasaan yang ditekan tidak akan hilang dengan sendirinya. Ia bisa berubah menjadi jarak, menjadi sikap dingin, atau menjadi ledakan emosi yang datang tanpa aba-aba. Kita sering heran ketika sebuah hubungan tiba-tiba merenggang, tanpa menyadari bahwa retaknya sudah dimulai sejak lama—sejak kata “terserah” pertama kali diucapkan tanpa benar-benar didengarkan.

Tulisan ini bukan tentang menyalahkan satu pihak. Lebih dari itu, ini adalah ajakan untuk bercermin. Mungkin kita terlalu cepat merasa sudah mendengar, padahal belum sungguh-sungguh memahami. Mungkin kita terlalu sibuk mencari keputusan, tanpa sempat bertanya perasaan di baliknya.

Kadang, yang dibutuhkan bukan jawaban cepat, melainkan satu pertanyaan sederhana: “Kamu sebenarnya mau apa?” Dan yang lebih penting, kesiapan untuk menerima jawabannya—apa pun itu.

Sebab di balik kata “terserah”, ada manusia yang ingin dimengerti. Dan memahami, di dunia yang semakin bising oleh ego dan asumsi, adalah bentuk kepedulian yang paling langka.

Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas, Prodi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer.