Media Sosial, Tempat Kita Merasa Paling Benar

Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas - Prodi Teknik Informatika - Fakultas Ilmu Komputer
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Petraman Anugrah Laoli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya sering bertanya-tanya, sejak kapan kita begitu mudah merasa paling benar. Bukan karena benar-benar memahami persoalan, melainkan karena linimasa memberi kita keyakinan. Cukup dengan satu unggahan, satu potongan video, atau satu narasi yang ramai dibagikan, kita seolah sudah memiliki dasar moral untuk menentukan siapa yang salah dan siapa yang pantas disalahkan.
Media sosial memang memberi ruang bagi siapa saja untuk bersuara. Namun, di ruang yang serba cepat ini, pendapat sering kali lahir lebih cepat daripada pikiran. Kita bereaksi sebelum mencerna, berkomentar sebelum memahami, dan menghakimi sebelum tahu konteks. Kecepatan menjadi nilai utama, sementara kedalaman perlahan ditinggalkan.
Saya menyadari bahwa rasa paling benar itu sering datang dari validasi. Ketika pendapat kita disukai, dibagikan, dan diamini banyak orang, ada kepuasan tersendiri yang sulit disangkal. Seolah-olah jumlah dukungan bisa menggantikan proses berpikir. Padahal, kebenaran tidak selalu berada di pihak yang paling ramai. Ia sering justru sunyi, tidak menarik, dan menuntut kesabaran untuk dipahami.
Masalah lain yang muncul adalah hilangnya empati. Di balik setiap isu yang viral, hampir selalu ada manusia nyata dengan kehidupan yang kompleks. Namun, di media sosial, manusia kerap direduksi menjadi potongan kesalahan. Kita lupa bahwa satu kekeliruan tidak pernah mewakili keseluruhan diri seseorang. Kesalahan diperlakukan sebagai identitas, bukan sebagai bagian dari proses belajar.
Perbedaan pendapat pun semakin sulit diterima. Tidak sepakat dianggap tidak berpihak. Bertanya dianggap membela yang salah. Diskusi berubah menjadi ajang pembuktian moral. Dalam kondisi seperti ini, media sosial tidak lagi menjadi ruang dialog, melainkan ruang gema—tempat kita hanya mendengar apa yang ingin kita dengar.
Yang lebih mengkhawatirkan, kebiasaan merasa paling benar ini tidak berhenti di layar. Ia merembes ke kehidupan sehari-hari. Kita menjadi lebih cepat menghakimi, lebih lambat mendengar, dan semakin enggan mengakui kemungkinan bahwa kita bisa keliru. Padahal, kemampuan untuk meragukan diri sendiri adalah tanda kedewasaan berpikir, bukan kelemahan.
Saya tidak menulis ini untuk menempatkan diri sebagai pihak yang paling sadar. Saya pun bagian dari keramaian itu. Pernah ikut bereaksi, pernah merasa benar, dan baru belakangan menyadari betapa mudahnya nurani tergeser oleh euforia opini. Media sosial tidak pernah memaksa kita untuk menghakimi; kitalah yang melakukannya sendiri, dengan sukarela.
Mungkin yang perlu kita perbaiki bukanlah seberapa keras kita bersuara, melainkan seberapa dalam kita berpikir. Bukan seberapa cepat kita bereaksi, tetapi seberapa jujur kita mau memahami. Sebab, di tengah kebisingan klaim kebenaran, sikap paling berani justru adalah berhenti sejewnak dan bertanya: jangan-jangan, saya belum sepenuhnya benar.
Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas, Prodi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer.
