Semua Orang Tua Memiliki Mimpi yang Sama untuk Anaknya

A dad with 2 kid
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Petrus Fransiskus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh sehat, bersekolah dengan baik, dan memiliki masa depan yang lebih cerah daripada kehidupan yang mereka jalani sekarang. Bagi keluarga yang hidup berkecukupan, harapan itu mungkin terasa wajar. Namun, bagi kami yang harus berhitung sebelum membelanjakan uang, mewujudkan harapan sederhana tersebut membutuhkan perjuangan setiap hari.
Saya tinggal di Medan dan memiliki dua anak. Anak pertama sudah duduk di bangku SMP, sedangkan adiknya masih SD. Keduanya sedang berada dalam masa pertumbuhan, ketika tubuh membutuhkan asupan makanan yang cukup dan pikiran mereka perlu mendapat dukungan agar bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Sebagai orang tua, saya ingin memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Sayangnya, keinginan itu tidak selalu mudah diwujudkan ketika penghasilan keluarga harus dibagi untuk berbagai keperluan.
Setiap bulan, ada kebutuhan rumah tangga yang tidak bisa ditunda. Uang belanja untuk membeli beras, minyak goreng, telur, ikan, dan sayuran harus tersedia. Belum lagi biaya listrik, transportasi, perlengkapan sekolah, serta kebutuhan lain yang muncul sewaktu-waktu. Ketika semua pengeluaran itu dikumpulkan, saya harus benar-benar cermat mengatur uang agar tidak habis sebelum waktunya.
Dalam keadaan seperti ini, menjadi orang tua bukan hanya soal bekerja mencari nafkah. Kami juga harus pandai menentukan kebutuhan mana yang harus didahulukan, mana yang bisa ditunda, dan bagaimana menyisihkan sedikit uang untuk keperluan anak-anak di masa depan.
Saya percaya, banyak orang tua di luar sana mengalami hal serupa. Kami mungkin memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan keadaan keluarga yang berbeda. Namun, ada satu keinginan yang sama: jangan sampai keterbatasan ekonomi hari ini menghalangi anak-anak kami untuk tumbuh sehat dan meraih cita-cita.
Perjuangan di Balik Uang Saku Anak
Salah satu hal yang kerap terlihat sederhana, tetapi cukup terasa dalam pengeluaran keluarga, adalah uang saku anak sekolah.
Bagi sebagian orang, memberikan uang saku setiap pagi mungkin tidak menjadi persoalan besar. Namun, bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan, pengeluaran kecil yang berulang setiap hari tetap perlu diperhitungkan. Apalagi ketika ada dua anak yang bersekolah dan sama-sama membutuhkan uang untuk keperluan mereka.
Anak-anak tentu punya keinginan sendiri. Ketika melihat teman-temannya membeli jajanan di sekolah, mereka pun ingin ikut menikmati hal yang sama. Saya memahami keinginan itu. Mereka masih anak-anak yang ingin bermain, berkumpul bersama teman, dan sesekali membeli makanan yang menarik perhatian.
Akan tetapi, sebagai orang tua, saya juga harus memikirkan apa yang mereka konsumsi. Tidak semua jajanan yang dijual di sekitar sekolah dapat saya pastikan kandungan gizi dan kebersihannya. Saya tentu lebih senang jika anak-anak mendapatkan makanan yang cukup bergizi daripada sekadar kenyang setelah membeli jajanan.
Persoalannya, memberikan pemahaman kepada anak tidak selalu mudah. Mereka belum sepenuhnya mengerti mengapa orang tua perlu membatasi pengeluaran atau mengapa makanan tertentu lebih baik daripada makanan lainnya. Terkadang, larangan membeli jajanan justru membuat mereka merasa tidak bisa menikmati hal yang sama dengan teman-temannya.
Di sinilah saya menyadari bahwa persoalan makanan anak bukan hanya tanggung jawab keluarga. Orang tua memang memegang peranan utama dalam mendidik dan memenuhi kebutuhan anak, tetapi lingkungan sekolah dan dukungan pemerintah juga dapat membantu menciptakan kebiasaan yang lebih baik.
Karena itu, saya melihat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu bentuk dukungan yang patut dipertahankan dan terus diperbaiki. Program ini memberikan sesuatu yang sangat berarti bagi keluarga seperti kami: kepastian bahwa anak memperoleh makanan di sekolah, tanpa harus menambah pengeluaran untuk membeli makanan tersebut setiap hari.
Bagi orang lain, satu porsi makanan mungkin terlihat biasa. Namun, bagi orang tua yang harus mengatur uang dengan cermat, manfaatnya terasa nyata.
Pengeluaran Berkurang, Ada Ruang untuk Menabung
Sejak anak mendapatkan MBG di sekolah, ada perubahan dalam cara saya mengatur uang saku mereka. Kebutuhan untuk membeli jajanan tidak lagi sebesar sebelumnya. Anak-anak juga memiliki alasan yang lebih kuat untuk tidak terlalu sering meminta uang tambahan demi membeli makanan di luar.
Tentu, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa MBG membuat seluruh persoalan pengeluaran keluarga selesai. Kami tetap harus menyediakan makanan di rumah, membayar kebutuhan sehari-hari, dan memenuhi berbagai keperluan sekolah. Anak-anak pun tetap memerlukan uang untuk transportasi atau kebutuhan lain sesuai keadaan masing-masing.
Namun, ketika sebagian kebutuhan makan mereka di sekolah sudah terbantu, ada ruang bagi saya untuk mengatur pengeluaran dengan lebih leluasa.
Uang yang sebelumnya mungkin habis untuk tambahan uang jajan bisa dialihkan untuk keperluan lain. Sedikit demi sedikit, saya bisa mencoba menyisihkan uang untuk kebutuhan sekolah yang akan datang, membeli buku, mengganti perlengkapan yang rusak, atau menghadapi pengeluaran mendadak.
Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kesempatan menabung tidak selalu berarti menyimpan uang dalam jumlah besar. Kadang-kadang, menyisihkan sedikit uang secara rutin saja sudah menjadi pencapaian tersendiri. Yang penting, kami memiliki kesempatan untuk mempersiapkan kebutuhan berikutnya tanpa harus selalu merasa khawatir.
Saya membayangkan kebutuhan anak pertama ketika memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi nanti. Akan ada biaya perlengkapan sekolah, buku, transportasi, dan berbagai kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Adiknya pun kelak akan mengalami hal serupa. Semua itu membutuhkan persiapan sejak sekarang.
Kami tidak ingin anak-anak harus mengurangi cita-citanya hanya karena orang tuanya belum memiliki cukup uang. Kami ingin mereka memiliki kesempatan untuk belajar dengan tenang, mengembangkan kemampuan, dan memilih masa depan sesuai potensi mereka.
Itulah mengapa manfaat MBG tidak seharusnya hanya dilihat dari makanan yang dibagikan setiap hari. Bagi keluarga seperti kami, program ini juga dapat membantu mengurangi tekanan pengeluaran rumah tangga dan memberikan sedikit ruang untuk merencanakan masa depan.
Bantuan itu mungkin tidak langsung mengubah kehidupan keluarga secara drastis. Namun, perubahan kecil yang berlangsung secara konsisten dapat berarti besar ketika keluarga harus menjalani kehidupan dengan anggaran terbatas.
Makanan Bergizi Adalah Bagian dari Kesempatan Belajar
Sebagai orang tua, saya ingin anak-anak datang ke sekolah dengan semangat dan pulang membawa pengetahuan baru. Saya ingin mereka dapat mengikuti pelajaran, bermain bersama teman-temannya, serta tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.
Namun, saya juga memahami bahwa kemampuan anak untuk belajar tidak hanya ditentukan oleh buku pelajaran, kualitas guru, atau fasilitas sekolah. Kondisi fisik dan kecukupan gizi turut menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Anak yang lapar tentu dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi. Ketika perhatian mereka lebih banyak tertuju pada rasa lapar, mengikuti pelajaran bisa menjadi lebih sulit. Sebaliknya, makanan yang cukup dan seimbang merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk mendukung pertumbuhan serta aktivitas mereka.
Bukan berarti setiap anak yang memperoleh makanan otomatis akan memiliki prestasi yang lebih baik. Hasil belajar tetap dipengaruhi banyak hal, mulai dari dukungan keluarga, lingkungan sekolah, kualitas pengajaran, hingga kondisi kesehatan. Namun, menyediakan makanan bergizi merupakan salah satu langkah yang masuk akal untuk membantu anak belajar dalam kondisi yang lebih baik.
Saya juga berharap MBG dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kebiasaan makan yang lebih sehat kepada anak-anak. Mereka bisa belajar mengenal berbagai jenis makanan, memahami pentingnya lauk dan sayuran, serta terbiasa melihat bahwa makanan bukan hanya soal rasa kenyang, melainkan juga kebutuhan tubuh.
Kebiasaan tersebut tentu tidak terbentuk dalam sehari. Peran orang tua tetap diperlukan untuk melanjutkan kebiasaan baik di rumah. Sekolah pun dapat membantu menjelaskan manfaat makanan bergizi dengan cara yang mudah dipahami anak.
Bagi saya, dukungan seperti ini penting karena tidak semua keluarga memiliki pengetahuan, waktu, atau kemampuan finansial yang sama untuk memenuhi kebutuhan gizi anak secara ideal setiap hari.
Ada orang tua yang sudah berusaha keras menyediakan makanan di rumah, tetapi harus berhadapan dengan harga bahan pangan yang berubah-ubah. Ada pula keluarga yang penghasilannya tidak selalu tetap, sehingga pengeluaran untuk makanan harus disesuaikan dengan uang yang tersedia.
Dalam keadaan seperti itu, kehadiran program yang membantu memenuhi kebutuhan makan anak di sekolah merupakan bentuk dukungan yang layak dihargai.
Data Badan Pusat Statistik melalui publikasi *Statistik Penunjang Pendidikan 2024* juga menunjukkan bahwa kebiasaan makan peserta didik menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam kajian mengenai pengalaman pendidikan. Publikasi tersebut mengumpulkan informasi tentang kebiasaan makan, biaya pendidikan, bantuan pendidikan, dan transportasi sekolah. Artinya, kehidupan anak di sekolah memang berkaitan dengan kebutuhan yang lebih luas daripada sekadar kegiatan belajar di ruang kelas.
Bagi saya, pendidikan dan pemenuhan gizi seharusnya tidak dipandang sebagai dua urusan yang terpisah. Anak membutuhkan kesempatan belajar sekaligus kondisi fisik yang mendukung agar dapat memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya.
Harapan Orang Tua Tidak Pernah Muluk-Muluk
Jika ditanya apa yang saya inginkan untuk kedua anak saya, jawabannya sebenarnya sederhana.
Saya ingin mereka tumbuh sehat. Saya ingin mereka bisa bersekolah tanpa terlalu banyak memikirkan apakah hari itu mereka bisa membeli makanan. Saya ingin mereka memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berteman, dan mengembangkan cita-cita.
Saya juga ingin mereka kelak menjalani kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang saya jalani sekarang. Bukan berarti saya menginginkan mereka menjadi orang kaya atau memiliki pekerjaan bergengsi. Saya hanya berharap mereka mempunyai lebih banyak pilihan, tidak selalu dibatasi oleh kesulitan ekonomi, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak.
Harapan seperti itu mungkin terdengar biasa. Namun, untuk mewujudkannya, orang tua perlu bekerja keras selama bertahun-tahun. Ada biaya sekolah yang harus dipersiapkan, kebutuhan kesehatan yang perlu diantisipasi, dan tabungan yang sebisa mungkin harus dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Kami juga tidak selalu bisa memperkirakan apa yang akan terjadi besok. Pengeluaran mendadak dapat muncul kapan saja. Ketika salah satu anggota keluarga sakit atau ada kebutuhan sekolah yang tidak direncanakan, anggaran yang sudah disusun dengan hati-hati bisa berubah seketika.
Karena itu, setiap bantuan yang meringankan kebutuhan dasar keluarga patut dilihat dari manfaat nyatanya bagi kehidupan sehari-hari.
Bagi saya, MBG bukan pengganti tanggung jawab orang tua. Saya tetap berkewajiban mendidik anak, memastikan mereka mendapatkan makanan yang cukup di rumah, mengajarkan kedisiplinan, dan menyiapkan masa depan mereka sesuai kemampuan keluarga.
Namun, menjalankan tanggung jawab tersebut menjadi sedikit lebih ringan ketika ada dukungan yang membantu memenuhi salah satu kebutuhan penting anak selama berada di sekolah.
Saya membayangkan ada banyak orang tua lain yang merasakan hal serupa. Ada ibu yang bekerja sambil mengurus rumah, ayah yang berangkat pagi untuk mencari nafkah, pedagang kecil yang pendapatannya bergantung pada jumlah pembeli, serta pekerja harian yang tidak selalu mendapatkan penghasilan sama setiap bulan.
Bagi mereka, pengeluaran yang berkurang bukan sekadar angka dalam catatan keuangan. Itu bisa berarti ada uang untuk membeli buku, membayar kebutuhan sekolah, atau disimpan sebagai pegangan ketika keadaan mendesak.
Tentu saja, manfaat tersebut akan berbeda pada setiap keluarga. Namun, justru karena kebutuhan dan keadaan masyarakat beragam, program seperti MBG perlu terus dievaluasi agar pelaksanaannya benar-benar menjawab kebutuhan penerima manfaat.
Mendukung Keberlanjutan, Memastikan Perbaikan
Saya mendukung keberlanjutan MBG karena program ini menyentuh kebutuhan yang mendasar. Akan tetapi, dukungan tersebut tidak berarti pelaksanaannya boleh berjalan tanpa pengawasan.
Sebaliknya, jika program ini hendak dipertahankan dalam jangka panjang, kualitasnya harus terus diperbaiki. Makanan yang diberikan kepada anak harus memenuhi standar gizi, aman dikonsumsi, layak, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Kebersihan dapur, proses pengolahan, penyimpanan, serta distribusi juga harus mendapat perhatian serius.
Orang tua perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program di sekolah anak mereka. Jika ada masalah, harus tersedia saluran pengaduan yang mudah digunakan dan mekanisme penanganan yang cepat. Evaluasi berkala juga penting agar pemerintah dapat mengetahui apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu dibenahi.
Menu makanan sebaiknya disusun dengan memperhatikan keseimbangan gizi sekaligus mempertimbangkan bahan pangan lokal. Dengan melibatkan petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha kecil setempat sesuai standar yang ditetapkan, program ini juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Namun, manfaat tambahan itu tidak boleh menggeser tujuan utamanya. Anak-anak tetap harus menjadi prioritas. Keberhasilan MBG bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya makanan yang dibagikan atau luasnya jangkauan program, melainkan juga oleh kualitas makanan, keamanan pelaksanaan, ketepatan sasaran, dan manfaat yang benar-benar dirasakan penerima.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa anggaran yang digunakan dikelola secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana program dilaksanakan, bagaimana kualitasnya dijaga, serta bagaimana keluhan dan kekurangan ditangani.
Bagi saya, pengawasan dan perbaikan bukan alasan untuk menghentikan sebuah program yang memiliki tujuan penting. Justru keduanya merupakan syarat agar program tersebut layak dilanjutkan. Jika ditemukan kekurangan, yang perlu dilakukan adalah memperbaikinya dengan serius, bukan mengabaikannya atau menutupinya.
Kepercayaan orang tua tumbuh ketika mereka melihat bahwa keselamatan anak menjadi prioritas, kualitas makanan dijaga, dan masukan masyarakat benar-benar didengarkan.
Saya berharap MBG dapat terus berkembang menjadi program yang semakin baik dari waktu ke waktu. Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan daerah, kondisi sekolah, dan karakteristik anak. Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya dirasakan pada masa sekarang, tetapi juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memperbaiki kualitas hidup generasi mendatang.
Masa Depan Anak Adalah Kepentingan Bersama
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa orang tua tidak bisa membangun masa depan anak sendirian. Kami dapat bekerja keras, menghemat pengeluaran, memberikan pendidikan di rumah, dan berusaha menyediakan makanan terbaik sesuai kemampuan. Namun, lingkungan yang mendukung juga diperlukan agar usaha tersebut membuahkan hasil.
Sekolah membutuhkan guru yang berdedikasi. Anak-anak membutuhkan fasilitas pendidikan yang memadai. Keluarga membutuhkan kesempatan ekonomi yang lebih baik. Dan kebutuhan dasar seperti makanan bergizi perlu mendapat perhatian bersama.
MBG tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi keluarga Indonesia. Program ini bukan satu-satunya penentu kesehatan anak, keberhasilan pendidikan, atau kesejahteraan rumah tangga. Masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Namun, mengakui keterbatasan sebuah program tidak berarti kita harus menutup mata terhadap manfaat yang dapat diberikannya. Jika makanan yang disediakan membantu anak memperoleh asupan gizi, mengurangi kebutuhan membeli jajanan di sekolah, dan meringankan sebagian pengeluaran orang tua, manfaat itu layak dipertahankan sambil terus ditingkatkan.
Saya hanya orang tua dengan dua anak yang sedang tumbuh. Saya tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan besar negara. Yang bisa saya lakukan adalah bekerja, mengatur penghasilan, mendampingi anak-anak belajar, dan berharap mereka kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.
Saya ingin suatu hari nanti mereka mengenang masa kecilnya sebagai masa ketika mereka bisa belajar dan tumbuh dengan cukup baik. Saya ingin mereka memiliki kesempatan mengejar cita-cita tanpa terlalu dibebani keterbatasan yang hari ini masih kami hadapi.
Mungkin itulah mimpi yang dimiliki banyak orang tua di Indonesia. Kami tidak selalu mengharapkan sesuatu yang mewah. Kami hanya ingin anak-anak tumbuh sehat, mendapatkan pendidikan yang layak, dan mempunyai masa depan yang memberi mereka lebih banyak kesempatan.
Karena itu, ketika ada program yang membantu meringankan satu bagian dari perjuangan tersebut, saya berharap program itu tidak berhenti pada niat baik. Ia harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, diawasi secara terbuka, dan diperbaiki berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, keberlanjutan MBG bukan hanya tentang keberlanjutan sebuah kebijakan pemerintah. Bagi keluarga seperti kami, yang dipertaruhkan adalah kesempatan anak-anak untuk tumbuh lebih sehat, belajar lebih baik, dan melangkah menuju masa depan yang selama ini kami impikan.
Dan bagi orang tua, tidak banyak hal yang lebih berharga daripada mengetahui bahwa anak-anaknya memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
