Konten dari Pengguna

Politik dari Banyak Sudut: Manifesto Komunikasi Politik Gen Z

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Piah Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

IIlustrasi: Manifesto Komunikasi Politik Gen Z melalui media sosial. Sumber: pexels.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
IIlustrasi: Manifesto Komunikasi Politik Gen Z melalui media sosial. Sumber: pexels.pexels.com

Komunikasi politik Gen Z kini tidak hanya berlangsung melalui berita, debat televisi, atau kampanye resmi. Di media sosial, isu politik dapat muncul ketika seseorang menonton video hiburan, membaca komentar, melihat unggahan kreator, atau mengikuti percakapan yang sedang viral. Politik hari ini hadir tanpa harus selalu dicari. Satu potongan pidato pejabat dapat muncul di antara video musik, sebuah kebijakan dapat dibahas dalam unggahan singkat, dan perdebatan politik dapat berkembang panjang hanya dari satu kolom komentar. Bagi Gen Z, politik bukan lagi sesuatu yang hanya ditemukan di halaman berita, tetapi bagian dari arus informasi sehari-hari. Namun, informasi yang muncul di layar tidak selalu memberikan gambaran utuh. Satu pernyataan dapat dipotong menjadi beberapa detik, kebijakan yang rumit dapat diringkas menjadi satu kalimat, dan seorang tokoh dapat terus ditampilkan melalui sisi tertentu. Akibatnya, audiens tidak hanya menerima informasi politik, tetapi juga menerima cara tertentu untuk memahami politik. Di sinilah framing politik menjadi penting untuk dipahami. Framing adalah proses memilih aspek tertentu dari realitas lalu membuatnya lebih menonjol dalam sebuah pesan. Proses ini dapat mendorong audiens memahami masalah, penyebab, penilaian, atau solusi melalui sudut pandang tertentu. Sebuah informasi tidak harus sepenuhnya salah untuk dapat memengaruhi cara masyarakat melihat persoalan. Informasi yang benar pun dapat membentuk kesan berbeda ketika disajikan dengan penekanan, narasi, judul, visual, atau pilihan kutipan yang berbeda. Sebuah kebijakan dapat dibicarakan sebagai solusi bagi masyarakat, beban bagi anggaran negara, keberhasilan pemerintah, atau kegagalan pelaksanaannya. Semua sudut pandang itu mungkin memiliki dasar. Namun, persoalan muncul ketika audiens hanya menerima satu sudut pandang dan menganggapnya sebagai keseluruhan realitas. Kita mungkin pernah melihat video pendek dengan judul yang sangat meyakinkan. Potongan video tersebut mendukung kesimpulan tertentu, lalu komentar di bawahnya memperkuat opini yang sama. Setelah menontonnya, sebagian orang merasa sudah memahami isu tersebut. Padahal, yang dilihat bisa jadi hanya satu fragmen kecil dari cerita yang lebih panjang. Tantangan utama komunikasi politik Gen Z bukan hanya membuat anak muda tertarik pada politik. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk melihat lebih dari satu sisi sebelum membentuk pendapat. Media sosial menawarkan peluang besar untuk menjelaskan politik dengan cara yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda. Infografis, video pendek, animasi, siaran langsung, podcast, dan diskusi interaktif dapat membuat isu publik lebih mudah diakses. Namun, kreativitas dalam politik digital tidak boleh berhenti pada kemampuan membuat konten viral. Kreativitas juga perlu digunakan untuk menjaga konteks: menjelaskan latar belakang masalah, dampak kebijakan, sumber data, serta pandangan pihak-pihak yang terdampak. Dalam praktiknya, komunikasi politik Gen Z perlu menyesuaikan bentuk pesan dengan kebiasaan konsumsi media anak muda tanpa menghilangkan substansi. Video pendek dan konten interaktif dapat menjadi pintu masuk untuk memahami isu, tetapi setiap format tetap perlu memberi jalan bagi audiens untuk membuka sumber utama, melihat data, dan memahami penjelasan yang lebih lengkap. Komunikasi politik yang baik tidak cukup hanya menjawab apa yang terjadi. Ia juga perlu membantu masyarakat memahami mengapa hal itu terjadi, siapa yang terdampak, pilihan apa yang tersedia, dan konsekuensi apa yang mungkin muncul dari setiap pilihan. Ketika sebuah kebijakan dibahas, masyarakat perlu dapat menemukan dokumen resmi, data pendukung, alasan pembuatannya, serta tanggapan kritis dari kelompok yang terdampak. Ketika sebuah pernyataan dipotong untuk menjadi konten singkat, versi lengkapnya idealnya tetap tersedia dan mudah diakses. Hal ini tidak berarti semua pandangan harus diperlakukan seolah memiliki bobot bukti yang sama. Fakta, opini, klaim politik, dan informasi yang belum terverifikasi tetap perlu dibedakan. Pembedaan tersebut membantu masyarakat menilai isu berdasarkan informasi yang lebih jelas, bukan hanya berdasarkan siapa yang paling menarik dalam menyampaikan pesan.

Bagi Gen Z, literasi politik dan literasi digital semakin penting karena komunikasi politik tidak lagi hanya berlangsung antara pemerintah dan masyarakat. Media, jurnalis, kreator konten, influencer, organisasi, komunitas, hingga pengguna biasa sama-sama dapat memproduksi dan menyebarkan pesan politik. Influencer tidak hanya menyampaikan informasi. Melalui pemilihan sudut pandang, narasi, visual, dan isu yang ditonjolkan, mereka juga dapat memengaruhi cara audiens memahami suatu persoalan. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri mengajukan pertanyaan sederhana setiap kali menemukan konten politik, Siapa yang membuat pesan ini? Apa yang sedang ditonjolkan? Bagian mana yang tidak ditampilkan? Apakah sumbernya jelas dan dapat diperiksa? Adakah informasi atau perspektif lain yang membantu menjelaskan isu ini? Apakah kesimpulan yang diambil lahir dari informasi yang cukup? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti semua informasi harus dipandang curiga. Tujuannya adalah membuat audiens menjadi pembaca yang lebih aktif. Alih-alih hanya berpindah dari satu video ke video berikutnya, pembaca dapat memahami bagaimana sebuah pesan dibentuk dan mengapa pesan itu disampaikan dengan cara tertentu. Tanggung jawab untuk membangun ruang informasi politik yang sehat tidak seharusnya dibebankan kepada masyarakat saja. Pemerintah, partai politik, media, kreator konten, dan komunikator publik juga memiliki tanggung jawab untuk tidak menghilangkan konteks hanya karena versi paling pendek lebih mudah mendapat perhatian. Jumlah penonton, likes, shares, dan komentar dapat menunjukkan bahwa sebuah pesan berhasil menarik perhatian. Akan tetapi, perhatian tidak selalu berarti pemahaman. Sebuah video dapat viral dalam hitungan jam, sementara pemahaman terhadap kebijakan publik sering membutuhkan waktu, dokumen, data, dan ruang diskusi yang lebih panjang. Masa depan komunikasi politik Gen Z tidak seharusnya hanya diukur dari tingginya engagement. Komunikasi yang baik juga perlu membantu masyarakat membedakan fakta, opini, klaim, dan informasi yang belum terverifikasi agar sikap politik lahir dari pemahaman, bukan sekadar reaksi cepat. Ruang politik digital perlu memungkinkan masyarakat berhenti sejenak sebelum mengambil kesimpulan. Ketika sebuah isu ramai, sumber utama perlu mudah diakses. Ketika sebuah pernyataan dipotong, rekaman versi lengkapnya perlu tersedia. Ketika kebijakan diperdebatkan, masyarakat perlu dapat menemukan alasan pembuatannya sekaligus kritik dan pengalaman dari pihak yang terdampak. Dengan begitu, teknologi tidak hanya mempercepat penyebaran pesan. Teknologi juga dapat membantu masyarakat memperlambat proses memahami. Pada akhirnya, komunikasi politik Gen Z tidak seharusnya hanya mengajak anak muda untuk ikut berbicara, tetapi juga membantu mereka memahami sebelum mengambil sikap. Ketika Gen Z terbiasa menelusuri sumber, mempertanyakan framing, dan melihat isu dari berbagai perspektif, media sosial dapat menjadi ruang belajar politik yang lebih sehat. Gen Z tidak harus selalu setuju, selalu kritis, atau selalu aktif berbicara tentang politik. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menentukan sikap berdasarkan informasi yang cukup serta kesadaran bahwa setiap pesan membawa cara pandang tertentu. Dalam demokrasi, masyarakat bukan hanya membutuhkan suara untuk didengar. Masyarakat juga membutuhkan informasi yang cukup untuk menentukan apa yang ingin mereka katakan.