Konten dari Pengguna

Jangan Tertipu Angka yang Tampak Bagus

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pipit Puspasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis: Kalinka Aulita, Lidya Putri Hamdani, Maria Margaretha Simanjuntak, Mela Kurniasari, Nabila Ajahrah, Nensa Anggraini, Pipit Puspa Sari

Dosen Pengampu: Dr. N Rusnaeni, S.E., M.M.

Afiliasi: Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

Agustus 2026 menandai berakhirnya pembayaran obligasi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), sisa dari krisis moneter 1997–1998. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa nilai seluruh obligasi untuk menangani krisis itu berkisar Rp640 triliun. Obligasi rekapitalisasi telah dilunasi sejak Juli 2020, sementara obligasi BLBI baru selesai dibayar pada Agustus lalu (detikFinance, 2026). Artinya, hampir tiga dekade diperlukan untuk menutup biaya satu krisis keuangan.

Hikmahnya bukan hanya untuk negara. Angka yang terlihat baik, misalnya laba yang meningkat, bunga yang rendah, atau rasio yang sehat, belum tentu mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perusahaan, pelaku usaha kecil, keluarga yang sedang menghitung cicilan, dan para investor sama-sama perlu melihat lebih jauh dari angka di permukaan.

Satu Rasio Tidak Cukup

Dalam dunia perbankan, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio atau LDR) memang menunjukkan seberapa banyak dana yang disalurkan, tetapi tidak menjamin bank itu bermodal kuat atau kreditnya berkualitas. Karena itu, LDR sebaiknya dibaca bersama rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit bermasalah (NPL).

Krisis 1997–1998 memberi pelajaran yang sangat mahal. Pada 1 November 1997, pemerintah menutup 16 bank swasta kecil yang kesulitan likuiditas, dan kemudian terungkap bahwa permodalan perbankan secara umum memang lemah (Fane & McLeod, 2001). Menurut Hukumonline (2000), audit BPK menyatakan potensi kerugian negara akibat penyaluran BLBI sebesar Rp138,4 triliun, sebagian besar dari total penyaluran sekitar Rp144,5 triliun. Bank Indonesia menyanggah angka itu karena sebagian jaminan atas penyaluran BLBI sudah berada di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pemerintah juga menerbitkan obligasi rekapitalisasi sekitar Rp430 triliun untuk memperkuat modal bank (Bank Indonesia, 2003, hlm. 3). Dari peristiwa itu lahirlah Lembaga Penjamin Simpanan berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2004, yang mulai beroperasi pada 22 September 2005 (ANTARA Ambon, 2018).

Laba di Atas Kertas, Kas dalam Kenyataan

Kekeliruan serupa terjadi di tingkat perusahaan, yaitu menyamakan laba dengan kas. Sebuah perusahaan dapat mencatat pendapatan dari penjualan secara kredit padahal pelanggannya belum membayar, sedangkan gaji karyawan dan tagihan pemasok tetap harus dilunasi pada waktunya. Akibatnya, usaha yang tampak untung masih bisa kehabisan uang tunai.

Gambar 1. Laba di atas kertas tidak sama dengan kas dalam kenyataan. Sumber: olahan penulis.

Dana Murah Belum Tentu Murah

Utang kerap dianggap lebih murah daripada modal sendiri karena bunganya dapat mengurangi pajak. Dengan tarif PPh badan 22% (UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan), bunga utang 10% sebenarnya hanya berbiaya 7,8% setelah pajak. Bila pemegang saham mengharapkan imbal hasil 15%, utang jelas terlihat menarik. Akan tetapi, menurut teori trade-off, semakin besar porsi utang, semakin tinggi pula biaya kesulitan keuangan, dan pada suatu titik biaya itu melebihi manfaat penghematan pajaknya (Kraus & Litzenberger, 1973).

Biaya pendanaan juga tidak selalu muncul dalam bentuk bunga. Bayangkan pemasok memberi diskon 2% jika pembayaran dilakukan dalam 10 hari, padahal jatuh tempo normalnya 30 hari. Apabila diskon itu tidak dimanfaatkan, biaya efektifnya setahun mencapai sekitar 36,73% dengan basis 360 hari, yaitu 2/98 × 360/20 (metode perhitungan biaya kredit dagang menurut OpenStax, 2026). Angka ini lebih dari empat kali lipat bunga kredit modal kerja bank umum yang pada Agustus 2026 tercatat sekitar 8,17% per tahun (Bank Indonesia, 2026).

Gambar 2. Perbandingan biaya dana per tahun. Sumber: olahan penulis berdasarkan Bank Indonesia (2026), OpenStax (2026), dan UU Nomor 7 Tahun 2021.

Ekspansi Tidak Selalu Menambah Nilai

Merger sering dipromosikan sebagai jalan menuju pasar yang lebih besar dan operasi yang lebih efisien. Namun, penelitian terhadap gelombang merger 1998–2001 di Amerika Serikat menemukan bahwa pemegang saham perusahaan pembeli rata-rata kehilangan 12 sen untuk setiap dolar yang dikeluarkan ketika akuisisi diumumkan, dengan kerugian total US$240 miliar. Kerugian tersebut menumpuk pada sedikit transaksi yang dilakukan perusahaan dengan valuasi sangat tinggi (Moeller, Schlingemann & Stulz, 2005). Dengan kata lain, ekspansi baru layak dilakukan jika nilai yang diperoleh sepadan dengan harga dan risikonya.

Mulai dari Pertanyaan yang Tepat

Benang merah dari semua contoh ini sama: angka yang memikat belum tentu menggambarkan manfaat yang sebenarnya. Laba tidak otomatis berarti kas tersedia, utang berbunga rendah belum tentu aman, diskon yang diabaikan dapat berubah menjadi beban besar, dan ekspansi tidak selalu menambah nilai.

Maka, sebelum tergiur oleh keuntungan yang tampak besar atau biaya yang terlihat murah, tanyakan tiga hal: berapa biaya sebenarnya yang harus ditanggung, bagaimana arus kas akan mengalir, dan risiko apa yang belum tampak? Dalam urusan uang, sekadar membaca angka tidaklah cukup; kemampuan memahami makna di balik angka itulah yang menentukan mutu keputusan.

Daftar Sumber

ANTARA Ambon. (2018, 29 November). LPS edukasi program penjaminan simpanan di Ambon. https://ambon.antaranews.com/berita/48503/lps-edukasi-program-penjaminan-simpanan-di-ambon

Bank Indonesia. (2003). Kajian mengenai efektivitas kebijakan obligasi rekapitalisasi perbankan (Hadad dkk.). https://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian/Documents/5473d8152bce4f8fabe84b6481aaa1cbEfektivitasObligasirekap.pdf

Bank Indonesia. (2026). Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Tabel I.26: Suku bunga pinjaman rupiah yang diberikan menurut kelompok bank dan jenis pinjaman (data hingga Agustus 2026, hlm. 94–95). https://share.google/TB7TjIYwiYBSzE9EV

detikFinance. (2026, 18 September). Utang Rp 640 triliun akhirnya lunas. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8669057/utang-rp-640-triliun-akhirnya-lunas

Fane, G., & McLeod, R. H. (2001). Banking collapse and restructuring in Indonesia, 1997–2001 (Working Paper 2001-10). Australian National University. https://ccep.crawford.anu.edu.au/acde/publications/publish/papers/wp2001/2001-10%20Fane-McLeod%20banking.pdf

Hukumonline. (2000, 22 September). BI bantah kerugian BLBI sebesar Rp 138,442 triliun. https://www.hukumonline.com/berita/a/bi-bantah-kerugian-blbi-sebesar-rp-138442-triliun-hol695/

Kraus, A., & Litzenberger, R. H. (1973). A state-preference model of optimal financial leverage. Journal of Finance, 28(4), 911–922.

Moeller, S. B., Schlingemann, F. P., & Stulz, R. M. (2005). Wealth destruction on a massive scale? A study of acquiring-firm returns in the recent merger wave. Journal of Finance, 60(2), 757–782. https://www.nber.org/papers/w10200

OpenStax. (2026, 24 Juni). Principles of finance (edisi ke-2), bab 19.2 “What is trade credit?” https://openstax.org/books/principles-finance-2e/pages/19-2-what-is-trade-credit

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, Pasal 17 ayat (1) huruf b.