Dunia yang Terfragmentasi dan Krisis Solidaritas
Tulisan dari Pormadi Simbolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia hari ini menghadapi sebuah paradoks. Teknologi menghubungkan manusia melintasi batas negara, informasi bergerak dalam hitungan detik, dan ekonomi semakin terintegrasi. Namun, kehidupan sosial justru memperlihatkan sebaliknya: masyarakat terbelah, kepercayaan melemah, dan kecemasan mengenai masa depan semakin terasa. Demonstrasi di Eropa maupun Indonesia memperlihatkan bahwa kemajuan tidak selalu menghadirkan rasa aman dan kesejahteraan yang merata.
Pada 17–20 Oktober 2026, demonstrasi di sejumlah negara Eropa, antara lain Belgia, Portugal, dan Italia, menyoroti mahalnya biaya hidup, perumahan, upah, serta tekanan terhadap layanan publik. Di Indonesia, aksi mahasiswa pada peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, 20 Oktober 2026, juga menyuarakan persoalan biaya hidup, kebebasan sipil, lingkungan, dan keterjangkauan pendidikan serta kesehatan (The Jakarta Post, 21 Oktober 2026).
Tentu saja, tuntutan di setiap negara tidak sepenuhnya sama. Namun, terdapat pertanyaan yang menghubungkan berbagai kegelisahan tersebut: mengapa manusia semakin sulit memperoleh kepastian hidup di tengah dunia yang mengaku semakin maju?
Pemikiran sosiolog Zygmunt Bauman menjadi relevan untuk menjawab pertanyaan ini. Dalam Liquid Modernity (2000), Bauman menggambarkan modernitas yang kehilangan banyak bentuk kestabilan sosialnya. Pekerjaan, identitas, hubungan antarmanusia, bahkan rasa aman tidak lagi mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Dunia bergerak cepat, sedangkan kemampuan manusia dan institusi sosial untuk menyesuaikan diri tidak selalu sebanding.
Kehidupan menjadi cair
Dalam modernitas cair, individu dituntut terus beradaptasi. Pekerja harus meningkatkan keterampilan, anak muda harus bersaing dalam pasar kerja yang berubah, dan keluarga harus mengatur kehidupan di tengah biaya yang terus menekan. Fleksibilitas dipuji sebagai keunggulan, tetapi bagi mereka yang tidak memiliki sumber daya memadai, fleksibilitas dapat berarti ketidakpastian berkepanjangan.
Di sinilah konsep Unsicherheit, istilah Jerman yang merangkum ketidakpastian, ketidakamanan, dan rasa tidak terlindungi, membantu menjelaskan kecemasan masyarakat modern. Bauman menggunakan gagasan ini untuk membaca kehidupan ketika individu menghadapi risiko ekonomi dan sosial tanpa jaminan perlindungan yang memadai.
Persoalannya bukan semata-mata kenaikan harga. Ketika biaya perumahan, pangan, transportasi, dan pendidikan meningkat lebih cepat daripada kemampuan sebagian keluarga untuk memenuhinya, masa depan menjadi sulit direncanakan. Data Komisi Eropa pada 2026 menunjukkan bahwa kenaikan harga rumah dan tekanan keterjangkauan perumahan masih menjadi persoalan di banyak negara anggota Uni Eropa.
Data resmi badan statistik Komisi Eropa (Eurostat) pada kuartal kedua (Q2) 2026 mengonfirmasi bahwa krisis keterjangkauan properti masih menjadi masalah struktural yang serius di Uni Eropa. Secara rata-rata, harga rumah di Uni Eropa naik 4,7% dan biaya sewa melonjak 3,0% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (ec.europa.eu, 1 Oktober 2026). Tekanan tersebut terutama terasa bagi kelompok berpendapatan rendah dan kaum muda, yang memicu demonstrasi.
Di Indonesia, ketidakpastian memiliki bentuk tersendiri. Persoalan pekerjaan, ketimpangan kesempatan, daya beli, dan akses terhadap pelayanan publik bertemu dengan aspirasi masyarakat yang semakin tinggi. Demonstrasi menjadi salah satu saluran untuk menyampaikan ketidakpuasan. Aksi massa tidak otomatis membuktikan kegagalan seluruh sistem, tetapi juga tidak sepatutnya dianggap sekadar gangguan ketertiban. Ia dapat menjadi tanda bahwa ada pengalaman sosial yang menuntut penjelasan dan tanggapan serius.
Menjadi Beban individu
Salah satu kritik Bauman yang penting adalah kecenderungan masyarakat modern mengubah persoalan kolektif menjadi tanggung jawab individual. Ketika seseorang menganggur, ia dianggap kurang kompetitif. Ketika keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan, mereka diminta berhemat. Ketika anak muda gagal mendapatkan pekerjaan layak, mereka didorong untuk terus meningkatkan kemampuan diri.
Pendidikan dan usaha pribadi tentu penting. Namun, keduanya tidak dapat menggantikan tanggung jawab institusi dalam menyediakan kesempatan yang adil. Tidak semua orang memulai perlombaan dari garis yang sama.
Dalam konteks ini, pemikiran Axel Honneth tentang perjuangan memperoleh pengakuan memperluas analisis Bauman. Dalam The Struggle for Recognition (1995), Honneth menjelaskan bahwa konflik sosial tidak hanya bersumber dari distribusi sumber daya, tetapi juga dari pengalaman tidak dihormati dan tidak diakui. Orang ingin memperoleh penghasilan yang layak, tetapi mereka juga ingin diperlakukan sebagai warga yang bermartabat, didengar aspirasinya, dan diakui kontribusinya.
Karena itu, kemarahan sosial tidak selalu dapat diredam melalui bantuan ekonomi atau komunikasi publik yang lebih baik. Kebijakan perlu menyentuh persoalan material sekaligus memulihkan pengalaman warga bahwa keberadaan mereka sungguh diperhitungkan.
Ruang bersama menyempit
Fragmentasi juga berlangsung dalam kehidupan politik dan digital. Masyarakat terpecah ke dalam kelompok yang memiliki identitas, kepentingan, dan sumber informasi berbeda. Perbedaan pendapat yang seharusnya memperkaya demokrasi dapat berubah menjadi kecurigaan terhadap mereka yang dianggap bukan bagian dari kelompok sendiri.
Hannah Arendt, melalui The Human Condition (1958), mengingatkan pentingnya ruang publik sebagai tempat manusia bertindak dan berbicara bersama dalam keberagaman. Politik kehilangan makna ketika warga tidak lagi diperlakukan sebagai pelaku yang memiliki suara, melainkan hanya sebagai objek kebijakan atau angka dalam statistik.
Pemikiran Jürgen Habermas juga relevan. Dalam Between Facts and Norms (1992, terjemahan Inggris 1996), ia menekankan pentingnya legitimasi demokratis yang dibangun melalui proses komunikasi dan partisipasi publik. Pemerintah tidak cukup hanya menjelaskan kebijakan setelah keputusan dibuat. Kebijakan yang menyentuh kehidupan banyak orang memerlukan ruang deliberasi, keterbukaan terhadap kritik, dan alasan yang dapat diuji bersama.
Merawat solidaritas
Namun, kritik terhadap modernitas tidak boleh berhenti pada diagnosis pesimistik. Emmanuel Levinas, melalui Totality and Infinity (1961), menempatkan tanggung jawab terhadap orang lain sebagai dasar etika. Gagasannya mengingatkan bahwa manusia tidak dapat direduksi menjadi pesaing dalam pasar, angka statistik, atau anggota kelompok identitas tertentu. Ada tanggung jawab untuk melihat kerentanan orang lain dan menjadikannya bagian dari pertimbangan moral kita.
Di sinilah solidaritas perlu dibangun kembali, bukan sebagai slogan, melainkan melalui institusi dan praktik nyata: pekerjaan yang layak, pendidikan yang dapat diakses, perlindungan sosial yang tepat sasaran, layanan publik yang bermutu, serta kebijakan yang membuka ruang partisipasi masyarakat.
Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan dan efisiensi, tetapi juga dari kemampuan warga merencanakan masa depan dengan bermartabat. Bagi Eropa, demonstrasi memperlihatkan bahwa kemapanan institusi sekalipun tidak membuat masyarakat kebal terhadap kecemasan ekonomi dan krisis kepercayaan.
Pada akhirnya, dunia yang terfragmentasi bukan semata-mata dunia yang dipenuhi perbedaan. Ia adalah dunia ketika manusia semakin sulit menemukan tujuan bersama di tengah ketidakpastian. Bauman membantu kita melihat bahwa modernitas yang terus bergerak dapat meninggalkan individu dalam kecemasan, sementara Arendt, Honneth, Habermas, dan Levinas membuka jalan untuk memikirkan kembali ruang publik, pengakuan, dialog, dan tanggung jawab.
Pertanyaan mendasar bagi kita bukan sekadar bagaimana mempercepat perubahan, melainkan bagaimana memastikan bahwa manusia tidak kehilangan tempat berpijak di dalamnya. Sebab, kemajuan yang tidak disertai solidaritas berisiko melahirkan masyarakat yang semakin terhubung, tetapi semakin terasing; semakin makmur bagi sebagian kecil orang, tetapi semakin tidak pasti bagi sebagian besar lainnya.
Dunia yang terfragmentasi membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan. Ia membutuhkan alasan bagi manusia untuk kembali percaya bahwa masa depan dapat dibangun bersama.

