Sejarah Panjang Pelacuran (Bagian I)
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelacuran menjadi fakta tak terelakkan akan adanya pembagian peran laki-laki dan perempuan yang muncul sejak zaman masyarakat primitif berpola matriarkhi
Tugas perempuan diarahkan untuk melayani kebutuhan seks laki-laki. Tak ayalnya bagi kaum feminis memandang pelacuran menjadi akibat kuatnya sistem patriarkhi. Sementara kaum Marxis melihat pelacuran sebagai akibat dari niscaya perkembangan kapitalisme.
Sejarah pelacuran tak jauh bersanding erat dengan kepercayaan agama. Istilah “pelacur kuil” (temple prostitutes) ditemukan zaman kebudayaan Babilonia, Mesir Kuno, Palestina Kuno, Yunani, dan Romawi.
Para pelacur sering kali berkeliaran di jalan dan kedai minuman, lalu mencari mangsa laki-laki yang kemudian penghasilannya diserahkan kepada pendeta untuk membantu pembangunan kuil.
Kedudukan pelacur terlihat fluktuatif. Suatu masa, pelacuran tak jarang ditempatkan sebagai budak, masyarakat kelas bawah. Di Yunani, pelacur jalanan disebut pornoi.
Masyarakat Yunani Kuna yang menjadi peradaban purba, telah lama mengenal apa yang disebut “pelacuran kuil” – sebuah institusi purba tempat pelacuran yang menyumbangkan uang hasil kerjanya ke kuil Aphrodite demi mendapatkan berkah anugerah dari dewi. Mereka disebut Hierodouli.

Sumber gambar : http://i1.wp.com/listverse.com

