Konten dari Pengguna

Ketika Tradisi Menjadi Beban Ekonomi Masyarakat Desa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Khaira prandan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gagal panen. Sumber: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gagal panen. Sumber: Pixabay.

Tradisi sering dipandang sebagai warisan budaya yang mempererat hubungan antarmasyarakat. Namun, dalam kondisi tertentu, tradisi juga dapat menjadi beban ketika pelaksanaannya tidak lagi mempertimbangkan keadaan ekonomi masyarakat. Persoalan tersebut diangkat oleh Erna Widi melalui cerpen Resah Kemarau Basah. Cerpen ini menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang sedang menghadapi gagal panen, kemiskinan, dan tekanan ekonomi, tetapi tetap berusaha menyelenggarakan tradisi rasulan. Melalui konflik tersebut, pengarang menghadirkan kritik sosial mengenai benturan antara pelestarian budaya dan realitas kehidupan masyarakat.

Menurut Burhan Nurgiyantoro (2018), tema merupakan gagasan dasar yang menopang keseluruhan cerita. Tema menjadi inti persoalan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui rangkaian peristiwa, tokoh, maupun konflik. Dalam cerpen Resah Kemarau Basah, tema yang paling menonjol ialah dilema masyarakat desa yang tetap mempertahankan tradisi meskipun berada dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Keadaan masyarakat digambarkan sejak awal cerita melalui percakapan para tokohnya. Salah satu dialog menyebutkan,

"Lha mau bagaimana, wong rakyate lagi krisis, panen gaplek wae jamuren. Terus wakile rakyat malah minta tunjangan naik."

Dialog tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sedang menghadapi krisis akibat hasil panen yang buruk. Pengarang tidak hanya memperlihatkan kesulitan ekonomi petani, tetapi juga menyindir kondisi sosial ketika masyarakat kecil harus bertahan hidup di tengah berbagai tekanan. Kutipan ini menjadi dasar munculnya konflik utama dalam cerita.

Meskipun keadaan ekonomi sedang memburuk, tradisi rasulan tetap dianggap penting untuk dilaksanakan. Hal itu tampak ketika salah satu tokoh berkata,

"Meski cuma kenduren besok kamu tetap datang rasulan ke tempat Bulik, lho."

Dialog tersebut memperlihatkan bahwa tradisi tetap dijalankan walaupun masyarakat sedang berada dalam keterbatasan. Rasulan bukan sekadar acara makan bersama, tetapi telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat desa. Akibatnya, banyak warga merasa tetap harus hadir dan ikut berpartisipasi meskipun kondisi keuangan mereka tidak memungkinkan.

Melalui penggambaran tersebut, Erna Widi menunjukkan bahwa tradisi memiliki dua sisi. Di satu sisi, tradisi mampu menjaga hubungan sosial, mempererat solidaritas, serta melestarikan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, di sisi lain, tradisi dapat berubah menjadi tekanan sosial apabila pelaksanaannya tidak disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Warga bukan hanya menghadapi kesulitan ekonomi akibat gagal panen, tetapi juga harus memikirkan tuntutan sosial agar tetap ikut dalam pelaksanaan tradisi.

Konflik inilah yang memperkuat tema cerita. Pengarang tidak mengajak pembaca menolak tradisi, melainkan mengajak melihat bahwa nilai budaya seharusnya berjalan seiring dengan empati terhadap kondisi masyarakat. Tradisi yang bertujuan mempererat kebersamaan seharusnya tidak berubah menjadi beban bagi orang-orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Berdasarkan kajian tema menurut Burhan Nurgiyantoro, dapat disimpulkan bahwa Resah Kemarau Basah mengangkat persoalan benturan antara tradisi dan realitas ekonomi masyarakat desa. Melalui kehidupan para tokohnya, Erna Widi menyampaikan kritik sosial bahwa pelestarian budaya perlu disertai kepekaan terhadap kondisi masyarakat. Dengan demikian, tradisi tetap dapat dipertahankan tanpa menghilangkan nilai kemanusiaan dan empati terhadap sesama.

Daftar Pustaka

Erna Widi. (2026). Resah Kemarau Basah. Kompas.id.

Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.