Konten dari Pengguna

Hemat Energi Bikin Kantong Happy : Minimalisir Biaya Pengolahan & Budidaya Ikan

Prastatama Nanang

Prastatama Nanang

Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prastatama Nanang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hemat Energi Bikin Kantong Happy : Minimalisir Biaya Pengolahan & Budidaya Ikan
zoom-in-whitePerbesar

Desa Tamaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal memiliki permasalahan dalam hal hemat energi. Hal ini dikarenakan karena tingginya penggunaan listrik untuk memenuhi kebutuhan dari budidaya ikan dan pengolahan hasil tambak. Namun, konsumsi energi yang masih tinggi ini membuat biaya produksi meningkat dan membebani pelaku usaha tambak dan pengolah ikan skala rumah tangga.

KKN TIM 38 Universitas Diponegoro hadir memberikan solusi. Program bertajuk “Edukasi Hemat Energi dalam Budidaya Tambak dan Pengolahan Ikan” menyasar pelaku budidaya ikan di Desa Tambaksari. Tim terdiri dari mahasiswa lintas jurusan. Salah satunya Prastatama Nanang Setiawan, mahasiswa Teknik Kimia, Fakultas Teknik UNDIP. Kegiatan dilaksanakan langsung di rumah warga dan area tambak mitra.

Fokus kegiatan yaitu sosialisasi cara-cara sederhana untuk menekan konsumsi energi. Tim memperkenalkan penggantian lampu pijar (lampu jari) dengan lampu LED hemat energi. Penggunaan lampu LED terbukti menurunkan konsumsi listrik hingga 80% dibanding lampu konvensional. Instalasi lampu dilakukan di beberapa rumah dan gudang pengolahan ikan.

Sumber: Dokumentasi penulis

Selain penghematan listrik, tim juga memberikan penyuluhan terkait efisiensi penggunaan bahan bakar gas. Pada proses pengolahan ikan, penggunaan LPG sangat dominan. Banyak warga menggunakan wajan besar dengan api terbuka dalam waktu lama. Tim memberikan simulasi cara pengolahan ikan dengan teknik kukus bertingkat (steam rack) dan penggunaan penutup panci yang lebih efisien menjaga panas. Hasilnya, konsumsi gas berkurang tanpa menurunkan kualitas produk.

Sumber: Dokumentasi penulis

Sosialisasi juga mencakup manajemen energi pada peralatan tambak. Aerator dan pompa menjadi titik utama konsumsi listrik di tambak. Tim mengedukasi penggunaan timer otomatis untuk mengatur waktu kerja aerator. Warga diajari cara menghitung beban listrik dan merancang jadwal operasi berdasarkan kebutuhan ikan, terutama saat pagi dan malam hari. Beberapa tambak mitra mulai mencoba sistem rotasi aerasi.

Untuk memperkuat pemahaman warga, tim membuat dan membagikan poster edukatif. Poster berisi tips hemat energi, ilustrasi teknis, serta rekomendasi alat yang cocok untuk skala rumah tangga. Materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Poster dipasang di rumah-rumah warga dan tempat pengolahan hasil laut.

Perbandingan energi Lampu LED dan lampu pijar :

Sumber: Dokumentasi penulis

Dari grafik tersebut terlihat bahwa perbandingan biaya yang dikeluarkan antara dua lampu tersebut lumayan signifikan. Hal ini direspon sangat positif oleh masyarakat , banyak warga belum mengetahui bahwa lampu LED lebih hemat dan tersedia dengan harga terjangkau. Beberapa pelaku usaha langsung mengganti lampu mereka hari itu juga. Pengusaha pengolahan ikan mencoba teknik memasak hemat gas dan melaporkan hasilnya lebih cepat matang serta lebih hemat.

Efek domino mulai terlihat. Dalam waktu seminggu, konsumsi LPG berkurang hampir satu tabung per minggu di dapur usaha mitra. Biaya listrik bulanan beberapa tambak menurun hingga 10%. Warga mulai menghitung efisiensi operasional mereka. Kesadaran terhadap manajemen energi mulai tumbuh.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa solusi sederhana, bila diterapkan konsisten, mampu membawa dampak besar. KKN TIM 38 UNDIP berharap inisiatif ini menjadi langkah awal perubahan. Edukasi kecil memicu budaya hemat energi. Budidaya ikan dan pengolahan hasil laut yang hemat energi dapat meningkatkan keuntungan, menjaga lingkungan, serta mendorong kemandirian desa Rowosari, Tambaksari, Semarang.