Masa Depan Indonesia Dimulai dari Bahan Pangan yang Selama Ini Kita Anggap Biasa

Lifestyle writer. Humaniora enthusiast
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Pratitis Nur Kanariyati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa pertanian, saya semakin sering melihat satu ironi dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia memiliki tanah yang luas, iklim yang memungkinkan berbagai tanaman pangan tumbuh, serta masyarakat yang sejak lama memiliki pengetahuan dalam mengolah berbagai hasil pertanian. Namun, di meja makan kita, pilihan pangan justru sering kali terasa semakin seragam.
Nasi menjadi makanan pokok yang hampir tidak tergantikan. Tepung terigu digunakan untuk membuat berbagai makanan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, banyak bahan pangan yang tumbuh di sekitar kita justru semakin jarang dikenal, apalagi dikonsumsi oleh generasi muda.
Padahal, bahan pangan lokal yang selama ini kita anggap biasa bisa memiliki arti yang jauh lebih besar.
Ia bukan sekadar umbi yang tumbuh di pekarangan. Bukan sekadar makanan tradisional yang dikonsumsi masyarakat desa. Bukan pula sekadar alternatif ketika beras sulit diperoleh. Jika dilihat dari perspektif pertanian dan ketahanan pangan, pangan lokal merupakan salah satu modal penting untuk membangun sistem pangan Indonesia yang lebih beragam.
Kimpul adalah salah satu contohnya.
Bagi sebagian orang, terutama masyarakat perkotaan dan generasi muda, nama kimpul mungkin terdengar asing. Sebagian lainnya mungkin mengenalnya sebagai makanan kampung yang tidak memiliki gengsi. Padahal, tanaman dari genus Xanthosoma ini telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pangan.
Kimpul memang bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Namun, perjalanan sebuah tanaman hingga dapat tumbuh, dibudidayakan, dan dimanfaatkan masyarakat di suatu wilayah menunjukkan bahwa label “lokal” tidak selalu harus dimaknai sebagai tanaman yang pertama kali berasal dari wilayah tersebut.
Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah sumber daya dapat beradaptasi dengan lingkungan, menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dan kemudian dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Di Indonesia, kimpul dapat ditemukan di berbagai daerah. Tanaman ini cukup adaptif dan dapat tumbuh di dataran rendah hingga wilayah yang lebih tinggi. Penelitian mengenai sumber daya genetik lokal umbi-umbian juga menunjukkan bahwa tanaman sejenis kimpul dapat ditemukan pada lahan dengan kondisi tertentu yang relatif kering dan minim air.
Tentu saja, potensi tersebut tidak berarti kimpul tanpa persoalan. Salah satu tantangannya adalah penanganan pascapanen. Kondisi lembap, kadar air yang meningkat, serta luka pada umbi dapat mempercepat kerusakan dan memicu pertumbuhan mikroorganisme. Artinya, membicarakan pangan lokal tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa tanaman tersebut potensial. Kita juga perlu berbicara mengenai teknologi budidaya, pascapanen, pengolahan, distribusi, hingga pasar.
Di sinilah perspektif pertanian menjadi penting.
Selama ini, ketika membicarakan pangan lokal, perhatian kita sering berhenti pada pertanyaan: “Apa yang bisa dimakan?”
Padahal pertanyaan yang lebih besar adalah: “Bagaimana bahan pangan yang tersedia di sekitar kita dapat menjadi bagian dari sistem pangan nasional?”
Kimpul memberikan gambaran sederhana mengenai pertanyaan tersebut.
Umbi ini memiliki kandungan karbohidrat kompleks dan pati resisten yang membuatnya menarik untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pangan. Guru Besar Ilmu Gizi IPB, Prof. Evy Damayanti, misalnya, menilai kimpul dapat menjadi bahan baku yang layak untuk memperoleh pati resisten tipe III. Pati resisten tersebut dikaitkan dengan manfaat bagi kesehatan saluran pencernaan dan penyerapan zat gizi mikro.
Potensi tersebut tentu tidak serta-merta menjadikan kimpul sebagai pengganti nasi. Justru di sinilah gagasan diversifikasi pangan perlu ditempatkan.
Diversifikasi bukan berarti mengganti satu makanan dengan makanan lain secara total. Diversifikasi berarti memperluas pilihan dan mengurangi ketergantungan kita pada satu atau beberapa sumber pangan saja.
Indonesia memiliki begitu banyak pilihan: singkong, sagu, jagung, sorgum, ubi jalar, talas, kimpul dan berbagai umbi lainnya. Masing-masing memiliki karakteristik, keunggulan, tantangan budidaya, serta kondisi geografis yang berbeda.
Kita tidak harus memilih salah satunya dan meninggalkan yang lain. Sebaliknya, keberagaman itulah yang seharusnya menjadi kekuatan.
Dalam konteks tersebut, pangan lokal dapat dipandang sebagai bentuk investasi jangka panjang.
Ketika masyarakat memiliki lebih banyak pilihan sumber karbohidrat, sistem pangan menjadi tidak terlalu bergantung pada satu komoditas. Ketika petani memiliki pilihan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahannya, peluang ekonomi di tingkat lokal juga dapat berkembang. Dan ketika bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang sesuai dengan selera masyarakat modern, jarak antara pertanian dan konsumen dapat semakin dekat.
Kimpul kembali memberikan contoh yang menarik.
Penelitian tahun 2026 menunjukkan bahwa kimpul dapat diolah menjadi tepung dan dimanfaatkan dalam berbagai produk pangan, termasuk mi, biskuit, cookies, kue, hingga food bar. Artinya, kimpul tidak harus selalu hadir dalam bentuk umbi rebus atau kukus seperti yang mungkin kita kenal selama ini.
Ini penting karena salah satu persoalan pangan lokal bukan semata-mata ketersediaannya, melainkan cara kita memperkenalkannya.
Generasi muda mungkin tidak tertarik pada makanan yang dipersepsikan sebagai “makanan orang dulu”. Namun, persepsi itu bisa berubah ketika bahan yang sama hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Kita tidak perlu memaksa anak muda mencintai pangan lokal hanya dengan mengatakan bahwa pangan lokal adalah warisan nenek moyang. Kita juga perlu menunjukkan bahwa pangan lokal bisa relevan dengan kehidupan mereka hari ini.
Kimpul bisa menjadi tepung. Tepung bisa menjadi mi, biskuit atau produk pangan lainnya. Begitu pula dengan komoditas lokal lain yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui inovasi.
Dari sinilah saya melihat bahwa kebanggaan terhadap pangan lokal tidak cukup dibangun melalui kampanye. Ia harus dibangun melalui pengalaman.
Masyarakat harus menemukan pangan lokal di pasar. Anak-anak harus mengenalnya di sekolah. Produk olahannya harus tersedia dengan harga yang masuk akal. Petani harus mendapatkan manfaat ekonomi dari produksinya. Dan industri harus melihat bahwa bahan baku lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang bernilai tambah.
Karena itu, ketika pemerintah berupaya memperkuat pemenuhan gizi masyarakat melalui program seperti Makan Bergizi Gratis, saya melihat ada ruang yang penting untuk memperkenalkan keberagaman pangan Indonesia.
Program pemenuhan gizi dalam skala besar tentu membutuhkan bahan pangan yang tersedia, aman, bergizi, dan dapat dikelola secara berkelanjutan. Dalam konteks itu, bahan pangan lokal dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem tersebut.
Namun, keterlibatan pangan lokal sebaiknya tidak berhenti pada menjadikan bahan lokal sebagai sekadar komponen menu. Lebih jauh, program pangan berskala nasional dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan masyarakat—terutama anak-anak—pada keberagaman sumber pangan Indonesia.
Anak-anak yang terbiasa mengenal beragam bahan pangan sejak dini akan memiliki pengalaman yang berbeda ketika mereka tumbuh dewasa. Mereka tidak hanya mengenal nasi sebagai satu-satunya gambaran makanan pokok. Mereka juga dapat mengenal bahwa Indonesia memiliki banyak sumber pangan lain yang berasal dari lingkungan sekitar.
Di sinilah program pemenuhan gizi dapat bersinggungan dengan agenda diversifikasi pangan.
Tentu saja, menjadikan pangan lokal bagian dari program berskala besar bukan perkara sederhana. Ada persoalan kontinuitas pasokan, standar kualitas, keamanan pangan, distribusi, kapasitas produksi, harga, hingga pengolahan. Karena itu, keterlibatan petani, perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, ahli gizi, dan industri pangan menjadi penting.
Bagi mahasiswa pertanian, tantangan tersebut justru membuka ruang untuk berkontribusi.
Pertanian tidak seharusnya hanya dipahami sebagai aktivitas menghasilkan bahan mentah. Mahasiswa pertanian perlu melihat bagaimana sebuah komoditas bergerak dari lahan menuju meja makan. Bagaimana produktivitas dapat ditingkatkan. Bagaimana hasil panen dapat disimpan lebih lama. Bagaimana teknologi pengolahan dapat diterapkan. Bagaimana petani memperoleh nilai tambah. Dan yang tidak kalah penting, bagaimana konsumen bersedia mengonsumsi produk tersebut.
Sebab, sehebat apa pun potensi sebuah tanaman, ia tidak akan menjadi bagian penting dari sistem pangan apabila tidak ada yang menanam, mengolah, membeli, dan mengonsumsinya.
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang besar untuk membangun sistem pangan yang lebih beragam. Masalahnya mungkin bukan karena kita kekurangan sumber pangan, tetapi karena sebagian sumber pangan tersebut belum mendapatkan perhatian yang sebanding.
Kita terlalu sering mengukur nilai sebuah bahan pangan berdasarkan seberapa populer ia di pasar, bukan berdasarkan potensi yang dimilikinya.
Kita melihat kimpul sebagai makanan sederhana. Padahal, di dalamnya terdapat peluang untuk diversifikasi. Kita melihat singkong sebagai makanan tradisional, padahal ia dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Kita melihat sagu sebagai pangan daerah tertentu, padahal ia merupakan salah satu sumber pangan yang memiliki karakteristik dan potensi tersendiri.
Cara pandang seperti inilah yang menurut saya perlu diubah.
Kebanggaan terhadap pangan lokal bukan berarti menolak pangan dari luar. Bukan pula berarti semua kebutuhan pangan harus dipenuhi oleh satu jenis tanaman lokal. Kebanggaan itu berarti menyadari bahwa Indonesia memiliki sumber daya pangan yang beragam dan layak dikembangkan.
Kita perlu berhenti memandang pangan lokal sebagai pilihan kelas dua.
Kimpul hanyalah satu contoh kecil dari begitu banyak tanaman yang mungkin selama ini tumbuh di sekitar kita tanpa mendapatkan perhatian yang cukup. Ia menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat sederhana dapat memiliki nilai strategis ketika dilihat dengan perspektif yang lebih luas.
Sebagai mahasiswa pertanian, saya percaya masa depan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita mampu memproduksi. Masa depan itu juga ditentukan oleh seberapa beragam sumber pangan yang kita miliki, seberapa kuat petani lokal menjadi bagian dari rantai pangan, serta seberapa kreatif kita mengubah hasil pertanian menjadi pangan yang diterima masyarakat.
Pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya tentang memiliki cukup makanan hari ini. Ia juga tentang memastikan bahwa generasi berikutnya memiliki banyak pilihan sumber pangan.
Mungkin sudah saatnya kita melihat kembali apa yang tumbuh di halaman, kebun, ladang, dan desa-desa kita.
Sebab bisa jadi, bahan pangan yang selama ini kita anggap biasa justru merupakan bagian dari jawaban atas tantangan pangan Indonesia di masa depan.
