Cara Baru Guru Mengajar Anak TK
Tulisan dari Prof Ulani Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
oleh Prof. Ulani Yunus, Guru Besar LSPR Institute
Tim dosen, staf dan mahasiswa LSPR Institute berbagi ilmu kepada para guru TK yang tergabung pada Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI) Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. tema yang diusung adalah Gema Ceria. Tim LSPR Institute ingin berbagi agar keceriaan bergema di ruang-ruang kelas TK yang dikunjungi.
Majalaya, kota kecamatan di Kabupaten Bandung, punya julukan yang cukup terkenal: kota dolar. Sejak dulu, daerah ini menjadi salah satu pusat industri tekstil terbesar di Indonesia, dan ke sanalah para pekerja dari berbagai daerah berdatangan — dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan banyak wilayah lain. Mereka datang membawa keluarga, membawa bahasa ibu, membawa kebiasaan kampung halaman. Anak-anak mereka lahir atau tumbuh besar di lingkungan pabrik, tapi memori tentang "rumah" yang sesungguhnya sering kali masih tertinggal jauh di kampung ‘asli’ nya.
Pertanyaannya sederhana tapi jarang dipikirkan orang: ke mana anak-anak ini membawa identitasnya? Dan siapa yang membantu mereka menata cerita tentang diri mereka sendiri, di tengah dua dunia yang berbeda itu?
Dari situlah program pengabdian masyarakat tim LSPR Institute of Communication and Business — bermula. Tim ini menggandeng IGTKI Majalaya, bukan untuk mengajari mereka cara mengajar dan mendongeng kepada anak-anak TK, tapi untuk sesuatu yang jauh lebih halus: mengajak para guru mendengarkan cerita anak-anak didiknya secara berbeda.
Bercerita yang Bukan Satu Arah
Selama ini, bercerita di kelas TK sering dipahami sebagai kegiatan satu arah. Guru berdiri di depan, membacakan, anak-anak mendengarkan. Tim ini memberikan arah yang berbeda — membalik posisi itu. Anak-anak diajak menjadi pencerita, dan gurulah yang belajar menyimak.
Hasilnya mengejutkan, bahkan bagi tim yang sudah cukup lama bergelut dengan riset komunikasi. Anak-anak dari keluarga migran, ketika diberi ruang, dengan sendirinya menyelipkan nama makanan kampung halaman, permainan tradisional, bahasa daerah, ke dalam cerita mereka. Anak-anak lain juga mampu membangun cerita di sekitar dunia mereka— kendaraan pekerja, seragam orang tua, rumah kontrakan, jalanan, kereta kuda di kota yang tadinya asing bagi mereka.
Yang paling menarik, kedua dunia itu sering muncul dalam satu cerita yang sama. Seorang anak bisa saja menceritakan permainan tradisional dari kampungnya, tapi lokasinya ia pindahkan ke halaman rumah kontrakan dekat tempat orang tuanya bekerja. Anak ini sedang dan tanpa ia sadari, meracik identitas barunya sendiri —sebagai sebuah campuran, sebagian dari kampung asalnya, sebagian mereka ambil di kota Majalaya yang sekarang menjadi kota tempat tinggalnya.
Guru-guru yang diberi arahan tim dosen, mereka mendampingi murid TK dan mulai berpikir ulang tentang tugasnya yang tadinya hanya mengajarkan huruf dan angka serta bernyannyi lalu aktif bercerita kepada anak didik. Kini, para guru memberi ruang bercerita kepada anak TK, para guru pun menyaksikan proses yang jauh lebih besar: anak-anak menegosiasikan siapa dirinya.
Sekolah yang Dibentuk oleh Ceritanya Sendiri
Program ini terasa berbeda dari sekadar kegiatan pengabdian kampus seperti biasanya.
Selama ini, sekolah membangun citranya lewat cara-cara yang lazim: prestasi akademik, fasilitas, promosi. Tapi dari apa yang kami amati di Majalaya, citra sekolah sebenarnya bisa lahir dari hal sederhana dan jujur — dari cerita sehari-hari yang mengalir di kelas. Ketika sebuah TK membiarkan anak-anak dari berbagai daerah bercerita dengan bahasa dan pengalamannya masing-masing, sekolah itu sedang membangun reputasinya sendiri sebagai ruang yang menerima keberagaman, bukan lewat baliho atau brosur, melainkan lewat pengalaman nyata anak-anak dan orang tuanya.
Tim LSPR Institute menyebutnya sebagai pendekatan “Bercerita Partisipatif untuk Branding Identitas Sekolah” — istilah yang mungkin terdengar akademis, tapi maksudnya sederhana: sekolah yang baik tidak dibangun lewat klaim, melainkan lewat cerita yang tumbuh dari dalam komunitasnya sendiri.
Buku yang Ikut Pulang
Selain lokakarya bercerita, ada satu momen yang cukup mengharukan di penghujung kegiatan. Kami membawa serta buku-buku karya dosen LSPR yang diterbitkan LSPR Publishing untuk dibagikan kepada para guru IGTKI Majalaya. Bukan sekadar suvenir seremonial — buku-buku itu memang kami niatkan menjadi bahan bacaan dan penyemangat guru di kelas-kelas mereka nanti.
Beberapa guru langsung membuka halamannya di tempat, sambil bertanya bagaimana buku itu bisa dipakai untuk menjadi cerita di sekolahnya. Tim LSPR merasakan bahwa pengabdian tidak berhenti ketika rombongan pulang ke Jakarta. Ceritanya berlanjut, dan semoga, buku-buku itu ikut menjadi memori penyemangat para guru.
Program Perlu Berkelanjutan
Tentu saja program ini belum sempurna. Salah satu catatan penting dari kegiatan kami: suara orang tua migran sendiri masih jarang hadir langsung dalam proses bercerita. Melalui guru-guru, anak-anak TK diajak berani menyuarakan pengalamannya, tapi keluarga mereka — yang justru menjadi sumber cerita itu — belum sepenuhnya dilibatkan. Ini pekerjaan rumah untuk tahap pengabdian berikutnya.
Tapi setidaknya, dari Majalaya, tim dosen LSPR membawa pulang satu keyakinan baru: bahwa sekolah yang inklusif tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Kadang ia lahir dari hal kecil dengan membiarkan seorang anak TK menyelesaikan kalimatnya — "Waktu di kampung..." — orang dewasa jangan terburu-buru memotongnya. Cerita akan berlanjut menjadi temuan unik dalam proses belajar dan pada akhirnya menjadi branding sekolah.

