Konten dari Pengguna

Mewarisi Sumpah Pemuda, Menolak Diam di Tengah Krisis

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Punta Yoga Astoni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para pemuda sudah selayaknya memang harus marah ketika negara sedang membakar dirinya sendiri. Sumpah Pemuda yang terjadi 98 tahun silam bukan sekadar acara seminar atau acara basa-basi yang kebetulan pesertanya manusia Indonesia yang berusia muda. Peristiwa sumpah pemuda tidak boleh dibaca hanya sebagai kisah sejarah semata.

foto AI dari foto asli punta yoga
zoom-in-whitePerbesar
foto AI dari foto asli punta yoga

Sumpah Pemuda menjadi pondasi penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, konferensi pemuda tersebut pada akhirnya melahirkan bentuk penegasan persatuan lintas suku, bahasa, dan daerah. salah satu tujuannya untuk membakar semangat perjuangan menuju kemerdekaan, jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945. Tiga sumpah yang telah diikrarkan merupakan salah satu dokumen yang nantinya pada era-era menuju kemerdekaan digunakan sebagai tiang persyaratan lahirnya sebuah negara.

Konsep sebuah bangsa tentu membutuhkan unsur adanya manusia yang disebut rakyat di dalamnya. Unsur keberadaan suatu bangsa atau rakyat merupakan syarat penting mendorong lahirnya sebuah negara, oleh sebab itu konsep "rakyat" secara umum lebih mendekati dengan konsep nation daripada state. Hal itu dikarenakan ketika kita berbicara tentang konsep negara, maka ia adalah kristalisasi dari keinginan sebuah bangsa yang bertransformasi dan diwadahi oleh negara yang digunakan mencapai tujuan politiknya. Negara tidak akan pernah ada jika tidak memiliki rakyat di dalamnya. Rakyat tidak akan pernah ada jika tidak ada kesadaran dalam sekelompok manusia jika mereka memang memiliki keterkaitan antar individu tersebut dengan merasa bahwa memang mereka satu bangsa.

Keberadaan bangsa Indonesia saat ini merupakan kesepakatan sosial politik oleh pemuda-pemuda indonesia pada tahun 1928 silam pada Kongres Pemuda II. Tiga sumpah yang disepakati pada hari tersebut, merupakan pengakuan komunal bahwa mereka siap melepaskan hak ekslusif setiap suku/kelompok baik dari sisi tanah air, bangsa dan Bahasa yang berbeda untuk menjadi satu kesatuan dalam bentuk suatu negara. Maka, pada titik itulah cikal bakal penyerahaan kepenting-kepentingan rakyat untuk berkontrak sosial untuk membentuk negara yang bahkan belum lahir pada saat itu dan baru terlaksana pada tahun 1945.

Golongan pemuda sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari setiap lembar episode bangsa ini sampai hari ini. Peran ini terlihat dalam penggalian konsep nasionalisme dan kebangsaan. pada sisi terjadinya peristiwa kita melihat pada episode rengasdengklok pada peristiwa proklamasi, episode keruntuhan orde lama, keruntuhan orde baru dan kondisi hari ini dimana pemuda indonesia yang disebut sebagai generasi emas Indonesia. Oleh sebab itu setiap rezim pemerintah yang berkuasa tentu akan selalu bertemu dan berinteraksi dengan golongan pemuda Indonesia. Tuhan mungkin memang menugaskan pemuda Indonesia sebagai "tangan yang terlihat" untuk mengembalikan tatanan baik yang dihancurkan oleh keserakahan rezim setiap zamannya.

Pada tahun ini, pemuda Indonesia sepertinya harus kembali bergelora dan marah untuk merespon sikap pemerintah yang tidak terlihat kompetensinya untuk mengatasi semua problem yang ada di negara ini. Problem hari ini yang memantik kemarahan publik adalah problem yang diciptakan oleh penguasa itu sendiri, misalnya tata kelola MBG, koperasi desa merah putih, meningkatnya sentralisasi pemerintah pusat sehingga merugikan kepentingan daerah, menguatnya aroma militerisme dalam tubuh pemerintahan. kondisi hari ini terlihat adanya ketidakberdayaan negara untuk menangani kebakaran hutan, banjir, gempa bumi atau bencana alam yang terjadi selama 2 tahun ini dan adanya kondisi ekonomi yang semakin tidak melindungi kelompok rentan dan marjinal dikarenakan kekayaan negara tidak terdistribusi dengan adil.

Idealisme pemuda Indonesia sudah sepatutnya hal mewah yang harus dijaga oleh mereka sendiri, idealisem ini digunakan sebagai pisau untuk menguliti setiap kebijakan pemerintah. Sumpah pemuda merupakan salah satu hasil buah pikir idealisme pemuda indonesia maka dalam hal perayaannya tidak boleh dibatasi hanya seremonial yang digelar dari versi pemerintah namun memang seharusnya para pemuda indonesia menciptakan versi yang lebih original yang lahir dari ekspresi pemuda hari ini. Di tahun 2026 ini, inisiatif itu terlihat dalam perayaan para pemuda dalam aksi (demonstrasi) yang terjadi 28 Oktober kemarin, Pemuda memberikan kritik atas semua kebijakan pemerintah yang dianggap jauh dari cita-cita bangsa. Oleh sebab itu pemerintah wajib untuk mendengarkan dan memperbaiki keadaan dari kebijakan yang pemerintah akan buat dan tidak perlu mencari alasan kenapa semua kritikan itu muncul.

Pemuda Indonesia berhak marah, dikarenakan kerusakan yang terjadi pada masa ini, akan memiliki dampak pada kehidupan mereka di masa akan datang. Pemerintah seharusnya melihat perayaaan 98 tahun sumpah pemuda yang terjadi tahun ini sebagai sebuah alarm yang berbunyi keras bahwa perilaku pemerintah hari ini jauh dari kata kesejahteraan rakyat. Pemerintah yang abai dengan sinyal ini akan merasakan goncangan lebih besar dikarenakan perayaan 100 tahun sumpah pemuda tentu akan lebih semarak, oleh sebab itu perayaan yang akan disambut dua tahun lagi seharusnya perayaan berlangsung khidmat atau malah perayaan kemarahan yang semakin memuncak oleh pemuda-pemuda Indonesia.