Keamanan Internasional Sekarang Lebih Aneh (dan Lebih Dekat) dari yang Kita Kira

Mahasiswi Hubungan Internasional, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Putri Afnelia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah kepikiran nggak, bahwa perang atau ancaman antarnegara sekarang bisa dimulai dari router Wi-Fi di rumah orang, satelit yang lewat di atas kepala, atau bahkan aplikasi alarm di HP? Bukan lagi soal tentara yang berbaris di perbatasan atau kapal perang yang ngejar-ngejaran di laut. Sekarang, keamanan internasional justru seringkali terasa seperti drama yang absurd tapi nyata.
Bayangin aja: tahun 2025 saja tercatat lebih dari 400 serangan siber yang menyasar sektor antariksa. Tapi yang bikin kaget, hampir semuanya nggak langsung ngenain satelit yang lagi mengorbit. Targetnya malah stasiun bumi, perusahaan space, modem pengguna, bahkan sistem navigasi yang dipake kapal tanker atau stasiun cuaca. Ada yang bikin komunikasi satelit di kapal minyak mati total, ada yang bikin antena pemantau gempa di Italia error, ada juga yang bikin layanan cuaca di Afrika Selatan tiba-tiba offline. Rasanya seperti nonton film sci-fi yang setting-nya justru di kantor biasa, bukan di luar angkasa.
Yang lebih absurd lagi, sekelompok peneliti pernah berhasil intersep sinyal satelit cuma pakai peralatan seharga kurang dari seribu dolar. Dari tempat duduk di California Selatan, mereka bisa nyadap cuplikan percakapan telepon, SMS, lalu lintas Wi-Fi pesawat, bahkan data dari jaringan listrik dan platform minyak lepas pantai. Ada juga informasi yang berhubungan dengan aktivitas militer yang ternyata dikirim tanpa enkripsi yang memadai. Bayangin, data seberharga itu bisa “ketangkep” orang iseng (atau nggak iseng) cuma karena sinyalnya nggak dilindungi dengan baik.
Belum lagi soal alarm palsu. Baru-baru ini ada kasus di mana aplikasi peringatan serangan udara di satu negara sempat dikompromi. Pengguna menerima notifikasi bohongan soal radiasi nuklir, ancaman kimia, bahkan klaim peluncuran rudal hipersonik. Orang-orang panik, padahal semuanya palsu. Di sisi lain, ada laporan tentang kelompok yang memanfaatkan perangkat yang sudah “terinfeksi” di berbagai negara sebagai jaringan tersembunyi untuk operasi spionase. Router rumah atau kamera CCTV yang insecure tiba-tiba jadi bagian dari infrastruktur ancaman internasional.
Yang bikin semua ini terasa lebih “fun” (meski juga ngeri) adalah kenyataan bahwa ancaman ini nggak lagi eksklusif milik negara besar. Serangan bisa datang dari aktor non-negara, kelompok kriminal, atau bahkan hacktivis yang tiba-tiba ikut campur di tengah ketegangan geopolitik. Ransomware, pencurian data, dan manipulasi informasi sekarang jadi bagian rutin dari “perang” modern. Biaya rata-rata satu kebocoran data global sudah mendekati lima juta dolar, dan angka itu terus naik. Sementara itu, banyak serangan sekarang berlangsung dalam hitungan menit, bukan hari.
Ironisnya, kita semua ikut jadi bagian dari peta keamanan ini. Setiap kali kita nyalain Wi-Fi, update aplikasi, atau bahkan cuma buka notifikasi di HP, kita sebenarnya lagi berdiri di garis depan yang nggak kelihatan. Keamanan internasional masa kini nggak cuma urusan diplomat atau jenderal. Kadang-kadang, itu soal seberapa kuat password router tetangga, seberapa hati-hati perusahaan space menjaga server mereka, atau seberapa cepat negara-negara mau bekerja sama melindungi infrastruktur yang sama-sama mereka pakai.
Jadi, lain kali kalau dengar berita soal “ancaman siber internasional”, coba bayangin dulu: mungkin yang lagi diserang bukan benteng militer, tapi modem di ruang server yang letaknya cuma beberapa kilometer dari rumah kita. Atau satelit yang lewat diam-diam di langit malam, yang datanya ternyata bisa dibaca orang asing dengan peralatan murah. Dunia sekarang memang lebih terhubung, tapi juga lebih rentan dalam cara yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Dan justru karena itu, kita semua perlu lebih aware bukan biar takut, tapi biar nggak kaget kalau suatu hari alarm di HP kita tiba-tiba bunyi tanpa alasan yang jelas.
