Euforia Digital: Kritik terhadap E-book Sebagai Media Pembelajaran
Tulisan dari Putri Ergadia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Euforia Digital: Kritik terhadap E-book Sebagai Media Pembelajaran
Saat ini dunia pendidikan telah berkembang menuju arah digitalisasi sehingga dalam perjalanannya turut mencukupi kebutuhannya dengan bantuan peralatan digital entah menggunakan alat fisik maupun melalui fitur di dunia maya.
Salah satu dampak revolusi 4.0 menuju 5.0 dalam dunia pendidikan adalah pergeseran cara dan metode membaca dari cara membaca menggunakan media cetak perlahan beralih ke cara membaca menggunakan media elektronik. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemudahan zaman khususnya di bidang pendidikan mengantarkan kita pada akses serba digital sehingga buku pembelajaran pun dapat diakses secara digital melalui perangkat elektronik yang biasa dikenal dengan e-book atau electronic book (buku elektronik) sebagai salah satu penunjang pembelajaran dalam mencukupi kebutuhan media belajar secara digital.
Peralihan cara membaca dari yang semulanya menggunakan buku cetak menjadi buku elektronik tidak sepenuhnya dapat diterapkan secara permanen dan menyeluruh di setiap lembaga pendidikan. Salah satu penyebabnya adalah masih terdapat sekolah-sekolah yang belum merasakan pemerataan, khususnya pada daerah terpencil dan terpelosok yang masih belum terbiasa dengan penerapan digitalisasi kecuali di lembaga-lembaga besar yang turut disokong oleh perekonomian negara. Namun dalam hal ini bukan berarti lembaga pendidikan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) tidak merasakan sokongan ekonomi dari pemerintah atau negara, namun kalimat ini lebih dikategorikan pada keadaan yang tidak merata atas masalah perekonomian di lembaga pendidikan, seperti yang kita ketahui bahwa wilayah 3T seringkali dikaitkan dengan wilayah pelosok yang untuk mengunjungi tempat tersebut diperlukan tenaga yang lebih daripada mengunjungi wilayah di luar kategori 3T.
Untuk mengakses e-book atau buku elektronik sebagai materi pembelajaran tentunya diperlukan jaringan internet yang memadai sehingga isi dari e-book dapat sepenuhnya terbuka dan dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran, hal ini tentu menjadi salah satu kekurangan tingkat kecil pada e-book khususnya untuk diakses di daerah 3T. Jaringan internet di daerah 3T di Indonesia belum sepenuhnya terjaring secara menyeluruh karena dalam melakukan pemerataan infrastruktur juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan atau kondisi geografis suatu wilayah yang mempengaruhi tingkat konektivitas dan kecepatan jaringan internet, kasus terjadi apabila di suatu daerah 3T sudah mengusahakan pemasangan jaringan internet namun faktor-faktor eksternal tetap mempengaruhi kelancaran internet tersebut. Beberapa risiko yang harus diambil adalah lemahnya jaringan dan kecepatan internet karena masalah telekomunikasi yang kurang memadai. Pembahasan mengenai jaringan internet tentu saja akan berpengaruh terhadap keberhasilan penggunaan e-book atau buku elektronik sebagai media pembelajaran, dan permasalahan ini tidak akan menutup kemungkinan bahwa e-book atau buku elektronik tidak dapat sepenuhnya menunjang pembelajaran di seluruh wilayah sebagai sebuah media pembelajaran.
Inovasi e-book sebagai media pembelajaran terkesan seperti euforia digital atau kesenangan sesaat yang tetap memberi dampak positif di celah adanya dampak negatif dalam dunia digital dan bidang pendidikan, namun bagaimanapun akan selalu ada ketidaksempurnaan dalam setiap media pembelajaran, jika kita kembalikan pada pemikiran pemerataan itu artinya harus ada sikap dan niat besar untuk memeratakan pendidikan sehingga seluruh lembaga pendidikan dapat menggunakan setiap inovasi yang dirancang secara digital. Namun apabila pemerataan pendidikan masih sulit dilakukan, maka jalan tengah bagi permasalahan media pembelajaran adalah menggunakan dan memanfaatkan suatu media pembelajaran tergantung kebutuhan yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan.
Apabila terdapat salah satu media pembelajaran yang gencar dibicarakan namun kemampuan tidak dapat dilampaui, maka langkah yang dapat diambil adalah memaksimalkan media pembelajaran yang ada sembari dikaitkan dengan masalah digitalisasi.
Adapun jika ulasan mengenai kritik e-book atau buku elektronik dipetakan berdasar kekurangan dan kelebihannya, maka kekurangan dan kelebihan e-book sebagai media pembelajaran dapat diurai sebagai berikut:
Kelebihan e-book sebagai media pembelajaran adalah terciptanya media pembelajaran yang menarik dan interaktif untuk membangkitkan semangat belajar peserta didik, di sisi lain kelebihan yang dimiliki e-book sebagai media pembelajaran adalah bersifat fleksibel karena peserta didik tidak perlu lagi membawa banyak buku fisik yang tebal untuk dibaca dan dipelajari, e-book bersifat interaktif dan dapat diakses secara gratis melalui jaringan internet, e-book sebagai buku elektronik juga dapat menjadi salah satu langkah penghijauan kembali bagi pohon-pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan percetakan kertas sebagai bahan baku pembuatan buku pembelajaran.
Kekurangan e-book sebagai media pembelajaran adalah keterbatasan jaringan internet yang digunakan untuk berselancar di halaman e-book, ketergantungan terhadap media digital, permasalahan mengenai kesehatan mata yang terlalu sering menatap layar, dan masalah pendistribusian mengenai hak cipta e-book sebagai media pembelajaran.
Sekian pembahasan mengenai e-book atau buku elektronik yang terkesan menjadi euforia digital bagi dunia pendidikan sebagai media pembelajaran. Segala kemudahan dan inovasi di dunia ini sebaiknya dapat selalu kita manfaatkan dengan bijak menggunakan pandangan kebutuhan yang secukupnya.

