Konten dari Pengguna

Mendengarkan Aktif Bukan Cuma Soal Diam, tetapi Juga Soal Memahami

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Larasati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dok. Pribadi/AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dok. Pribadi/AI

Banyak orang mengira mendengarkan aktif cukup dengan diam dan mengangguk, padahal memahami maksud lawan bicara jauh lebih menentukan. Berdasarkan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, 50 persen perusahaan menilai empati dan mendengarkan aktif sebagai keterampilan inti pekerja. Di tingkat organisasi, sebuah studi kasus di BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kebayoran Baru yang dimuat di JOCE IP edisi April 2026 menemukan miskomunikasi antarunit kerja menyebabkan duplikasi dan kesalahan proses, dan komunikasi berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pegawai. Menurut saya, dua temuan itu bertemu di satu hal: kualitas mendengarkan menentukan kualitas kerja.

Apakah diam berarti mendengarkan?

Belum tentu.

Sebagai ilustrasi hipotetis, bayangkan seorang atasan berkata, "Tolong rapikan laporan ini." Bawahan mengira yang dimaksud adalah format, padahal atasan ingin isinya diperbaiki. Pekerjaan awal memakan 3 jam, lalu harus direvisi dua kali masing-masing 2 jam, sehingga totalnya 7 jam. Jika bawahan bertanya 10 menit di awal untuk memastikan maksudnya, pekerjaan selesai dalam sekitar 3 jam 10 menit. Selisihnya 3 jam 50 menit, atau sekitar 55 persen waktu. Angka-angka ini rekaan untuk memudahkan penjelasan. Intinya, diam dan mengangguk tidak menjamin pesan dipahami.

Mendengarkan aktif menurut Rogers dan Farson

Carl Rogers dan Richard Farson (1957) memperkenalkan konsep mendengarkan aktif (active listening): pendengar berusaha memahami isi dan perasaan pembicara dari sudut pandang pembicara, lalu menyatakannya kembali untuk memastikan pemahamannya benar. Jadi mendengarkan bukan hanya menunggu giliran bicara. Contohnya, "Jadi yang Bapak maksud, isi laporannya yang diperbaiki, bukan tampilannya, ya?" Satu kalimat itu bisa mencegah dua kali revisi.

Keamanan psikologis: mendengarkan membuat orang berani bicara

Amy Edmondson (1999) menunjukkan bahwa tim dengan keamanan psikologis, yaitu keyakinan bahwa seseorang tidak akan dihukum atau dipermalukan karena berbicara, lebih banyak belajar dan lebih terbuka melaporkan kesalahan. Atasan yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh membangun rasa aman itu. Sebaliknya, atasan yang menyela atau menanggapi dengan defensif membuat bawahan memilih diam, sehingga masalah baru terlihat saat sudah besar. Menurut saya, mendengarkan bukan buang waktu, tetapi investasi untuk mendapatkan informasi yang akurat lebih cepat.

Langkah praktis mendengarkan aktif

Menurut saya, ada lima langkah sederhana:

Tahan diri untuk tidak menyela. Biarkan lawan bicara menyelesaikan kalimatnya.

Parafrase dengan kata-kata sendiri. "Jadi maksudnya..." adalah cara tercepat memastikan pemahaman.

Ajukan pertanyaan terbuka. "Bisa dijelaskan bagian mana yang paling penting?" lebih membantu daripada pertanyaan ya atau tidak.

Catat kesepakatan dan tindakan lanjutan. Ini mencegah ingatan yang berbeda di kemudian hari.

Singkirkan gangguan. Letakkan ponsel dan beri perhatian penuh, walau hanya sepuluh menit.

Tentu tidak semua situasi memungkinkan percakapan panjang. Saat tenggat sempit, waktu bertanya terasa mahal. Mendengarkan aktif juga tidak berarti menyetujui, melainkan memahami lebih dulu sebelum menanggapi. Di budaya kerja yang hierarkis, bawahan sering segan mengoreksi atasan, jadi atasan perlu memulai dengan membuka ruang bertanya.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting dari "apa yang akan kukatakan?" adalah "apa yang sebenarnya ingin disampaikan orang ini?" Berbicara membuat pesan keluar, sedangkan mendengarkan membuat pesan sampai. Mendengarkan aktif bukan bakat, melainkan kebiasaan yang bisa dilatih, dan hasilnya terasa di pekerjaan, tim, dan hubungan sehari-hari.