Konten dari Pengguna

Di Balik Cerita “Pulang” Nadia Omara: Ketika Diam dan Rahasia Menjadi Dinding da

Putri Rahmawati

Putri Rahmawati

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, di Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nadia Omara dan episode KHW 400. Gambar : Nadia Omara
zoom-in-whitePerbesar
Nadia Omara dan episode KHW 400. Gambar : Nadia Omara

Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan episode ke-400 Kisah Horor Wawak (KHW) milik Nadia Omara yang berjudul “Pulang”. Bukan hanya karena durasinya yang mencapai lebih dari dua jam, cerita tersebut juga menarik perhatian karena menghadirkan konflik keluarga, misteri, dan berbagai sudut pandang yang saling berkaitan.

Episode spesial yang tayang pada 25 Oktober 2026 ini mengangkat kisah tentang Santi, Edo, dan anak mereka, Tata. Ceritanya disampaikan melalui tiga sudut pandang narasumber, yaitu Rizki, Fajar, dan Dimas. Nama tokoh serta lokasi dalam kisah tersebut disamarkan untuk menjaga privasi pihak yang terlibat.

Namun, di balik unsur horor dan misteri yang membuat penonton penasaran, ada satu hal yang menarik untuk diperhatikan: persoalan komunikasi dalam keluarga.

Sebab, terkadang masalah dalam sebuah hubungan bukan hanya muncul karena perbedaan pendapat, melainkan juga karena ada banyak hal yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Tidak Semua Masalah Terlihat dari Luar

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menilai hubungan keluarga berdasarkan apa yang terlihat. Keluarga yang tampak harmonis dianggap tidak memiliki masalah. Orang tua dan anak yang terlihat akrab dianggap selalu memiliki komunikasi yang baik.

Padahal, kehidupan sebuah keluarga tidak sesederhana apa yang ditampilkan kepada orang lain.

Ada persoalan yang hanya diketahui oleh anggota keluarga tertentu. Ada perasaan yang disimpan karena takut menimbulkan pertengkaran. Bahkan, ada seseorang yang memilih diam karena merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang sebenarnya sedang dialami.

Hal ini membuat komunikasi menjadi bagian penting dalam membangun hubungan keluarga. Sebuah hubungan tidak cukup hanya terlihat baik dari luar, tetapi juga membutuhkan keterbukaan, rasa aman, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.

Ketika Diam Membuat Seseorang Kehilangan Ruang untuk Bercerita

Salah satu hal yang dapat kita renungkan dari kisah “Pulang” adalah pentingnya ruang komunikasi yang aman di dalam keluarga.

Tidak semua orang mudah menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Ada yang khawatir tidak dipercaya, takut disalahkan, atau merasa bahwa ceritanya tidak akan dianggap serius.

Akibatnya, seseorang bisa memilih menyimpan persoalannya sendiri.

Dalam komunikasi interpersonal, mendengarkan bukan hanya tentang menerima kata-kata dari orang lain. Ada empati, perhatian, dan usaha untuk memahami perasaan seseorang tanpa langsung menghakimi.

Terkadang, orang yang sedang menghadapi masalah tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Mereka mungkin hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan dan membuat mereka merasa bahwa suaranya berarti.

Karena itu, keluarga seharusnya menjadi salah satu tempat yang memberikan rasa aman untuk berbicara, bukan tempat yang membuat seseorang takut menyampaikan perasaannya.

Komunikasi Bukan Sekadar Berbicara, tetapi Juga Memahami

Kita mungkin sering mendengar kalimat bahwa komunikasi adalah kunci sebuah hubungan. Namun, dalam praktiknya, komunikasi tidak selalu berjalan mudah.

Ada perbedaan cara berpikir antara orang tua dan anak, perbedaan sudut pandang antara pasangan, hingga persoalan yang sulit dibicarakan karena melibatkan perasaan.

Di sinilah pentingnya komunikasi dua arah. Setiap anggota keluarga perlu memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan didengarkan dengan baik.

Komunikasi yang sehat juga tidak berarti semua orang harus selalu sepakat. Perbedaan pendapat tetap bisa terjadi, tetapi seharusnya disampaikan tanpa merendahkan atau mengabaikan perasaan pihak lain.

Lebih dari itu, keterbukaan perlu disertai rasa saling menghargai. Sebab, tidak ada komunikasi yang benar-benar sehat apabila seseorang hanya boleh berbicara tanpa pernah didengarkan.

Jangan Menunggu Cerita Menjadi Viral untuk Mulai Peduli

Ramainya episode KHW 400 menunjukkan bahwa cerita yang berkaitan dengan kehidupan keluarga dapat menarik perhatian banyak orang. Penonton tidak hanya mengikuti unsur misterinya, tetapi juga dapat menemukan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Namun, ada satu hal yang perlu diingat: kepedulian terhadap persoalan keluarga seharusnya tidak hanya muncul ketika sebuah cerita menjadi viral.

Di sekitar kita, mungkin ada teman yang sedang menghadapi masalah di rumah, seseorang yang kesulitan menyampaikan perasaannya, atau orang terdekat yang sebenarnya membutuhkan dukungan.

Kita tidak harus selalu mengetahui seluruh persoalan seseorang. Akan tetapi, kita bisa memulai dengan tidak mudah menghakimi, bersedia mendengarkan, dan menghargai ketika seseorang memilih untuk bercerita.

Jika seseorang menghadapi situasi yang membuatnya tidak aman, mendengarkan saja tidak selalu cukup. Dukungan dari orang tepercaya dan bantuan yang tepat juga penting.

Keluarga Seharusnya Menjadi Tempat untuk Pulang

Pada akhirnya, cerita “Pulang” dapat menjadi pengingat bahwa rumah bukan hanya tentang tempat seseorang tinggal, melainkan juga tentang rasa aman yang seharusnya hadir di dalamnya.

Keluarga idealnya menjadi tempat seseorang dapat berbicara tanpa takut diremehkan, menyampaikan perasaan tanpa langsung disalahkan, dan mencari dukungan ketika sedang menghadapi kesulitan.

Kita memang tidak bisa mengendalikan semua persoalan dalam kehidupan keluarga. Namun, kita bisa mulai memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang-orang terdekat.

Mungkin, satu percakapan sederhana yang selama ini tertunda bisa menjadi awal untuk membangun hubungan yang lebih terbuka.

Sebab, pada akhirnya, setiap orang bukan hanya membutuhkan tempat untuk pulang, tetapi juga seseorang yang bersedia mendengarkan ketika mereka ingin bercerita.