Satu Pesan, Dua Makna: Mengapa Komunikasi Lewat Chat Sering Disalahpahami?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, di Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Putri Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah mengirim pesan dengan maksud bercanda, tetapi justru dianggap menyindir? Atau menerima balasan singkat seperti “oh”, “yaudah”, dan “terserah”, lalu menghabiskan waktu memikirkan apa sebenarnya maksud orang tersebut?
Situasi seperti ini cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama ketika komunikasi melalui aplikasi pesan sudah menjadi bagian dari rutinitas. Kita menggunakannya untuk bertukar kabar, menyelesaikan urusan pekerjaan, berdiskusi dengan teman, hingga membicarakan hal-hal pribadi. Namun, meskipun terasa praktis, komunikasi lewat chat tidak selalu membuat pesan tersampaikan sesuai dengan maksud pengirimnya.
Satu kalimat yang bagi seseorang terdengar biasa saja bisa terasa dingin bagi orang lain. Pesan yang dimaksudkan sebagai candaan juga bisa dianggap serius. Akhirnya, percakapan yang awalnya sederhana justru berkembang menjadi kesalahpahaman.
Ketika Kata-Kata Tidak Cukup Menjelaskan Maksud
Dalam komunikasi tatap muka, kita tidak hanya memahami pesan melalui kata-kata. Ekspresi wajah, intonasi suara, gerakan tubuh, dan situasi saat percakapan berlangsung turut membantu kita menafsirkan maksud lawan bicara.
Hal tersebut berbeda dengan komunikasi melalui chat. Penerima pesan biasanya hanya mengandalkan tulisan, emoji, tanda baca, dan konteks percakapan untuk memahami maksud pengirim. Akibatnya, beberapa petunjuk yang biasanya membantu menjelaskan perasaan seseorang tidak selalu tersedia.
Contohnya, pesan “terserah kamu aja” bisa memiliki arti yang berbeda-beda. Dalam situasi tertentu, kalimat tersebut benar-benar menunjukkan kebebasan memilih. Namun, dalam situasi lain, penerima bisa menafsirkannya sebagai bentuk kekecewaan atau ketidaksukaan.
Masalahnya, penerima pesan tidak selalu mengetahui situasi yang sedang dialami pengirim. Tanpa penjelasan tambahan, seseorang akhirnya mengisi bagian yang kosong berdasarkan pengalaman, suasana hati, atau perkiraannya sendiri.
Mengapa Kita Sering Salah Menafsirkan Pesan?
Kesalahpahaman dalam komunikasi digital tidak hanya disebabkan oleh kalimat yang ambigu. Kondisi emosional seseorang juga dapat memengaruhi cara ia memahami pesan.
Ketika sedang merasa cemas atau kesal, balasan singkat mungkin terasa lebih menyakitkan daripada biasanya. Sebaliknya, ketika suasana hati sedang baik, kalimat yang sama bisa dianggap biasa saja. Artinya, pesan yang diterima tidak selalu ditafsirkan secara netral karena setiap orang memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda.
Selain itu, kebiasaan membalas pesan dengan cepat terkadang membuat seseorang tidak sempat memikirkan bagaimana kalimatnya akan dipahami orang lain. Pengirim mungkin merasa sudah menyampaikan maksudnya dengan jelas, padahal penerima menangkap arti yang berbeda.
Emoji dan tanda baca pun tidak selalu menyelesaikan persoalan. Bagi sebagian orang, tanda titik di akhir kalimat merupakan hal yang wajar. Namun, bagi orang lain, tanda tersebut bisa terasa terlalu formal atau menunjukkan perubahan suasana. Perbedaan kebiasaan berkomunikasi ini dapat memengaruhi cara pesan dimaknai.
Jangan Langsung Menyimpulkan dari Satu Pesan
Ketika menerima pesan yang terasa berbeda dari biasanya, kita sering kali tergoda untuk langsung menebak maksud pengirim. Padahal, satu balasan singkat belum tentu cukup untuk menggambarkan perasaan atau sikap seseorang.
Daripada langsung menganggap teman sedang marah atau pasangan sedang kecewa, kita bisa mencoba meminta penjelasan dengan cara yang tenang. Misalnya, “Maksud kamu tadi bagaimana, ya? Aku takut salah memahami pesanmu.”
Kalimat sederhana tersebut memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk menjelaskan maksud masing-masing tanpa harus memperbesar masalah.
Hal yang sama berlaku ketika kita mengirim pesan. Jika membicarakan sesuatu yang sensitif atau berpotensi menimbulkan salah paham, kita bisa menyampaikan maksud dengan lebih jelas. Jika sebuah persoalan terasa sulit dijelaskan melalui tulisan, percakapan melalui telepon atau secara langsung dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.
Yang terpenting, jangan menjadikan asumsi sebagai satu-satunya dasar untuk menilai perasaan orang lain.
Komunikasi yang Baik Bukan Hanya tentang Mengirim Pesan
Kemudahan teknologi membuat kita dapat menghubungi siapa saja dalam hitungan detik. Namun, cepatnya pesan sampai tidak selalu berarti maksudnya dipahami dengan benar.
Komunikasi yang baik membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyusun kalimat. Kita juga perlu mempertimbangkan bagaimana pesan dapat diterima, memberi ruang bagi orang lain untuk menjelaskan maksudnya, serta bersedia memperbaiki kesalahpahaman ketika terjadi.
Pada akhirnya, satu pesan memang bisa memiliki dua makna ketika pengirim dan penerima melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Karena itu, sebelum merasa tersinggung atau buru-buru menyimpulkan sesuatu, ada baiknya kita memberi ruang untuk bertanya dan memahami.
Sebab, tujuan komunikasi bukan hanya membuat pesan terkirim, melainkan memastikan bahwa orang yang menerimanya memiliki kesempatan untuk memahami maksud yang ingin kita sampaikan.
