Wajah Patriarki dalam Fenomena Catcalling

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Nabila Aurelia Putri H tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budaya Indonesia yang identik dengan sikap ramah, gotong royong, dan hidup rukun antar sesama sudah tertanam di banyak benak masyarakat. Menyapa dan memuji orang lain, saling membantu ketika ada tetangga yang memiliki hajat, serta membantu orang asing yang sedang kesusahan masih banyak terlihat di berbagai sudut di Indonesia. Namun, ketika budaya ini membuat suatu kelompok menjadi tidak nyaman bahkan hingga ketakutan, apakah berarti ada yang salah dengan budaya tersebut atau individu yang menerapkannya?
Menyapa orang ketika berpapasan di jalan atau memuji orang lain bahkan orang asing sekalipun karena penampilannya merupakan hal yang menyenangkan baik bagi pemberi maupun penerima. Namun, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama, terutama bagi perempuan yang secara tiba-tiba menerima pujian dari laki-laki asing di jalan. Ketidaknyamanan atau bahkan ketakutan yang dirasakan perempuan tidak hanya terjadi dalam satu malam saja, tapi perasaan ini merupakan perasaan kolektif yang timbul karena pengetahuan akan banyaknya kasus kekerasan berbasis gender yang menimpa perempuan.
Kekerasan berbasis gender yang dialami perempuan ada banyak jenisnya. Berdasarkan CATAHU 2025 dari Komnas Perempuan, kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan seperti pelecehan seksual baik fisik ataupun nonfisik, perkosaan, dan pemaksaan perkawinan di mana pelaku banyak ditemukan dari teman media sosial, pacar, keluarga, bahkan orang tidak dikenal. Data pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 24.472 perempuan mengalami kekerasan seksual, belum termasuk mereka yang memutuskan untuk tidak melapor karena adanya ketimpangan relasi kuasa ataupun ketakutan pada stigma yang akan diterima.
Banyaknya kasus kekerasan yang menimpa perempuan tidak heran membuat perempuan menjadi lebih defensif dan reaktif terutama di ruang publik. Sapaan dan pujian yang bagi sebagian orang terasa tidak berbahaya bisa memunculkan banyak pikiran dan skenario di benak perempuan. Apalagi jika pujian itu telah mengarah ke hal-hal seksual seperti siulan, mengomentari bagian tubuh, atau memanggil dengan ungkapan seksual. Fenomena ini disebut sebagai ‘catcalling’, yaitu bentuk pelecehan di ruang publik yang dapat berupa siulan, komentar bernuansa seksual, panggilan yang tidak diinginkan, atau gestur yang membuat seseorang merasa dilecehkan. Persoalannya bukan semata-mata pada kata-kata yang diucapkan, melainkan juga pada konteks, ketidakinginan penerima, serta dampak perilaku tersebut terhadap rasa aman serta martabatnya.
Baru-baru ini di media sosial X banyak perempuan yang speakup tentang pengalamannya menjadi korban kekerasan seksual ataupun catcalling yang dilakukan oleh laki-laki. Hal ini menimbulkan respons yang beragam dari banyak akun. Ada yang merasa apa yang dirasakan oleh mereka yang speakup ini berlebihan karena menurut mereka apa yang terjadi sebenarnya hanyalah interaksi biasa seperti menyapa dan memuji dengan intensi baik. Namun, ada juga yang mengerti dan memahami posisi perempuan yang sering menjadi korban pelecehan seksual sehingga lebih bersikap hati-hati ketika berinteraksi dengan orang asing. Padahal, apa yang dianggap orang sebagai ‘interaksi biasa’ ini dapat menimbulkan masalah psikologis apabila dipersepsikan berbeda bagi penerimanya.
Penelitian yang dilakukan Thornton et al. (2024) menunjukkan bahwa dampak dari street harassment di mana salah satu bentuknya adalah catcalling membuat perempuan merasa malu, takut, membenci diri sendiri, dan harga diri serta kepercayaan diri yang menurun. Dalam jangka panjang, emosi negatif yang muncul dapat berupa perasaan marah serta kecemasan karena takut akan menjadi korban lagi. Akibatnya, perempuan lebih memilih untuk tidak berjalan sendirian di jalan atau mengubah cara berpakaiannya demi menghindari pelecehan. Namun, rasa takut dan cemas ini terkadang harus ditekan dalam-dalam sehingga timbul pertanyaan mengapa perilaku yang membuat seseorang tidak nyaman ini justru dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh orang lain?
Salah satu hal yang membuat catcalling sulit diatasi adalah karena perilaku ini sudah dinormalisasi. Sebagian orang mungkin memaknainya sebagai pujian atau cara menunjukkan ketertarikan. Akan tetapi, niat seseorang tidak otomatis menentukan bagaimana perilakunya dialami oleh orang lain. Sesuatu yang dianggap lucu oleh pelaku belum tentu menyenangkan bagi orang yang menjadi sasaran. Cara masyarakat memaknai keramahan, kesopanan, dan interaksi antara laki-laki dan perempuan dapat dipengaruhi oleh nilai budaya serta norma sosial yang beragam, salah satunya melalui stereotip dan norma gender yang berkembang di masyarakat.
Penelitian yang dilakukan oleh Walton (2021) menunjukkan alasan laki-laki melakukan catcalling di antaranya didorong oleh keinginan untuk mengekspresikan ketertarikan seksual, memberikan pujian, serta merasa bahwa perempuan menyukainya. Namun, ada juga laki-laki yang melakukan catcalling karena merasa senang melihat perempuan merasa tidak nyaman dan terganggu. Pemikiran-pemikiran ini timbul karena adanya stereotip gender tentang bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya bertindak dan berperilaku. Perempuan dianggap harus memiliki karakter hangat yang peduli dengan orang lain (Ellemers, 2018), di mana hal ini membuat orang beranggapan bahwa perempuan seharusnya menerima semua ‘pujian’ atau ‘rayuan’ yang diberikan orang lain, sehingga ketika ada perempuan yang mencoba melawan stereotip ini perasaan mereka tidak akan diterima, diinvalidasi, serta dipandang rendah.
Selain itu, norma gender juga berperan dalam melanggengkan budaya patriarki di masyarakat di mana laki-laki dianggap sebagai pemegang kekuasaan utama di berbagai aspek kehidupan. Laki-laki dianggap sebagai makhluk reaktif yang digerakkan oleh naluri, sedangkan perempuan digambarkan sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk mengendalikan naluri tersebut melalui penampilan dan perilakunya (Alamri & Alamri, 2026). Akibatnya, ketika ada perempuan yang menjadi korban catcalling, terjadilah budaya victim blaming di mana kesalahan dibebankan kepada perempuan karena tidak bisa menjaga pakaian, ekspresi wajah, atau bahkan nada suara.
Norma budaya, ekspektasi gender, dan stereotip dominan memainkan peran penting dalam membentuk cara individu memandang pelecehan seksual dan menentukan siapa yang mereka anggap bertanggung jawab atas tindakan tersebut (Alamri & Alamri, 2026). Akan tetapi, memahami budaya bukan berarti membenarkan tindakan yang membuat orang lain merasa dilecehkan. Keramahan seharusnya tidak hanya dinilai dari niat seseorang untuk menyapa atau bercanda, tetapi juga dari caranya menghormati kenyamanan dan martabat orang lain. Perempuan tidak seharusnya dituntut menerima komentar seksual yang tidak diinginkan hanya karena perilaku tersebut dianggap lumrah oleh sebagian orang.
Oleh karena itu, agar dapat tercipta ruang aman untuk perempuan merasa nyaman berinteraksi di ruang publik, perlu adanya kolaborasi dari individu, lingkungan sosial, serta masyarakat dalam meminimalisir terjadinya catcalling. Langkah pertama adalah meningkatkan pemahaman mengenai batas pribadi dan rasa hormat dalam interaksi. Ketertarikan terhadap seseorang tidak memberikan hak untuk melontarkan komentar seksual yang tidak diinginkan. Niat bercanda juga tidak otomatis menghilangkan dampak perilaku terhadap penerimanya.
Lingkungan seperti keluarga, sekolah, kampus, dan masyarakat menjadi wadah bagi individu untuk belajar mengenai kesetaraan dan batasan perilaku dengan orang lain. Masyarakat juga perlu mengubah respons terhadap perilaku catcalling dengan tidak menertawakan tindakan tersebut atau menganggapnya sebagai bukti bahwa perempuan menarik dapat menormalisasi ‘pujian’. Selain itu, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk meningkatkan kesadaran tentang pelecehan seksual ataupun catcalling sehingga kritik dapat diarahkan pada pelaku dan bukan pada korban. Terakhir, perempuan yang mengalami catcalling perlu mendapatkan dukungan bukan disalahkan atas apa yang ia lakukan atau kenakan.
Upaya-upaya ini perlu didukung oleh lingkungan publik yang aman dan mekanisme penanganan yang berpihak pada korban. Tanggung jawab mencegah pelecehan tidak seharusnya dibebankan kepada perempuan melalui tuntutan untuk mengubah pakaian, menghindari tempat tertentu, atau membatasi aktivitasnya. Perubahan juga harus menyasar perilaku pelaku dan norma sosial yang memungkinkan pelecehan terus terjadi.
Catcalling mengingatkan kita bahwa perilaku yang dianggap biasa oleh sebagian orang belum tentu aman atau menyenangkan bagi orang lain.
Masyarakat yang menghargai keberagaman bukan hanya masyarakat yang mampu hidup berdampingan dengan perbedaan budaya, melainkan juga masyarakat yang bersedia mengevaluasi kebiasaan ketika kebiasaan tersebut merugikan orang lain. Menghormati perempuan berarti mengakui hak mereka untuk beraktivitas di ruang publik tanpa menjadi sasaran komentar seksual yang tidak diinginkan. Ruang publik yang aman tidak tercipta ketika perempuan terus diminta menyesuaikan diri terhadap pelecehan, tetapi ketika setiap orang belajar untuk menghormati sesamanya.
