Buku Cetak: Media ‘Kuno’ yang Terus Menang di Hati Pembaca

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arsy Qamara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, akses terhadap informasi menjadi semakin mudah dan cepat. Hanya dengan satu perangkat, seseorang dapat membawa ribuan buku dalam genggaman, membaca kapan saja dan di mana saja melalui layar ponsel, tablet, atau laptop. Di tengah kemudahan itu, buku fisik tampak seperti sesuatu yang perlahan akan ditinggalkan.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Toko-toko buku independen masih bertahan, komunitas pembaca terus tumbuh, dan minat terhadap buku fisik tidak surut. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik: mengapa buku fisik tetap memiliki tempat di hati pembacanya, meskipun dunia telah berubah begitu drastis?
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami hal ini adalah teori uses and gratifications dalam ilmu komunikasi. Teori ini menjelaskan bahwa khalayak tidak bersikap pasif terhadap media, melainkan secara aktif memilih media yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan psikologis, sosial, maupun emosional mereka. Dalam konteks ini, pilihan terhadap buku fisik tidak sekadar soal preferensi terhadap bentuk bacaan, melainkan berkaitan dengan pencarian akan makna, kedalaman, dan pengalaman yang tidak dapat diberikan oleh media digital.
Pengalaman membaca buku fisik melibatkan aspek sensorik yang kompleks. Aktivitas membuka halaman, menyentuh tekstur kertas, mencium aroma tinta dan lem, dapat menciptakan sensasi yang memperkuat kedekatan emosional pembaca terhadap buku tersebut. Pengalaman ini menciptakan kehadiran yang nyata, yang kerap hilang ketika membaca melalui layar digital. Berdasarkan survei GoodStats pada awal 2025, sebanyak 79 persen responden di Indonesia menyatakan masih memilih buku fisik. Alasan utama yang disebutkan bukanlah efisiensi, melainkan kenyamanan serta pengalaman membaca yang dirasa lebih utuh dan menyenangkan. Bahkan di kalangan Gen Z, 73 persen menyatakan lebih bisa fokus dan memahami isi bacaan saat membaca buku cetak dibandingkan dengan e-book.
Penelitian-penelitian ilmiah juga menunjukkan hal serupa. Sebuah studi meta-analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Computers & Education menyimpulkan bahwa membaca dari media cetak menghasilkan pemahaman bacaan yang lebih baik dibandingkan membaca dari layar. Studi ini mengkaji 17 penelitian dan menemukan bahwa meskipun kecepatan membaca relatif sama, pemahaman terhadap isi bacaan secara signifikan lebih tinggi saat membaca dari kertas. Sementara itu, fenomena yang dikenal sebagai screen inferiority effect juga menunjukkan bahwa membaca melalui layar cenderung membuat pembaca lebih mudah terdistraksi, lebih sering melakukan skimming, dan akhirnya menyerap informasi dengan kurang mendalam.
Di tengah kehidupan yang dipenuhi notifikasi, pembaruan aplikasi, dan godaan untuk berpindah perhatian dari satu hal ke hal lain, buku fisik menghadirkan momen hening. Membaca tanpa interupsi menjadi semakin langka, dan buku fisik menawarkan kesempatan itu. Ini menjadi bentuk pemenuhan kebutuhan kognitif, keinginan untuk menyerap informasi secara menyeluruh, dengan fokus dan perenungan yang lebih dalam.
Selain itu, keberadaan buku fisik juga berperan dalam membentuk identitas personal maupun sosial. Rak buku tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga mencerminkan selera, nilai, dan perjalanan intelektual pemiliknya. Buku yang dipajang, dipinjamkan, atau dibicarakan bersama orang lain menjadi sarana untuk membangun relasi sosial. Dalam komunitas pembaca, diskusi tatap muka, pertemuan klub buku, hingga tukar rekomendasi bacaan adalah bentuk interaksi yang memperkuat rasa memiliki terhadap suatu kelompok. Ini menunjukkan bagaimana media tidak hanya memenuhi kebutuhan individual, tetapi juga sosia, sebagaimana dijelaskan dalam teori Uses and Gratifications.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah nilai afektif dari buku fisik itu sendiri. Buku cetak memiliki dimensi kepemilikan yang nyata. Berbeda dengan file digital yang bisa hilang dalam satu klik, buku fisik dapat diwariskan, diberi catatan, ditandai, bahkan disimpan sebagai bagian dari kenangan pribadi. Setiap buku menyimpan cerita, tidak hanya dari isi yang dikandungnya, tetapi juga dari konteks ketika ia dibeli, diterima, atau dibaca. Semua ini menjadikan buku fisik sebagai benda yang memiliki nilai emosional yang tidak tergantikan oleh versi digital.
Melalui berbagai pertimbangan tersebut, jelas bahwa ketertarikan terhadap buku fisik bukanlah sesuatu yang irasional atau kuno. Ia justru menjadi pilihan yang sangat sadar di tengah gaya hidup serba cepat dan instan. Buku fisik menawarkan pengalaman membaca yang menyentuh berbagai lapisan kebutuhan manusia, mulai dari fisik, emosional, hingga sosial dan kognitif.
Memilih buku fisik di era digital bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, ini adalah bentuk kesadaran untuk memperlambat ritme hidup, memberi ruang pada keheningan, dan menikmati proses membaca secara utuh. Ketika sebagian orang menganggap bahwa buku cetak akan segera punah, realitas menunjukkan bahwa ia masih terus hidup dan dicari. Sebab dalam kesederhanaannya, buku fisik menyimpan sesuatu yang justru semakin langka yaitu pengalaman membaca yang penuh, reflektif, dan manusiawi.
Jika dilihat melalui lensa teori Uses and Gratifications, pilihan terhadap buku fisik merupakan bentuk aktivitas sadar dan rasional dari individu untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka, baik kognitif, afektif, sosial, maupun identitas. Artinya, ketertarikan terhadap buku cetak bukanlah nostalgia semata, melainkan wujud dari pemilihan media yang mampu memberi kepuasan lebih utuh dalam dimensi pengalaman manusia yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh teknologi digital.
