Konten dari Pengguna

Baru Mau Mulai Karier, tetapi Lowongan Kerja Sudah Meminta Pengalaman

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Qisti Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang lulusan baru membuka situs lowongan kerja. Posisinya cocok dengan jurusannya, deskripsinya masuk akal, dan ia merasa mampu. Lalu di bagian persyaratan tertulis: pengalaman kerja minimal satu sampai tiga tahun.

Ia baru lulus dan belum pernah bekerja secara formal. Pertanyaannya sederhana, tapi mengganjal: bagaimana memenuhi syarat pengalaman kalau pekerjaan pertamanya saja belum ada?

Pertanyaan ini mungkin terdengar seperti candaan. Di baliknya ada persoalan yang layak dibahas serius.

Seseorang menggunakan laptop saat mencari peluang kerja di tengah persaingan dunia kerja yang menuntut pengalaman. (Sumber foto: Unsplash https://unsplash.com/id/s/foto/orang-dengan-laptop).

Gelar belum jadi jaminan

Menurut BPS, tingkat pengangguran lulusan Diploma IV hingga S3 pada Februari 2026 mencapai 6,13 persen, sedangkan angka nasionalnya 4,68 persen. Per Mei 2026, sekitar 1,03 juta dari 7,22 juta penganggur, atau 14,31 persen, adalah lulusan D4 sampai S3. (BPS Catat Pengangguran Lulusan SMK Capai 7,74 Persen pada Februari 2026 +2)

Angka ini tidak membuktikan bahwa syarat pengalaman adalah penyebabnya. Jumlah lowongan, kecocokan jurusan dengan kebutuhan industri, dan kondisi ekonomi ikut menentukan. Tapi angka ini menunjukkan bahwa ijazah saja tidak cukup untuk membuka pintu pertama.

Perusahaan punya alasan yang masuk akal

Perusahaan tidak sedang mempersulit orang. Mereka butuh karyawan yang bisa langsung bekerja, paham alur kerja, dan tidak menyita waktu tim senior untuk mengajari dari nol. Merekrut itu mahal, dan salah pilih lebih mahal lagi.

Untuk posisi tertentu, seperti spesialis teknis atau pemimpin tim, syarat pengalaman jelas wajar. Yang patut dipertanyakan adalah lowongan berlabel "staf" atau "asisten" yang tetap meminta dua tahun pengalaman. Apakah tanggung jawabnya sebesar itu, atau angka tahun itu hanya jalan pintas untuk menyaring ratusan pelamar?

Siapa yang menanggung biaya belajar?

Menurut saya, ini bagian yang jarang dibahas. Setiap karyawan baru butuh masa belajar, sepandai apa pun ia. Masa itu ada ongkosnya: waktu, kesalahan kecil, dan perhatian dari rekan kerja.

Syarat pengalaman, disengaja atau tidak, memindahkan ongkos itu ke tempat lain. Entah ke perusahaan sebelumnya, atau ke si pelamar sendiri lewat magang yang kadang tidak dibayar. Tidak semua perusahaan berpikir begitu. Tapi kalau semua menunggu kandidat yang sudah "jadi", siapa yang menyediakan tempat untuk jadi?

Pengalaman bisa dibuktikan dengan banyak cara

Anak muda sering disarankan mencari pengalaman lewat magang, organisasi, kepanitiaan, proyek kuliah, atau pekerjaan lepas. Saran itu benar. Semuanya bisa menunjukkan kemampuan bekerja dalam tim, memenuhi tenggat, dan menyelesaikan masalah.

Namun pengalaman semacam itu tidak sama dengan pengalaman kerja profesional, dan tidak perlu dipaksakan setara. Ia lebih tepat dibaca sebagai bukti awal. Bukti awal baru berarti kalau ada yang bersedia membacanya.

Di sinilah pertanyaan soal potensi muncul. Untuk posisi pemula, apakah lamanya bekerja selalu ukuran terbaik? Kandidat yang cepat belajar, komunikatif, dan disiplin bisa berkembang lebih cepat daripada yang punya dua tahun pengalaman tapi jalan di tempat. Hanya saja potensi lebih sulit dihitung daripada tahun kerja, jadi syarat pengalaman terasa lebih aman bagi perekrut.

Tanggung jawab yang tidak sama rata

Mahasiswa memang perlu bersiap sejak kuliah. Itu bagian dari tanggung jawab mereka. Tapi tidak semua orang berangkat dari titik yang sama. Ada yang harus bekerja paruh waktu demi biaya kuliah sehingga tidak sempat ikut organisasi. Ada yang tinggal jauh dari kota tempat magang berkualitas tersedia. Menuntut semua orang membangun pengalaman dengan cara yang sama berarti mengabaikan perbedaan itu.

Ruang yang bisa dibuka

Ada langkah yang realistis bagi perusahaan. Alih-alih menulis "pengalaman 2 tahun", tuliskan kemampuan yang benar-benar dibutuhkan di hari pertama, misalnya mampu membuat laporan, mengelola akun, atau menggunakan perangkat tertentu. Pelamar pemula bisa membuktikannya lewat portofolio atau tes kerja. Program magang yang mengajarkan sesuatu, posisi entry-level yang jujur dengan namanya, dan pendampingan karyawan baru juga membantu.

Perusahaan tetap berhak menetapkan syarat. Hanya saja, syarat yang spesifik lebih adil bagi kedua pihak daripada hitungan tahun yang kabur.

Kesempatan pertama itu milik siapa?

Semua orang yang kini disebut berpengalaman pernah berada di posisi yang sama: belum punya apa-apa selain kemauan. Pada titik tertentu, seseorang atau sebuah perusahaan memutuskan untuk percaya.

Pengalaman memang bernilai. Tapi nilai itu tidak muncul dengan sendirinya, ia dibangun dari kesempatan yang pernah diberikan. Maka kalau pengalaman terus menjadi syarat untuk bekerja, siapa yang akan menjadi pemberi kesempatan pertama bagi mereka yang belum memilikinya?