Curhat ke AI, Kenapa Bukan ke Manusia?

Nama Saya Qisti Aulia Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Qisti Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayangkan jam sudah lewat tengah malam. Seseorang baru selesai berdebat dengan temannya lewat chat. Kepalanya penuh, tapi membangunkan siapa pun terasa tidak enak. Grup chat terlalu ramai, dan kakaknya pasti langsung menasihati. Akhirnya ia membuka chatbot dan mengetik panjang, dari awal sampai akhir.

Ilustrasi itu fiktif, tapi mungkin terasa akrab. Survei Digital Resilience Indonesia Foundation (DiRi) pada Agustus-Desember 2025 menemukan 59,4 persen responden Gen Z pernah menceritakan masalah pribadi ke chatbot AI. Surveinya melibatkan 402 orang kelahiran 1997-2012 yang kebanyakan tinggal di Jawa. Sampelnya kecil, jadi angka ini tidak bisa diklaim mewakili seluruh Gen Z. Tapi arahnya cukup jelas: bagi sebagian anak muda, chatbot sudah masuk ke ruang yang dulu hanya diisi manusia.
Kenapa terasa mudah? Pertama, ia selalu ada. Tidak perlu menunggu teman selesai kerja atau mencari waktu yang pas. Kedua, tidak ada wajah yang berubah. Penelitian Gale Lucas dan kolega (2014) menemukan bahwa orang lebih terbuka ketika yakin sedang berbicara dengan komputer, bukan manusia, karena mereka tidak merasa dinilai. Ditambah lagi kita memang sudah terbiasa mengetik perasaan lewat chat, caption, dan story. Ini pengamatan saya, bukan data, tapi mengetik ke chatbot terasa seperti kelanjutan kebiasaan itu.
Menurut saya, yang berubah sebenarnya adalah ongkosnya. Curhat ke manusia selalu ada harganya: waktu orang lain, risiko disalahpahami, kemungkinan cerita menyebar, dan kewajiban gantian mendengarkan. AI menghapus semuanya. Itu menjelaskan kenapa nyaman, dan sekaligus kenapa ada yang hilang. Hubungan tumbuh dari ongkos itu: giliran mendengarkan, rasa berutang budi, hadir tanpa diminta. Chatbot tidak bisa kita repotkan, jadi ia juga tidak bisa kita hadiri.
Karena itu, memakai AI untuk curhat tidak otomatis berarti seseorang gagal bersosialisasi. Satu penelitian kualitatif di Indonesia dengan enam partisipan Gen Z (18-25 tahun) yang merasa kesepian menyimpulkan bahwa chat AI berfungsi sebagai strategi koping jangka pendek, bukan pengganti hubungan antarmanusia. Sampelnya kecil, tapi temuannya sejalan dengan argumen ini. AI bisa jadi tempat mengurai pikiran dan mendapat sudut pandang awal.
Masalahnya muncul kalau ia jadi satu-satunya tempat. Studi MIT Media Lab dan OpenAI (2025) melibatkan 981 peserta selama 28 hari. Peneliti menemukan bahwa pemakaian harian yang makin tinggi berkorelasi dengan kesepian dan ketergantungan yang lebih besar, serta sosialisasi yang lebih sedikit. Perlu dicatat, ini korelasi. Bisa jadi orang yang sudah kesepian memang lebih banyak memakai chatbot.
Soal ketepatan respons, peneliti Stanford dan kampus lain menguji chatbot yang dipakai untuk terapi dan menemukan respons yang tidak aman. Ketika diberi pertanyaan tentang jembatan tinggi di tengah cerita kehilangan pekerjaan, beberapa chatbot menjawab dengan detail jembatan tanpa menangkap tanda bahayanya. Manusia, selelah apa pun, biasanya lebih peka pada nada.
Lalu privasi. CEO OpenAI Sam Altman pernah mengakui bahwa obrolan sensitif dengan ChatGPT tidak punya perlindungan hukum seperti percakapan dengan dokter atau psikolog, dan perusahaan bisa diwajibkan menyerahkannya dalam proses hukum. Apa yang kita ketik jam dua pagi tidak selalu tinggal di layar itu.
Jadi, bagaimana memakainya dengan bijak? Satu cara: jadikan AI tempat latihan, bukan tujuan akhir. Tulis dulu semua yang menumpuk, lalu tanya diri sendiri apa yang sebenarnya ingin disampaikan ke orangnya. Bawa jawabannya ke teman, keluarga, atau konselor. Hindari mengetik data yang tidak mau kamu lihat di tempat lain, seperti nama lengkap, alamat, atau identitas orang lain. Kalau kamu butuh bercerita setiap hari berminggu-minggu, atau pikiranmu mulai menyakiti diri sendiri, itu sinyal untuk mencari tenaga profesional, bukan chatbot yang lebih canggih.
Di sisi lain, membangun ruang yang aman untuk manusia juga tugas kita. Kalau cerita teman sering kita balas dengan "ah, lebay" atau kita sebarkan, wajar kalau ia memilih ruang yang tidak bisa membocorkan apa-apa.
Mungkin yang kita cari di tengah malam itu bukan sekadar balasan cepat. Chatbot bisa membalas dalam hitungan detik karena ia tidak punya pilihan lain. Didengar oleh manusia terasa berbeda justru karena orang itu bisa saja memilih untuk tidak mendengarkan. Dan ia memilih untuk tetap ada.
