Konten dari Pengguna

Diplomasi Kuliner Pempek dan Eomuk: Peluang Makanan Korea Busan-Palembang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raden Ayu Shania Nurul Fadhilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemanfaatan keakraban budaya olahan hasil laut dan diplomasi gastronomi dua arah menjadi jembatan strategis dalam memperkuat hubungan antar-kota serta pemberdayaan UMKM perikanan.

Foto oleh Nile Pereira dari Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Nile Pereira dari Unsplash

Dari Pempek ke Eomuk, peluang kerjasama budaya kuliner Busan–Palembang kini terbuka lebar. Di balik keramaian pelabuhan maritim Kota Busan dan keindahan aliran Sungai Musi di Kota Palembang, terdapat hubungan budaya yang sangat dekat melalui tradisi pengolahan hasil perikanan yang kuat. Busan terkenal sebagai pusat industri perikanan laut Korea Selatan yang melahirkan budaya modern pengolahan kue ikan (Eomuk) sejak tahun 1950-an. Sebaliknya, Palembang menawarkan kekayaan warisan kuliner sungai yang berfokus pada olahan daging ikan seperti Pempek, Tekwan, dan Pindang Patin. Pertemuan dua tradisi pesisir dan sungai ini menciptakan peluang untuk diplomasi publik (gastrodiplomacy) yang berpotensi besar dalam memperkuat kerja sama antar-kota (City-to-City Cooperation) serta mendorong perkembangan ekonomi kreatif.

Kedekatan Tradisi dan Keakraban Budaya Perikanan

Peluang produk kuliner Palembang diterima di pasar Busan sangat didukung oleh tingginya karakteristik konsumsi seafood masyarakat Korea Selatan. Menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO) dan laporan OECD, konsumsi ikan per kapita di Korea Selatan mencapai rata-rata 58 hingga 61 kg per tahun, angka ini jauh melebihi rata-rata konsumsi global. Sebagai pusat perikanan utama, Busan memegang peranan strategis melalui Pasar Ikan Koperasi Busan (Busan Cooperative Fish Market/BCFM) dan Pasar Jagalchi yang mengelola lebih dari 30% rantai pasokan serta distribusi hasil laut di tingkat nasional. Sejarah yang panjang Busan dengan para perintis industri Eomuk seperti Samjin Amook telah menciptakan kedekatan budaya yang mendalam terhadap tekstur dan rasa produk ikan. Dengan adanya modal sosial berupa kedekatan budaya inilah yang menjadi dasar yang kuat agar makanan khas Palembang dapat diterima secara luas oleh selera konsumen di Korea Selatan.

Tantangan Standardisasi, Keamanan Pangan, dan Registrasi Mutu Ekspor

Meskipun peluang pasarnya sangat besar, penetrasi produk olahan perikanan UMKM Palembang ke Korea Selatan memerlukan pemenuhan regulasi keamanan pangan dan standar sanitasi yang ketat. Otoritas Kementerian Keamanan Pangan dan Obat (MFDS) Korea Selatan menerapkan regulasi hukum yang ketat melalui Undang-Undang Sanitasi Pangan, Kode Pangan, serta Standar Pelabelan Pangan untuk melindungi konsumen. Selain itu, setiap Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang berencana mengekspor produk pengolahan perikanan harus menerapkan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), memilik Hi Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP), serta mendapatkan nomor registrasi resmi dari National Fishery Products Quality Management Service (NFQS) yang berlokasi di Busan. Lembaga NFQS melaksanakan pengawasan menyeluruh dari laut ke meja makan melalui pemeriksaan karantina, uji keamanan, sertifikasi kualitas, dan penerapan Sistem Pelacakan Seafood. Oleh karena itu, inisiatif kolaborasi budaya ini perlu menggabungkan promosi kuliner dengan program pelatihan standar kebersihan serta transfer teknologi pengolahan makanan yang mendukung ekspor untuk pelaku UMKM.

Skema Gastrodiplomacy Dua Arah dan Transfer Teknologi

Untuk mewujudkan kolaborasi yang nyata, konsep Two-Way Gastrodiplomacy dirancang melalui dua skema inti operasional utama yang saling mendukung. Skema utama adalah pendirian Korean Culinary Center di Palembang yang ditujukan sebagai pusat pelatihan memasak hidangan Korea autentik (Hansik) dan K-Street Food berbasis sertifikasi Halal dan dilengkapi dengan inovasi pengembangan modul Korean Halal Food untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal. Skema kedua mencakup pembentukan Palembang Gastronomy Hub di Busan yang berfungsi di lokasi strategis seperti Seomyeon atau dekat universitas maritim melalui konsep shared kitchen. Hub ini bertujuan untuk memperkenalkan pengolahan kuliner Palembang yang menggunakan ikan lokal dari Busan seperti makarel atau pollock, meliputi modul olahan ikan tradisional (Pempek, Tekwan, Model), hidangan sup hangat (Pindang Patin dan Pegagan), hingga makanan penutup tradisional khas kerajaan seperti Maksuba dan Delapan Jam.

Kolaborasi Pemangku Kepentingan dan Renungan Kerja Sama Antar-Kota

Keberhasilan strategi diplomasi kuliner ini tergantung pada kerja sama multisektor yang kuat di antara para pihak yang terlibat. Kolaborasi ini mencakup Pemerintah Kota Palembang dan Pemprov Sumsel, bersama dengan Pemerintah Kota Busan serta Busan Foundation for International Cooperation (BFIC) yang berperan sebagai penghubung antar-kota. Dukungan dari Kementerian Luar Negeri, KBRI Seoul, Korean Cultural Center Indonesia (KCCI), ASEAN-Korea Centre, lembaga pendidikan vokasi, serta asosiasi UMKM perikanan sangat penting dalam pengembangan kurikulum, penelitian adaptasi resep, dan pengaturan pertukaran juru masak. Akhirnya, diplomasi kuliner dari Busan ke Palembang menunjukkan bahwa kolaborasi antar-kota dapat meningkatkan kemampuan UMKM perikanan dalam memenuhi standar kebersihan HACCP dan pendaftaran MFDS/NFQS. Metode ini tidak hanya memasuki pasar global dengan memodifikasi bahan baku lokal tanpa mengorbankan rasa aslinya, tetapi juga memperkuat jaringan diplomasi publik serta pembangunan pariwisata berkelanjutan untuk kedua kota. Lebih dari sekadar berbagi resep, kerja sama ini membangun dasar ekonomi inklusif yang memberdayakan masyarakat pesisir dan tepi sungai secara berkelanjutan. Dengan komitmen jangka panjang ini, Palembang dan Busan tidak hanya menguatkan hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan di tingkat masyarakat, tetapi juga menunjukkan bahwa kuliner lokal dapat menjadi pendorong utama perkembangan ekonomi kreatif global.