Ketika Kata-Kata Kehilangan Kamusnya: Bahasa Rahasia Gen Alpha
Tulisan dari Racky Fitrio Yudestyama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kita mendengar sekelompok anak muda tertawa bersama, sementara orang-orang di sekitarnya hanya mampu saling pandang dengan dahi berkerut? Bukan karena mereka sedang membicarakan sesuatu yang rumit, melainkan karena kata-kata yang keluar terdengar seperti sandi dari dunia lain. Satu istilah disambut gelak tawa, istilah berikutnya menjadi bahan lelucon, sedangkan orang yang tidak memahami percakapan itu hanya bisa menebak-nebak sambil berharap tidak tertinggal terlalu jauh.
Selamat datang di dunia Gen Alpha, generasi yang tumbuh bersama layar, algoritma, dan bahasa yang berubah lebih cepat daripada kemampuan kamus untuk mengejarnya.

"Bro, skibidi banget lu hari ini!"
"Sigma kali, bukan skibidi!"
(Skibidi: istilah slang internet yang sering digunakan secara absurd atau dalam suasana bercanda. Maknanya bergantung pada konteks dan tidak memiliki satu arti baku.)
(Sigma: istilah slang yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap mandiri, percaya diri, atau keren. Di internet, kata ini sering digunakan sebagai lelucon.)
Dua anak tertawa, sementara seseorang di dekat mereka hanya mengangkat alis. Ia mengenal bahasa Indonesia, memahami percakapan sehari-hari, tetapi entah mengapa kalimat sederhana tadi terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk jawaban.
Bagi Gen Alpha, kata bukan sekadar alat untuk menyampaikan maksud. Kata juga menjadi tiket untuk masuk ke dalam kelompok, tanda pengenal dalam pergaulan, sekaligus cara menunjukkan bahwa seseorang mengikuti perkembangan zaman. Istilah seperti skibidi, rizz, atau sigma dapat muncul dalam percakapan dengan makna yang tidak selalu sama seperti pengertian harfiahnya. Sesuatu yang bagi orang dewasa terdengar tidak masuk akal justru dapat menjadi lelucon yang menghidupkan suasana.
Bahasa seolah-olah memiliki kehidupan baru. Ia tidak lagi hanya tumbuh dari percakapan di halaman rumah atau obrolan di sekolah, tetapi juga dari video pendek, siaran langsung, permainan daring, dan tren yang berpindah dari satu layar ke layar lainnya.
Dalam hitungan hari, sebuah kata bisa menjadi populer. Beberapa minggu kemudian, kata itu mungkin sudah kehilangan pesonanya, tergantikan istilah baru yang kembali membuat generasi sebelumnya mengernyitkan dahi.
Antara Kreativitas dan Kebingungan
Tidak adil jika setiap istilah baru langsung dianggap sebagai tanda kemunduran berbahasa. Sejak dahulu, setiap generasi memiliki ungkapan khas yang terkadang sulit dipahami oleh generasi sebelumnya. Bahasa memang tidak pernah benar-benar diam. Bahasa bergerak mengikuti kebiasaan, kebutuhan, dan lingkungan penggunanya.
Gen Alpha hanya hidup dalam lingkungan yang membuat perubahan itu berlangsung semakin cepat.
"Eh, tadi dia nge-rizz banget, no cap!"
(Rizz: kemampuan atau pesona seseorang dalam menarik perhatian orang lain, terutama dalam konteks romantis. No cap: ungkapan yang berarti jujur atau tidak berbohong.)
"Maksudnya apa, sih?"
"Ya, pokoknya keren!"
Percakapan itu berakhir dengan tawa, tetapi pertanyaan tadi sebenarnya belum terjawab. Kata-kata sudah meluncur, suasana sudah tercipta, tetapi makna yang dicari justru tertinggal di belakang.
Bahasa yang seharusnya menjadi jembatan perlahan dapat berubah menjadi pagar pemisah. Mereka yang memahami istilah tersebut merasa menjadi bagian dari keramaian, sedangkan mereka yang tidak mengenalnya berdiri di luar, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Di sinilah persoalannya bukan lagi tentang benar atau salahnya sebuah kata, melainkan tentang tujuan bahasa itu sendiri. Apakah kata-kata masih digunakan untuk menyampaikan gagasan, atau sekadar menjadi tanda bahwa seseorang tidak tertinggal tren?
Dunia yang Terus Berganti Kata
Mungkin yang membuat sebagian orang dewasa kebingungan bukan semata-mata bahasa Gen Alpha, melainkan kecepatan dunia yang terus berubah di hadapan mereka. Dulu, sebuah istilah membutuhkan waktu untuk menyebar dari satu lingkungan ke lingkungan lain. Kini, satu potongan video dapat membuat kata yang asing terdengar di berbagai tempat dalam waktu singkat.
Anak-anak tidak hanya belajar bahasa dari orang-orang di sekitarnya. Mereka juga menyerapnya dari tokoh internet, karakter permainan, dan konten yang muncul berulang kali di layar. Tanpa disadari, dunia digital ikut menentukan kata apa yang dianggap lucu, keren, atau layak diucapkan.
Di tengah arus tersebut, mungkin tidak ada gunanya memaksa setiap generasi berbicara dengan cara yang sama. Bahasa akan selalu menemukan jalannya sendiri. Namun, mengikuti perubahan zaman juga tidak berarti harus meninggalkan kemampuan menjelaskan sesuatu dengan jernih.
Sebab, kepandaian berbahasa bukan hanya tentang mengetahui istilah terbaru, melainkan juga tentang memahami kapan sebuah kata digunakan, kepada siapa kata itu ditujukan, dan apakah maksudnya benar-benar sampai.
Pada akhirnya, suatu hari nanti, istilah yang hari ini membuat orang dewasa kebingungan mungkin akan terdengar usang bagi Gen Alpha sendiri. Akan muncul generasi baru dengan bahasa yang lebih asing, lelucon yang lebih cepat, dan istilah yang kembali mengubah percakapan menjadi teka-teki.
Barangkali, di tengah pergantian itu, kita tidak perlu sibuk menentukan generasi mana yang paling pandai berbicara. Cukup pastikan bahwa ketika kata-kata terus berganti pakaian, makna tidak ikut kehilangan rumahnya.

