Konten dari Pengguna

Apakah Kenyang Lebih Dipentingkan di Negeri Ini?

Radhita Atsmaina

Radhita Atsmaina

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 6 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Radhita Atsmaina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dok. Pribadi

Anak-anak di sekolah menerima makanan sebagai bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada harapan sederhana di balik sepiring makanan itu: anak-anak mendapatkan gizi yang cukup agar dapat tumbuh sehat dan menjalani aktivitas belajar dengan baik.

Namun, coba lihat kondisi sekolah tempat mereka belajar. Di tengah upaya memenuhi kebutuhan gizi, masih ada ruang kelas yang rusak dan fasilitas pendidikan yang belum memadai. Anak-anak membutuhkan makanan untuk tumbuh, tetapi mereka juga membutuhkan ruang yang aman untuk belajar.

Lalu, apakah kenyang lebih dipentingkan di negeri ini?

Atau sebenarnya, apakah kita sedang terbiasa melihat kebutuhan pendidikan anak secara terpisah?

Sebab kenyataannya, kenyang bukanlah satu-satunya kebutuhan.

Program MBG hadir sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan gizi anak. Kebijakan ini punya alasan yang masuk akal. Anak membutuhkan asupan gizi yang cukup agar dapat tumbuh, berkonsentrasi, dan menjalani aktivitasnya dengan baik.

Namun, pendidikan tidak berhenti ketika seorang anak menutup ompreng makanannya.

Pendidikan juga berlangsung ketika ia duduk di ruang kelas, membaca, menulis, berdiskusi, dan ketika guru mendampingi proses belajarnya. Semua proses itu membutuhkan fasilitas yang layak dan lingkungan yang aman. Anak akan lebih sulit belajar dengan nyaman jika ruang kelasnya rusak atau fasilitas dasarnya tidak memadai.

Keduanya sama-sama dibutuhkan. Persoalannya bukan memilih antara makanan bergizi dan ruang kelas yang layak, melainkan bagaimana berbagai kebutuhan anak dipenuhi melalui kebijakan pendidikan.

Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah mencatat bahwa berdasarkan data tahun 2023, sebanyak 501.641 ruang kelas sekolah atau 25,67 persen berada dalam kondisi rusak sedang dan berat. Selain itu, terdapat 44.038 ruang kelas madrasah dalam kondisi serupa. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur pendidikan masih menjadi pekerjaan penting yang perlu diperhatikan.

Di sinilah pemikiran Michael W. Apple dalam Creating Difference: Neo-Liberalism, Neo-Conservatism and the Politics of Educational Reform (2004) menjadi relevan. Apple melihat kebijakan pendidikan sebagai arena yang dipengaruhi berbagai kepentingan, pandangan politik, dan relasi kekuasaan. Kebijakan bukan sekadar program yang dijalankan, tetapi juga mencerminkan persoalan mana yang mendapat perhatian dan kebutuhan mana yang ditempatkan sebagai prioritas.

Ketika Sesuatu yang Masuk Akal Membuat Kita Berhenti Bertanya

Salah satu hal menarik dari pemikiran Apple adalah bagaimana sebuah pandangan bisa diterima sebagai sesuatu yang wajar, sampai kita jarang mempertanyakannya lagi. Dalam pembahasannya tentang common sense, ia menunjukkan bahwa cara kita memahami suatu persoalan tidak terbentuk begitu saja. Ada gagasan dan kepentingan tertentu yang bisa membuat suatu kebijakan terlihat paling masuk akal.

Apple menunjukkan bagaimana gagasan yang dulu dianggap ekstrem bisa berubah menjadi akal sehat, antara lain lewat bahasa yang sederhana dan terasa jelas bagi semua orang. Salah satu tekniknya, menurut Apple, adalah memosisikan pihak yang bertanya seolah tidak tulus. Situasi MBG tentu berbeda, tapi ada kemiripan cara kerjanya: ketika sebuah kebijakan terasa begitu wajar, pertanyaan lain mudah dianggap sebagai keberatan terhadap tujuannya.

Coba pikirkan, siapa yang tega menolak anak mendapatkan makanan gratis? Hampir semua orang tentu ingin anak-anak mendapatkan gizi yang cukup. Karena itu, ketika kita mempertanyakan persoalan lain di balik program tersebut, pertanyaan itu bisa terdengar seolah-olah kita sedang meragukan pentingnya anak untuk makan.

Padahal, bukan itu persoalannya.

Mempertanyakan kondisi ruang kelas bukan berarti menolak MBG. Justru, kita sedang bertanya apakah perhatian terhadap kebutuhan anak sudah mencakup seluruh hal yang mereka perlukan. Anak membutuhkan makanan bergizi, tetapi mereka juga membutuhkan tempat belajar yang aman. Mengakui pentingnya satu kebutuhan tidak seharusnya membuat kebutuhan lainnya kehilangan perhatian.

Pertanyaan ini penting karena kebijakan publik sering kali dinilai melalui hasil yang paling mudah terlihat. Dalam program MBG, misalnya, jumlah porsi yang dibagikan, penerima manfaat, dan dapur yang beroperasi dapat dihitung dan dilaporkan. Sementara itu, rasa aman ketika belajar, kondisi ruang kelas, dan pengalaman anak selama berada di sekolah tidak selalu mudah dirangkum dalam angka yang sederhana.

Apple menolak kebiasaan menilai keberhasilan reformasi hanya dari skor tes terstandar. Menurutnya, kita perlu bertanya apa yang terjadi pada sekolah secara keseluruhan dan pada semua yang terlibat: guru, murid, pengelola, dan masyarakat. Ketika perhatian terlalu terpusat pada hal-hal yang mudah diukur, aspek pendidikan lainnya berisiko tersisih dari penilaian.

Jika pemikiran itu digunakan untuk membaca MBG, pertanyaannya bukan hanya apakah jumlah porsi dan penerima manfaat perlu dihitung. Namun, apakah ukuran tersebut cukup untuk menggambarkan keseluruhan kondisi pendidikan anak?

Angka penyaluran makanan dapat menunjukkan seberapa jauh program menjangkau penerimanya. Akan tetapi, angka itu tidak otomatis menjelaskan apakah anak-anak juga belajar di ruang kelas yang aman dan layak. Apa yang mudah dihitung memang mudah dilaporkan, tetapi belum tentu mencakup semua hal yang penting.

Ini bukan tuduhan bahwa MBG hanya mengejar angka atau sengaja mengabaikan fasilitas sekolah. Ini adalah pengingat bahwa keberhasilan sebuah program perlu dilihat sesuai dengan tujuan dan persoalan yang ingin diselesaikan, tanpa menutup mata terhadap kebutuhan lain yang masih belum terpenuhi.

Pendidikan Tidak Berhenti di Ompreng Makan

Persoalan lainnya adalah ketimpangan kesempatan belajar. Dua anak mungkin sama-sama menerima makanan bergizi, tetapi pengalaman mereka tetap berbeda jika salah satunya belajar di ruang kelas yang aman, sementara yang lain harus menghadapi bangunan rusak dan keterbatasan fasilitas.

Bantuan yang sama belum tentu menghapus perbedaan kondisi yang mereka hadapi. Karena itu, kebijakan pendidikan tidak cukup dinilai hanya dari jumlah penerima manfaatnya. Kita juga perlu melihat bagaimana kebijakan tersebut berhadapan dengan ketimpangan sosial yang sudah ada.

MBG dan perbaikan fasilitas sekolah seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua kebutuhan yang saling bersaing. Pemenuhan gizi merupakan bagian penting dari perhatian terhadap anak, tetapi lingkungan belajar yang aman juga tidak boleh luput dari perhatian.

Pemikiran Michael W. Apple mengajak kita untuk melihat lebih jauh bagaimana prioritas kebijakan dibentuk dan bagaimana keberhasilannya dinilai. Sebab, ketika satu persoalan mendapat perhatian besar, kita tetap perlu bertanya apakah persoalan lain yang sama pentingnya sudah ikut ditangani.

Pada akhirnya, anak-anak tidak seharusnya dihadapkan pada pilihan antara perut yang kenyang dan ruang belajar yang aman. Mereka berhak mendapatkan keduanya.

Sebab pendidikan yang adil bukan hanya tentang apa yang diberikan kepada anak, tetapi juga tentang kondisi yang kita siapkan agar mereka dapat belajar, berkembang, dan membangun masa depan.

Referensi:

Apple, M. W. (2004). Creating difference: Neo-liberalism, neo-conservatism and the politics of educational reform. Educational Policy, 18(1), 12-44. https://doi.org/10.1177/0895904803260022

Republik Indonesia. (2025). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025–2029. https://peraturan.bpk.go.id/Details/314638/perpres-no-12-tahun-2025