Perempuan Berpendidikan Tak Harus Jadi Apa-Apa

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Radhita Atsmaina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Untuk apa sebenarnya perempuan sekolah tinggi-tinggi?”
Pertanyaan yang terdengar sederhana. Namun, di balik pertanyaan itu, seolah ada anggapan bahwa pendidikan perempuan harus selalu memiliki tujuan yang bisa diketahui dan diterima oleh orang lain.
Perempuan yang berkuliah diharapkan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang mapan, menjadi sukses, lalu memiliki kehidupan yang dianggap ideal. Tetapi ketika setelah mendapatkan pendidikan tinggi seorang perempuan memilih jalan yang berbeda, pertanyaan lain mulai muncul. Ke mana gelar yang kemarin didapatkan? Apakah hanya untuk berakhir di pintu dapur?
Seolah-olah pendidikan perempuan baru dianggap berarti ketika hasil akhirnya sesuai dengan harapan orang lain.
Padahal, pendidikan seharusnya memberikan perempuan kesempatan untuk menentukan apa yang ingin diraih, dijalani, dan dijadikan tujuan di masa depan. Namun, kebebasan itu tidak selalu datang bersama pendidikan. Perempuan masih sering menerima harapan tentang pekerjaan yang seharusnya dipilih, kehidupan yang seharusnya dijalani, bahkan bagaimana pendidikan yang sudah ditempuh seharusnya digunakan.
Di sinilah pemikiran bell hooks menjadi menarik untuk dibicarakan.
Dalam bukunya Teaching to Transgress: Education as the Practice of Freedom (1994), hooks memandang pendidikan sebagai praktik kebebasan. Pendidikan bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk berpikir kritis, mempertanyakan ketidakadilan, dan memahami dunia dengan cara yang berbeda.
Pendidikan Bukan Sekadar Jalan Menuju Kehidupan Ideal
Bagi hooks, proses belajar seharusnya mendorong seseorang untuk berpikir, bukan hanya menerima apa yang sudah dianggap benar. Jika dikaitkan dengan pendidikan perempuan, gagasan ini mengajak kita mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap wajar.
Mengapa perempuan sering diharapkan mengutamakan keluarga dibandingkan cita-citanya sendiri? Mengapa keberhasilan seorang laki-laki kerap diukur dari pencapaian kariernya, sementara keberhasilan perempuan masih sering dikaitkan dengan kemampuannya menjalankan peran dalam keluarga? Dan mengapa pendidikan tinggi yang ditempuh perempuan terkadang masih dipertanyakan ketika pilihan hidupnya tidak sesuai dengan harapan orang lain?
Persoalannya bukan terletak pada pilihan untuk menikah, menjadi ibu, atau berkarier. Persoalannya adalah ketika salah satu pilihan dianggap paling pantas bagi perempuan, sementara pilihan lainnya harus terus dijelaskan dan dibenarkan.
Dalam pemikiran hooks, pendidikan dapat menjadi ruang untuk menantang batasan semacam itu. Perempuan bisa belajar memahami pengalaman hidupnya, mempertanyakan norma yang membatasi, dan melihat bahwa sesuatu yang sudah lama dianggap biasa belum tentu harus diterima begitu saja.
Artinya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi gelar yang berhasil diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan membantu seseorang memahami dan menentukan sikap terhadap kehidupannya.
Melampaui Batasan dan Menemukan Suara Sendiri
Gagasan tentang melampaui batasan juga menjadi bagian penting dari pemikiran hooks. Melalui Teaching to Transgress, ia menyoroti pentingnya pendidikan yang membuka ruang bagi seseorang untuk mempertanyakan batas-batas yang dibentuk oleh ketidakadilan.
Dalam kehidupan perempuan, batasan tersebut tidak selalu hadir sebagai larangan langsung. Terkadang, batasan muncul melalui pertanyaan sederhana: untuk apa sekolah tinggi jika akhirnya menikah? Atau anggapan bahwa perempuan yang terlalu mengejar karier berarti melupakan perannya dalam keluarga.
Ketika pertanyaan semacam ini terus diulang, perempuan bisa merasa perlu membuktikan bahwa pilihannya tetap pantas di mata orang lain.
Dalam bab Theory as Liberatory Practice, hooks juga membahas bagaimana pemikiran kritis dapat membantu seseorang memahami pengalaman hidup dan melihat ketidakadilan di baliknya. Dengan pengetahuan tersebut, perempuan memiliki kesempatan untuk memahami mengapa pilihan tertentu terasa dibatasi dan bagaimana norma sosial ikut memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.
Tentu saja, pendidikan tidak otomatis menghilangkan tekanan sosial atau menjamin setiap perempuan bebas menentukan hidupnya. Kondisi ekonomi, tanggung jawab keluarga, dan kesempatan yang tersedia tetap memengaruhi pilihan mereka. Namun, pendidikan dapat membantu perempuan mengenali batasan tersebut dan mempertimbangkan jalan yang ingin ditempuhnya.
Karena itu, perempuan yang berpendidikan tidak seharusnya hanya dinilai dari pekerjaan yang akhirnya ia miliki.
Perempuan boleh mengejar karier, menikah, menjadi ibu, bekerja dari rumah, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, atau memilih jalan lain. Tidak ada satu bentuk kehidupan yang otomatis membuat pendidikannya lebih berarti daripada yang lain.
Yang menjadi persoalan adalah ketika pilihan itu tidak benar-benar lahir dari keinginannya sendiri, melainkan dari anggapan bahwa hanya ada satu kehidupan yang pantas dijalani perempuan.
Pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak membuat perempuan memiliki satu jalan hidup yang baru. Pendidikan justru seharusnya membuat lebih banyak jalan menjadi mungkin.
Mungkin pertanyaan tentang pendidikan perempuan tidak seharusnya berhenti pada, “akan menjadi apa ia nanti?”
Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah "setelah mendapatkan pendidikan, apakah ia memiliki cukup ruang untuk menentukan akan menjadi siapa dirinya?"
Referensi:
hooks, b. (1994). Teaching to transgress: Education as the practice of freedom. Routledge.
