Konten dari Pengguna

FOMO Investasi: Mengapa Mahasiswa Mudah Tergoda Tren Saham dan Kripto?

M RAGIL SAFA KURNIADI

M RAGIL SAFA KURNIADI

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M RAGIL SAFA KURNIADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

FOMO investasi menjadi fenomena yang menarik perhatian di kalangan mahasiswa, terutama ketika tren saham dan kripto ramai diperbincangkan di media sosial. Melihat orang lain memperoleh keuntungan sering kali menimbulkan rasa takut ketinggalan kesempatan atau Fear of Missing Out (FOMO). Akibatnya, sebagian mahasiswa terdorong mengikuti tren investasi tanpa memahami risiko dan cara kerja instrumen yang dipilih. Padahal, investasi membutuhkan pengetahuan, pertimbangan matang, dan pengelolaan keuangan yang baik agar tidak berujung pada kerugian.

Mengapa FOMO Investasi Terjadi di Kalangan Mahasiswa?

FOMO investasi dapat muncul ketika mahasiswa melihat teman atau figur publik membagikan keberhasilan mereka memperoleh keuntungan dari saham dan kripto. Unggahan tentang kenaikan harga aset, keuntungan besar, dan portofolio yang meningkat dapat menciptakan kesan bahwa investasi merupakan cara mudah untuk mendapatkan uang.

Situasi tersebut semakin kuat ketika seseorang membandingkan kondisi keuangannya dengan orang lain. Mahasiswa yang belum memiliki penghasilan tetap mungkin merasa tertinggal ketika melihat teman seusianya mulai berinvestasi dan memperoleh keuntungan.

Media sosial memang memudahkan masyarakat memperoleh informasi mengenai investasi. Namun, informasi yang beredar tidak selalu menggambarkan kondisi secara utuh. Keuntungan sering kali lebih menarik untuk dibagikan daripada kerugian yang dialami investor.

Akibatnya, mahasiswa dapat mengambil keputusan berdasarkan rasa takut kehilangan kesempatan, bukan berdasarkan analisis yang rasional. Padahal, keputusan investasi yang baik seharusnya mempertimbangkan tujuan keuangan, kemampuan finansial, dan risiko yang mungkin terjadi.

Tren Saham dan Kripto Tidak Selalu Menguntungkan

Investasi saham dan aset kripto semakin mudah diakses melalui platform digital. Kemudahan tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempelajari investasi sejak dini. Namun, kemudahan akses tidak berarti setiap keputusan investasi akan menghasilkan keuntungan.

Saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Sebelum membeli saham, investor perlu memahami kondisi perusahaan, kinerja keuangan, prospek bisnis, dan risiko perubahan harga. Sementara itu, aset kripto memiliki karakteristik tersendiri dengan volatilitas harga yang dapat sangat tinggi.

Masalah muncul ketika mahasiswa membeli aset hanya karena sedang populer atau direkomendasikan oleh orang lain. Mereka mungkin tidak mengetahui alasan harga aset meningkat, bagaimana prospeknya, maupun seberapa besar kerugian yang sanggup ditanggung.

Dalam kondisi seperti ini, FOMO investasi dapat mendorong seseorang membeli aset ketika harga sudah naik karena takut kehilangan peluang. Ketika harga kemudian turun, kepanikan dapat membuatnya menjual aset tanpa mempertimbangkan rencana keuangan sebelumnya.

Karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa tren pasar bukan jaminan keuntungan. Keputusan investasi harus didasarkan pada pengetahuan dan pertimbangan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Risiko FOMO Investasi terhadap Keuangan Mahasiswa

Risiko FOMO investasi tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan kehilangan uang. Kebiasaan mengambil keputusan secara impulsif juga dapat mengganggu pengelolaan keuangan sehari-hari.

Mahasiswa umumnya memiliki kebutuhan rutin, seperti biaya makan, transportasi, buku, tugas kuliah, dan pembayaran pendidikan. Sebagian mahasiswa masih mengandalkan uang bulanan dari orang tua atau beasiswa. Oleh sebab itu, penggunaan uang untuk investasi perlu direncanakan dengan hati-hati.

Ketika terlalu tertarik mengejar keuntungan, seseorang dapat menggunakan uang kebutuhan sehari-hari untuk membeli saham atau kripto. Bahkan, ada risiko menggunakan pinjaman atau fasilitas paylater demi mengikuti tren investasi.

Menurut saya, tindakan tersebut perlu dihindari karena investasi seharusnya tidak mengorbankan kebutuhan dasar. Keuntungan yang diharapkan belum tentu terwujud, sedangkan kewajiban pembayaran tetap harus dipenuhi.

FOMO investasi juga dapat menimbulkan tekanan psikologis. Seseorang mungkin terus memantau harga aset, merasa cemas ketika harga turun, atau menyesali keputusan karena melihat orang lain memperoleh keuntungan lebih besar.

Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat membuat investasi menjadi sumber tekanan, bukan bagian dari perencanaan keuangan yang sehat.

Pentingnya Literasi Keuangan Sebelum Berinvestasi

Salah satu cara menghadapi FOMO investasi adalah meningkatkan literasi keuangan. Mahasiswa perlu memahami bahwa investasi bukan sekadar membeli aset yang sedang populer, melainkan proses mengambil keputusan berdasarkan informasi dan tujuan keuangan.

Sebelum berinvestasi, mahasiswa sebaiknya mempelajari karakteristik instrumen yang dipilih, memahami potensi keuntungan dan kerugiannya, serta memeriksa legalitas penyedia layanan melalui sumber resmi yang relevan.

Mahasiswa juga perlu membedakan informasi edukasi dengan promosi. Rekomendasi dari teman atau influencer tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk membeli suatu aset. Informasi tersebut perlu diperiksa kembali dan dibandingkan dengan sumber yang dapat dipercaya.

Selain itu, membuat anggaran bulanan dapat membantu mahasiswa menentukan batas pengeluaran dan memisahkan uang kebutuhan dengan dana investasi. Uang untuk biaya pendidikan, makan, transportasi, dan kebutuhan penting lainnya sebaiknya tidak digunakan untuk mengejar keuntungan di pasar keuangan.

Perguruan tinggi juga dapat berperan dalam meningkatkan literasi keuangan melalui seminar, diskusi, dan pembelajaran mengenai investasi serta pengelolaan risiko. Dengan pemahaman yang memadai, mahasiswa dapat belajar berinvestasi tanpa harus mengikuti setiap tren yang muncul.

sumber: creat ai

FOMO investasi menunjukkan bahwa keputusan keuangan tidak selalu dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi, tetapi juga oleh lingkungan sosial dan keinginan untuk tidak tertinggal dari orang lain.

Mahasiswa tidak perlu merasa gagal hanya karena belum memiliki saham atau aset kripto. Setiap orang mempunyai kondisi keuangan, tanggung jawab, dan tujuan yang berbeda. Karena itu, keputusan yang tepat bagi seseorang belum tentu tepat bagi orang lain.

Investasi sejak usia muda memang dapat menjadi sarana belajar mengelola keuangan. Namun, proses tersebut sebaiknya dimulai dengan pengetahuan yang cukup, perencanaan yang realistis, dan pemahaman terhadap risiko.

Menurut saya, keberhasilan finansial mahasiswa tidak seharusnya diukur dari seberapa cepat mereka memperoleh keuntungan atau seberapa banyak aset yang dimiliki. Kemampuan mengatur uang, mengevaluasi informasi, dan mengendalikan keputusan impulsif justru merupakan bekal penting untuk masa depan.

Pada akhirnya, FOMO investasi perlu dihadapi dengan sikap kritis dan literasi keuangan yang baik. Jangan sampai rasa takut ketinggalan tren saham dan kripto membuat mahasiswa mengabaikan kebutuhan sehari-hari atau mengambil risiko yang tidak sanggup ditanggung.

Dalam dunia investasi, tidak mengikuti setiap tren bukan berarti kehilangan kesempatan. Terkadang, keputusan untuk menunggu, belajar, dan memahami risiko justru menjadi langkah yang lebih bijak.