Konten dari Pengguna

Semangkuk Mie Ayam, Sejuta Alasan untuk Bertahan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahiel Khadija Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sumber Pribadi Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati)
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber Pribadi Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati)

Ada satu hal yang tidak bisa dibohongi manusia: perut yang lapar. Sedalam apa pun luka seseorang, tubuhnya tetap meminta makan. Hal sesederhana itulah yang dijadikan Brian Khrisna sebagai jantung novelnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Buku ini bukan sekadar bacaan yang sedang ramai dibicarakan. Ia menyentuh sesuatu yang sering kita hindari, yaitu percakapan tentang rasa lelah menjalani hidup.

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ditulis oleh Brian Khrisna, penulis asal Bandung yang lahir pada 17 Januari 1992. Novelnya setebal 216 halaman dan diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) pada 20 Januari 2025. Brian bukan penulis baru. Perjalanannya dalam dunia tulis-menulis dimulai sejak 2010, dengan beragam bentuk tulisan seperti puisi, prosa, senandika, cerpen, hingga cerita bersambung. Sebelum novel ini, namanya sudah dikenal lewat Kudasai (2019), Sisi Tergelap Surga (2023), dan Bandung Menjelang Pagi (2024). Maka tidak heran jika novel ini terasa matang, seperti ditulis oleh seseorang yang sudah lama belajar memahami perasaan manusia lewat kata-kata.

Tokoh utamanya adalah Ale, pria 37 tahun yang sudah lama kehabisan alasan untuk melanjutkan hidup. Tubuhnya besar, dengan tinggi 189 cm dan berat 138 kg. Sejak kecil ia tumbuh di keluarga yang tidak mendukungnya, tidak punya teman dekat, dan menjadi korban perundungan di sekolah. Bertahun-tahun memikul semuanya sendirian, ia akhirnya didiagnosis depresi akut. Ale sebenarnya bukan orang yang menyerah begitu saja. Ia sudah berusaha memperbaiki diri agar diterima di lingkungan pertemanan, tetapi usahanya tidak pernah berhasil. Hingga akhirnya ia mengambil keputusan paling gelap dalam hidupnya: dua puluh empat jam dari sekarang, ia akan menelan seluruh obat antidepresannya sekaligus.

Yang membuat cerita ini terasa lain, Ale tidak menghabiskan sisa waktunya dengan meratap. Ia justru mempersiapkan kepergiannya dengan rapi supaya tidak merepotkan orang. Ia membersihkan apartemennya yang berantakan, menyantap makanan mahal yang tak pernah ia beli, dan bernyanyi sepuasnya di karaoke hingga mabuk. Ia bahkan memakai topi kerucut dan meletuskan konfeti untuk merayakan "ulang tahun terakhirnya" sendirian. Lalu, tepat saat ia siap menenggak obat-obatan itu, perutnya berbunyi. Ale memutuskan makan dulu sebelum mengakhiri hidup, dan pilihannya adalah seporsi mie ayam. Dari semangkuk mie ayam itulah cerita bergerak, dan kita diajak menunggu: apakah semangkuk makanan sederhana cukup kuat untuk menggoyahkan keputusan sebesar itu?

Bagi saya, alasan pertama adalah judulnya. Mie ayam adalah makanan paling akrab di lidah kita, hadir di gerobak pinggir jalan, warung kecil, sampai makan malam sepulang kerja. Sementara kematian adalah hal yang paling enggan kita bicarakan. Dua hal yang bertolak belakang itu dipertemukan dalam satu kalimat, dan hasilnya langsung memancing rasa ingin tahu. Salah satu kalimat dari novel ini berbunyi, "Aku ingin mati, tapi ingin mie ayam juga." Kalimat itu terdengar lucu sekaligus perih. Saya merasa begitulah wajah depresi yang sebenarnya: tidak selalu tampak murung, kadang justru terselip di antara keinginan-keinginan remeh sehari-hari.

Alasan kedua adalah isu yang diangkat. Novel ini membahas kesehatan mental, topik yang di masyarakat kita masih sering dianggap aib atau sekadar kurang bersyukur. Brian mengajak pembaca merenungi makna keberadaan, mencari alasan untuk tetap melangkah, dan menghargai hal-hal kecil yang sering terlupakan. Kisah Ale mengajak kita melihat bahwa di balik orang yang tampak baik-baik saja, bisa ada perjuangan yang tidak pernah terlihat.

Alasan ketiga adalah jejak keberhasilannya yang luar biasa. Novel yang terbit Februari 2025 ini sudah dicetak ulang kurang dari sebulan setelah peluncuran, lalu menembus cetakan ke-100 dalam sekitar satu tahun. Penerbitnya menyebut hal ini sangat jarang terjadi untuk sebuah buku. Jangkauannya pun melewati batas negara, karena novel ini sudah terbit dalam bahasa Jepang dan dijadwalkan terbit di Malaysia pada Juni 2026. Pencapaian ini diikuti pengakuan atas penulisnya: Brian Khrisna dinobatkan sebagai Writer of the Year dalam IKAPI Awards 2026. Karena itu, novel ini layak dilihat bukan hanya sebagai fenomena penjualan, tetapi juga sebagai karya yang benar-benar menyentuh pembacanya.

Alasan keempat, khusus bagi kita yang menekuni bahasa dan sastra, novel ini kaya bahan kajian. Perjalanan tokoh utamanya mencari makna hidup sudah dikaji dengan pendekatan psikologi sastra, memakai teori logoterapi Viktor E. Frankl. Ada pula penelitian yang menyoroti konflik batin tokoh utamanya dan relevansinya dengan pembelajaran perwatakan tokoh di kelas XII SMA. Artinya, novel ini bukan hanya enak dinikmati, tetapi juga bisa menjadi bahan belajar tentang penokohan dan psikologi tokoh.

Kelebihan pertama menurut saya adalah kejujuran ceritanya. Brian tidak membungkus depresi dengan bahasa yang indah tetapi jauh dari kenyataan. Ale digambarkan sebagai orang biasa yang lelah, terluka, dan sering merasa tidak berharga. Ia bukan pahlawan yang bijak. Karena itulah banyak pembaca bisa merasa, "ini seperti aku" atau "ini seperti seseorang yang kukenal". Kedekatan semacam ini adalah kekuatan besar sebuah karya fiksi.

Kelebihan kedua ada pada bahasanya. Kalimat-kalimatnya sederhana dan mengalir, sehingga pembaca awam bisa mengikuti cerita tanpa harus memahami istilah psikologi yang rumit. Buku dengan tema seberat ini bisa terasa menyesakkan bila disampaikan dengan bahasa yang berbelit. Di sini, kesederhanaan justru membuat pesan lebih mudah sampai.

Kelebihan ketiga adalah simbol mie ayam. Ia dipilih bukan karena mewah, melainkan karena akrab. Saya merasa pesan novel ini jelas: alasan untuk bertahan kadang bukan hal besar seperti cita-cita atau pencapaian, melainkan hal kecil yang hangat dan nyata, seperti semangkuk makanan favorit. Pesan itu terasa menenangkan karena tidak menuntut apa-apa dari pembacanya.

Kelebihan keempat adalah tampilan bukunya. Novel ini disertai ilustrasi sehingga pembaca tidak mudah bosan membaca halaman demi halaman. Edisi terbarunya pun makin istimewa. Cetakan spesial ke-100 hadir dengan cover jacket dan desain baru, serta tambahan chapter dan ilustrasi yang mempertemukan kembali Ale dengan Murad. Bagi pembaca setia, tambahan ini tentu terasa seperti hadiah.

Meski kuat, saya merasa ada beberapa catatan. Pertama, temanya sangat berat. Pembaca yang sedang berada di masa sulit bisa merasa kewalahan, karena cerita ini bersinggungan langsung dengan keinginan mengakhiri hidup. Novel ini lebih tepat dibaca dalam kondisi emosi yang cukup stabil.

Kedua, cerita yang berpusat pada satu tokoh dalam rentang waktu yang pendek bisa terasa terlalu sederhana bagi pembaca yang menyukai alur rumit dengan banyak kejutan. Novel ini mengandalkan kedalaman perasaan, bukan ketegangan plot, sehingga pembaca yang mencari bacaan penuh aksi mungkin kurang terpuaskan.

Ketiga, pesan tentang harapan disampaikan dengan sangat terang. Bagi pembaca yang gemar menafsirkan makna tersirat, ruang untuk menebak dan merenung terasa agak sempit karena pesan utamanya begitu jelas.

Setelah semuanya ditimbang, kesan saya tetap hangat. Saya memberi Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati nilai 4,5 dari 5. Novel ini tidak menggurui, tetapi menemani, seperti teman yang duduk di sebelahmu tanpa banyak bicara. Ia mengingatkan bahwa orang yang tampak baik-baik saja bisa menyimpan luka yang dalam, dan bahwa kepedulian kecil, seperti mendengarkan atau sekadar menemani makan, bisa berarti sangat besar.

Saya merekomendasikan buku ini untuk remaja akhir, mahasiswa, dan siapa saja yang ingin lebih peka terhadap kondisi mental diri sendiri maupun orang di sekitarnya. Bacalah dengan hati-hati, dan jangan ragu mencari teman bicara bila isinya terasa terlalu dekat dengan kondisimu. Setelah halaman terakhir ditutup, semoga kita lebih pandai menghargai hal-hal kecil, dan lebih peka bahwa orang di sekitar kita mungkin sedang berjuang dalam diam.

---

Daftar Pustaka:

  • Khrisna, Brian. 2025. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Jakarta: Grasindo.