Siapa yang Sebenarnya Kita Cari: Tuhan atau Pengakuan?

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rahiel Khadija Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah masyarakat Indonesia, gelar Haji sering kali memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar penanda bahwa seseorang telah menunaikan rukun Islam kelima. Gelar tersebut tidak jarang dipandang sebagai simbol kehormatan, ukuran kewibawaan, bahkan menjadi identitas sosial yang mampu mengangkat posisi seseorang di lingkungan sekitarnya. Tidak mengherankan apabila banyak orang merasa bahwa setelah berhaji, penghormatan dari masyarakat pun ikut berubah. Padahal, pada hakikatnya, ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang menuntut keikhlasan, bukan perjalanan untuk memperoleh pengakuan sosial.
Fenomena tersebut menjadi kegelisahan yang menarik untuk diangkat ke dalam karya sastra. Ahmadul Faqih Mahfudz melalui cerpennya di Kompas, Kelok Jalan Menuju Engkau. Menghadirkan kisah yang tidak hanya berbicara tentang keberangkatan menuju Tanah Suci, tetapi juga tentang bagaimana perjalanan itu dipenuhi berbagai "kelokan" yang berasal dari kepentingan manusia. Di balik cerita seorang kiai yang gagal berangkat haji karena menjadi korban penipuan, tersimpan kritik terhadap budaya yang masih mengaitkan kesalehan dengan simbol-simbol lahiriah. Cerita ini memperlihatkan bahwa jalan menuju Tuhan terkadang justru dipersulit oleh manusia sendiri melalui gengsi, kepentingan politik, dan permainan kekuasaan.
Kritik tersebut dapat dipahami melalui teori Robert Stanton, khususnya pada aspek fakta-fakta cerita yang meliputi alur, karakter, dan latar. Ketiga unsur tersebut saling mendukung dalam membangun keseluruhan cerita. Namun, dalam cerpen ini, karakter dan latar menjadi unsur yang paling menonjol karena keduanya tidak hanya menghidupkan konflik, tetapi juga memperjelas pesan sosial yang ingin disampaikan pengarang.
Karakter yang Tidak Hanya Baik, tetapi Juga Sangat Manusiawi
Kiai Badrul Arifin tampil sebagai tokoh utama yang sejak awal digambarkan memiliki prinsip kuat. Ia tidak ingin memperoleh kemudahan dengan cara yang dapat mengurangi makna ibadahnya. Hal tersebut terlihat ketika ia menolak tawaran berhaji melalui jalur fasilitas seorang menteri.
"Berhaji dengan jatah menteri memang nikmat tapi berisiko. Nikmat karena gratis, tanpa antre puluhan tahun seperti orang kebanyakan.... Lagi pula, aku tak mau bergelar Haji Abidin alias haji atas biaya dinas."
Penolakan itu memperlihatkan bahwa Kiai Badrul berusaha menjaga kemurnian niatnya. Baginya, ibadah bukanlah ruang untuk membangun kedekatan dengan penguasa ataupun memperoleh keuntungan tertentu. Pengarang tidak mengatakan secara langsung bahwa tokoh utama adalah sosok yang jujur dan berintegritas. Sebaliknya, karakter tersebut dibangun melalui tindakan yang dipilih tokoh ketika menghadapi persoalan.
Namun, menariknya, Ahmadul Faqih Mahfudz juga tidak menghadirkan Kiai Badrul sebagai tokoh yang tanpa kelemahan. Ia tetap memiliki kegelisahan yang sangat manusiawi, terutama ketika lingkungan terus mengingatkannya bahwa seorang kiai seolah belum "sempurna" apabila belum bergelar haji.
"Kiai harus K.H., kalau hanya K., itu pelat nomor kendaraan."
Kalimat tersebut memang dibungkus sebagai candaan, tetapi menyimpan sindiran yang tajam. Di balik humor itu terdapat cara pandang masyarakat yang masih mengukur kehormatan seseorang melalui simbol. Perlahan-lahan, tekanan tersebut memengaruhi batin Kiai Badrul. Keinginannya untuk berhaji tidak lagi sekadar didorong oleh panggilan spiritual, tetapi juga oleh dorongan untuk terbebas dari penilaian sosial yang terus mengikutinya.
Karakter Kiai Badrul semakin berkembang ketika ia dipertemukan dengan tokoh-tokoh lain yang memiliki nilai hidup berbeda. Kiai Jubni memandang kedekatan dengan kekuasaan sebagai sesuatu yang wajar. Bram memanfaatkan kepercayaan demi keuntungan pribadi. Sementara itu, Haji Subroto menjadi representasi kekuatan modal yang mampu mengendalikan berbagai kepentingan. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut membuat pembaca melihat bahwa integritas tidak pernah benar-benar diuji ketika keadaan baik-baik saja. Integritas justru tampak ketika seseorang harus memilih di tengah berbagai godaan.
Puncak pergulatan karakter terjadi di Bandara Soekarno-Hatta ketika Kiai Badrul menyadari dirinya telah ditipu.
"Setelah menunggu sampai tengah malam hingga pagi dan Bram tetap tak muncul dan masih tak bisa dihubungi, aku baru sadar, aku ditipu."
Tidak ada tangisan panjang ataupun amarah yang meledak-ledak. Kesunyian dalam kalimat tersebut justru memperlihatkan kehancuran yang lebih dalam. Pada bagian inilah pembaca menyadari bahwa tokoh utama bukan hanya kehilangan kesempatan berhaji, tetapi juga kehilangan harapan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Latar yang Menjadi Cermin Kehidupan Masyarakat
Selain karakter, kekuatan cerpen ini juga terletak pada pemanfaatan latar yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Ahmadul Faqih Mahfudz tidak sekadar memilih pesantren sebagai tempat berlangsungnya cerita, tetapi menjadikannya ruang yang memperlihatkan hubungan antara agama, budaya, dan kehidupan sosial.
Suasana religius langsung terasa ketika para santri mengantar keberangkatan Kiai Badrul.
"Para santri menembang selawat seraya mengiringinya dengan ketipak-ketipuk rebana."
Latar tersebut menghadirkan kesan hangat dan penuh doa. Akan tetapi, pengarang kemudian memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat melalui tradisi melepas calon jamaah haji.
"Ada yang membawa uang, ada yang membawa bungkusan-bungkusan beras dan gula."
Tradisi tersebut menunjukkan kuatnya solidaritas masyarakat. Namun, pada saat yang sama, dukungan itu menjadi beban moral bagi Kiai Badrul. Ia merasa membawa harapan banyak orang sehingga kegagalan berhaji bukan hanya menjadi kegagalan pribadi, melainkan juga kegagalan di hadapan masyarakat.
Perubahan suasana semakin terasa ketika cerita berpindah ke Bandara Juanda dan Bandara Soekarno-Hatta. Jika pesantren dipenuhi doa dan harapan, bandara justru menjadi ruang yang menghadirkan kecemasan, penantian, hingga kekecewaan. Perubahan latar tersebut memperkuat emosi cerita karena pembaca diajak berpindah dari suasana penuh optimisme menuju kenyataan yang sangat pahit.
Pada bagian akhir, latar berkembang menjadi lebih luas melalui konflik tambang emas.
"Haji Subroto tak suka keberadaanku karena aku gigih menggerakkan masyarakat untuk menolak tambang emas di wilayahku."
Kutipan tersebut mengubah cara pembaca memandang seluruh cerita. Penipuan yang semula tampak sebagai kejahatan biasa ternyata berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik yang lebih besar. Melalui latar sosial tersebut, pengarang menunjukkan bahwa ruang-ruang keagamaan pun tidak sepenuhnya bebas dari campur tangan kekuasaan.
Pada akhirnya, Kelok Jalan Menuju Engkau bukan hanya bercerita tentang perjalanan menuju Makkah, melainkan juga tentang perjalanan mempertahankan nilai-nilai yang diyakini. Ahmadul Faqih Mahfudz mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam beribadah sering kali bukan berasal dari jauhnya perjalanan atau mahalnya biaya, melainkan dari cara manusia memaknai ibadah itu sendiri. Ketika gelar lebih dihargai daripada ketulusan, dan ketika kekuasaan mampu menentukan arah sebuah perjalanan spiritual, saat itulah makna ibadah mulai bergeser. Cerpen ini menjadi refleksi bahwa kehormatan sejati tidak lahir dari gelar yang melekat di depan nama, melainkan dari integritas yang tetap dijaga meskipun harus melewati jalan yang berliku.
Daftar Pustaka:
Mahfudz, A. F. (2026). Kelok Jalan Menuju Engkau. Kompas. https://www.kompas.id/artikel/kelok-jalan-menuju-engkau?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic
Stanton, R. (2007). Teori fiksi (Sugihastuti & Rossi Abi Al Irsyad, Penerj.). Pustaka Pelajar. (Karya asli diterbitkan 1965).
