Bukan Sekadar Dolar Naik, Ini Risiko di Balik Perubahan Nilai Tukar
Tulisan dari Rahma Fadhila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sering menjadi perhatian ketika dolar semakin mahal atau rupiah mengalami pelemahan. Dampaknya bisa dirasakan dalam berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari biaya impor, perjalanan ke luar negeri, hingga pengeluaran perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang asing. Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipahami, yaitu bagaimana perubahan nilai tukar dapat memengaruhi dunia perbankan.
Bagi masyarakat umum, kenaikan dolar mungkin hanya terlihat sebagai perubahan harga mata uang. Padahal, bagi bank, pergerakan kurs berkaitan dengan pengelolaan aset, kewajiban, transaksi valuta asing, dan potensi keuntungan maupun kerugian. Karena itu, risiko pasar valuta asing menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan keuangan perbankan.
Risiko ini tidak selalu berarti bank akan mengalami kerugian ketika rupiah melemah. Dampaknya bergantung pada posisi valuta asing yang dimiliki bank, jenis transaksi yang dilakukan, serta kemampuan bank dalam mengantisipasi perubahan kondisi pasar.
Mengapa Nilai Tukar Bisa Berubah?
Nilai tukar mata uang terbentuk melalui interaksi permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Ketika kebutuhan dolar meningkat, misalnya karena perusahaan harus membayar impor atau melunasi utang dalam dolar, permintaan terhadap mata uang tersebut dapat bertambah. Jika pasokannya tidak mengimbangi peningkatan permintaan, rupiah bisa mengalami tekanan.
Namun, permintaan dan penawaran bukan satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan kurs. Perbedaan suku bunga antarnegara juga dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dananya. Ketika aset keuangan suatu negara dianggap lebih menarik dari sisi imbal hasil dan risiko, aliran modal dapat bergerak menuju negara tersebut. Perubahan arus modal ini kemudian dapat memengaruhi permintaan terhadap mata uangnya.
Inflasi juga memiliki peran penting. Jika kenaikan harga berlangsung tinggi dan mengurangi daya beli mata uang, kepercayaan terhadap mata uang tersebut dapat terpengaruh. Selain itu, kondisi ekonomi global, stabilitas politik, kebijakan bank sentral, dan ketegangan geopolitik turut memengaruhi keputusan pelaku pasar.
Bank Indonesia dalam pembahasannya mengenai volatilitas arus modal menjelaskan bahwa pergerakan modal internasional dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar dan memengaruhi stabilitas moneter maupun sistem keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan kurs tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pasar keuangan global. "Baca penjelasan Bank Indonesia" (https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/Peningkatan-Volatilitas-Arus-Modal-Membutuhkan-Respons-Kebijakan-Bank-Sentral-yang-Tepat.aspx).
Dengan demikian, ketika rupiah melemah, penyebabnya tidak selalu berasal dari kondisi dalam negeri. Perubahan kebijakan negara lain dan meningkatnya ketidakpastian global juga dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.
Ketika Perubahan Kurs Menjadi Risiko bagi Bank
Risiko pasar valuta asing merupakan kemungkinan terjadinya kerugian akibat perubahan nilai tukar yang memengaruhi posisi atau transaksi dalam mata uang asing. Risiko ini muncul ketika bank memiliki aset, kewajiban, atau transaksi valuta asing yang nilainya berubah mengikuti pergerakan kurs.
Sebagai contoh, sebuah bank memiliki aset dalam dolar Amerika Serikat, tetapi juga memiliki kewajiban dalam mata uang yang sama. Ketika nilai tukar berubah, nilai aset dan kewajiban tersebut jika dikonversi ke rupiah juga ikut berubah. Dampak akhirnya bergantung pada besarnya masing-masing posisi dan apakah keduanya seimbang.
Situasinya berbeda ketika aset dan kewajiban dalam valuta asing tidak seimbang. Jika bank memiliki posisi terbuka dalam dolar, perubahan kurs yang berlawanan dengan arah posisinya dapat menimbulkan kerugian. Sebaliknya, perubahan tertentu juga bisa memberikan keuntungan.
Artinya, pelemahan rupiah tidak otomatis membuat seluruh bank merugi. Bank yang mengelola posisi valuta asing dengan baik dapat memiliki eksposur yang lebih terkendali. Meski begitu, risiko tetap perlu diperhatikan karena perubahan pasar yang tajam dapat membuat nilai posisi keuangan berubah dalam waktu singkat.
Risiko valuta asing juga perlu dilihat bersama kondisi ekonomi yang lebih luas. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Apabila kenaikan biaya tersebut memengaruhi kemampuan perusahaan membayar kewajibannya, bank dapat menghadapi tekanan tidak langsung melalui peningkatan risiko kredit. Jalur dampak ini berbeda dari kerugian langsung akibat posisi valuta asing, tetapi sama-sama penting untuk diperhatikan.
Apa Kata Penelitian tentang Dampak Fluktuasi Kurs?
Risiko valuta asing bukan sekadar persoalan teoritis. Penelitian Agus Hendrawan yang diterbitkan pada 2025 dalam jurnal Media Riset Bisnis Ekonomi Sains dan Terapan menganalisis hubungan volatilitas nilai tukar terhadap kinerja perbankan di Indonesia selama periode 2019–2024. Penelitian tersebut menggunakan sekitar 12.000 observasi dan mengukur kinerja bank melalui fungsi intermediasi, yang diproksikan dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR), serta ukuran profitabilitas dari pendapatan transaksi spot dan derivatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan. Pengaruhnya terlihat lebih kuat dan konsisten pada fungsi intermediasi dibandingkan dengan ukuran profitabilitas yang digunakan dalam penelitian tersebut. "Baca penelitian Agus Hendrawan" (https://jurnalbest.com/index.php/mrbest/article/view/408).
Temuan ini menarik karena memperlihatkan bahwa dampak perubahan kurs tidak cukup dinilai hanya dari laba atau rugi bank. Pergerakan nilai tukar juga dapat berkaitan dengan bagaimana bank menjalankan fungsi intermediasinya, yaitu menghimpun dana dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat.
Penelitian lain oleh Danur Soedarsono dari Universitas Gadjah Mada pada 2019 meneliti 39 bank umum di Indonesia. Penelitian tersebut menemukan hubungan positif dan signifikan antara volatilitas nilai tukar dan kinerja keuangan bank dalam sampel yang diteliti. "Baca penelitian di repositori UGM" (https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/180944).
Jika kedua penelitian tersebut dilihat bersama, terdapat satu hal yang perlu dipahami: dampak fluktuasi kurs terhadap kinerja bank tidak selalu sama. Perbedaan periode penelitian, indikator kinerja, karakteristik bank, dan kondisi pasar dapat menghasilkan temuan yang berbeda. Oleh karena itu, tidak tepat jika setiap pelemahan rupiah langsung dianggap akan menurunkan keuntungan seluruh bank.
Justru, temuan-temuan tersebut memperkuat pentingnya pengelolaan risiko yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing bank.
Seberapa Besar Risiko Valuta Asing di Perbankan Indonesia?
Gambaran mengenai kondisi perbankan Indonesia dapat dilihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam siaran pers pada 22 Mei 2026, OJK menyatakan bahwa eksposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar relatif terjaga. Salah satu indikator yang dipantau adalah Posisi Devisa Neto (PDN), yang secara konsisten berada jauh di bawah batas maksimum 20 persen dari modal bank.
OJK juga menyoroti potensi dampak lanjutan dari gejolak global, termasuk tekanan inflasi akibat kenaikan harga barang impor dan biaya produksi. Dengan kata lain, meskipun eksposur langsung bank terhadap perubahan kurs dinilai terkendali, perkembangan nilai tukar tetap perlu dipantau karena dampaknya dapat merambat melalui aktivitas ekonomi. "Baca siaran pers OJK" (https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Sikapi-Gejolak-Geopolitik-Global-OJK-Pastikan-Fundamental-dan-Intermediasi-Perbankan-Tetap-Terjaga.aspx).
Data tersebut memberikan perspektif yang lebih seimbang. Risiko valuta asing memang perlu diwaspadai, tetapi hal itu tidak berarti sistem perbankan otomatis berada dalam kondisi rentan setiap kali rupiah melemah. Besarnya risiko perlu dilihat berdasarkan posisi valuta asing, kecukupan modal, likuiditas, dan kemampuan bank mengelola eksposurnya.
Mengelola Risiko di Tengah Ketidakpastian
Karena pergerakan kurs sulit diprediksi secara tepat, bank perlu menerapkan manajemen risiko yang terukur. Salah satu langkahnya adalah memantau posisi valuta asing secara berkala untuk mengetahui besarnya eksposur dan kemungkinan kerugian akibat perubahan kurs.
Bank juga dapat melakukan pengujian skenario atau stress testing untuk memperkirakan dampak apabila nilai tukar bergerak secara tajam. Selain itu, penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging dapat membantu mengurangi risiko tertentu apabila sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik transaksi.
Pengelolaan tersebut perlu didukung oleh pengawasan internal, pembatasan eksposur, kecukupan modal, dan kebijakan yang sesuai dengan ketentuan regulator. Tujuannya bukan menghilangkan seluruh risiko, melainkan memastikan bahwa potensi kerugian tetap berada dalam batas yang dapat dikelola.
Pada akhirnya, perubahan nilai tukar merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang tidak dapat dihindari. Faktor seperti suku bunga, inflasi, arus modal, dan kondisi geopolitik dapat mengubah arah pergerakan mata uang. Bagi perbankan, tantangannya bukan sekadar memperkirakan apakah dolar akan naik atau turun, melainkan memahami bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kondisi keuangan dan bagaimana dampaknya dapat diantisipasi.
Memahami risiko pasar valuta asing berarti memahami bahwa kestabilan perbankan tidak hanya bergantung pada kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga pada kesiapan menghadapi perubahan. Dengan pengelolaan risiko yang tepat, bank dapat menjaga ketahanan keuangannya sekaligus mempertahankan perannya dalam mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Rahma Fadhila, Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Dr. Lisdawati, S.E., M.M.

