Udara Tercemar dan Krisis Air Bersih Selimuti Sulbar Dampak El Nino

International relations student, West Sulawesi University
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari RAHMAH AMELIA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penulis: Rahmah Amelia

Langit Sulawesi Barat dalam sepekan terakhir mulai di selimuti kabut asap. Ini bukan kabut biasa, melainkan udara tercemar dampak dari kemarau panjang El Nino.
BMKG Tampa Padang menjelaskan, kabut ini merupakan gabungan dari dua sumber. Pertama, kebakaran lokal yang terjadi di Sulbar. Tercatat 126 kejadian di Polman seluas 710 hektar, 67 kejadian di Mamasa, 10 hektar di Salutambung Ulumanda Majene(8 Oktober), 4 hektar di Lombang Malunda, dan yang terbaru 20 hektar lahan sawit di Tommo 3 ludes terbakar pada 4 Oktober 2026 pukul 10.20 WITA.
Kedua, asap kiriman antar pulau. Asap dari kebakaran di Kalimantan, Maluku, dan Papua Selatan terbawa angin timur-tenggara menuju Sulbar. Diperparah El Nino yang membuat hujan minim, sehingga menyebabkan kekeringan dan mudah di lahap api.
Tidak hanya udara yang memburuk, El Nino juga memicu krisis air bersih, dan ini yang paling saya rasakan di desa saya sendiri di Tommo, kini kesulitan air. Sumur-sumur warga yang biasanya melimpah, kini kering akibat kemarau panjang.
Dampak yang lebih parah juga terjadi kepada petani, mereka gagal panen akibat kekurangan air, akibatnya tanaman menguning sebelum waktu panen tiba.
Akibatnya, kualitas udara di beberapa daerah sulbar menurun drastis, menganggu aktifitas warga, risiko ISPA meningkat, dan menganggu sektor ekonomi lokal.
Peristiwa ini menjadi pengingat, bahwa kabut asap di Sulbar bukan hanya masalah lokal, melainkan dampak dari krisis iklim lintas pulau dan El Nino yang berkepanjangan.
