Pendidikan di Sulawesi Barat: Tantangan Pemerataan dan Peningkatan Kualitas SDM

PRODI HUBUNGAN INTERNASIONAL Universitas Sulawesi Barat
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari rahmawahida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan. Pendidikan punya peran besar dalam membentuk kualitas manusia. Lewat pendidikan, orang bisa belajar, punya keterampilan, dan membuka peluang hidup yang lebih baik. Tapi sampai sekarang, pendidikan belum merata di banyak daerah, termasuk Sulawesi Barat. Letak geografis, kondisi ekonomi keluarga, fasilitas sekolah, dan akses teknologi yang berbeda-beda membuat kesempatan belajar tiap orang tidak sama.

masalah pendidikan di Sulawesi Barat perlu diperhatikan serius, karena kualitas pendidikan hari ini menentukan apakah anak muda kita siap bersaing nanti terutama soal pembangunan manusia dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Salah satunya SDG 4, yang menekankan pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas untuk semua orang.
Angka Partisipasi Murni (APM) SMA di Sulawesi Barat tahun 2024 adalah 62,1 persen. APM sendiri menunjukkan berapa persen anak usia sekolah yang benar-benar bersekolah di jenjang yang sesuai usianya. Artinya, partisipasi di jenjang SMA masih perlu mendapat perhatian.
Ada beberapa hal yang mungkin memengaruhinya: jarak rumah ke sekolah yang jauh, transportasi yang terbatas, kondisi ekonomi keluarga, dan fasilitas pendidikan yang belum merata. Bagi warga yang tinggal jauh dari pusat kota, melanjutkan sekolah butuh biaya dan tenaga yang lebih besar. Kalau dibiarkan, kesempatan anak untuk mengembangkan dirinya bisa makin terbatas.
Masalah ini bisa dilihat lewat pendekatan pembangunan manusia (human development). Pendekatan ini menilai kemajuan bukan hanya dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan kesempatan hidup yang lebih baik. Jadi, pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya sekolah yang dibangun, tetapi juga dari kualitas belajar dan pemerataan kesempatan bagi siswa.
Selain itu, teori ketergantungan bisa dipakai untuk melihat bagaimana pembagian sumber daya yang timpang bisa membuat suatu wilayah tertinggal. Kalau fasilitas, teknologi, dan tenaga pendidik lebih mudah didapat di kota dibanding daerah terpencil, jurang kesempatan belajar akan terus ada. Namun, ini bukan berarti ketertinggalan itu tidak bisa diatasi. Kebijakan pemerintah dan kerja sama antardaerah bisa membantu memperluas akses ke sumber daya pendidikan.
Dari sisi Hubungan Internasional, pendidikan adalah bagian dari kerja sama global. Lewat SDG 4, UNESCO mendorong negara-negara memperluas akses pendidikan berkualitas dan mengurangi kesenjangan. Jadi, memperbaiki pendidikan di Sulawesi Barat bukan hanya penting untuk pembangunan daerah, tetapi juga mendukung komitmen Indonesia pada agenda pembangunan berkelanjutan.
Pihak yang paling untung dari pemerataan pendidikan adalah siswa dan masyarakat, karena peluang mereka untuk berkembang dan sejahtera jadi lebih luas. Sebaliknya, anak dari keluarga berpenghasilan rendah dan warga di daerah sulit dijangkau berisiko dirugikan kalau akses pendidikan tidak merata. Pemerintah daerah juga ikut menghadapi tantangan, sebab kualitas SDM memengaruhi pembangunan ekonomi dan sosial.
Menurut saya, pemerintah daerah perlu bertindak nyata. Pertama, pembangunan dan perbaikan fasilitas sekolah sebaiknya diprioritaskan di wilayah yang aksesnya masih terbatas. Kedua, bantuan pendidikan untuk keluarga yang membutuhkan perlu diperluas supaya masalah biaya tidak membuat anak berhenti sekolah.Ketiga, kualitas guru perlu ditingkatkan lewat pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan. Keempat, teknologi pembelajaran perlu dikembangkan dengan tetap melihat ketersediaan jaringan internet dan perangkat belajar. Pemerintah juga bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi, organisasi pendidikan, dan mitra internasional untuk pelatihan guru, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan keterampilan digital.
