Kemiskinan: Permanen atau Sementara?
Tulisan dari Raja Ravanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap bayi yang terlahir di dunia bisa memiliki 2 nasib/takdir, bisa mengarah ke kemiskinan ataupun normal saja bahkan mampu. Namun , pada topik kali ini kita berbicara pada konteks kemiskinan yang diolah menjadi 2 jenis yakni kemiskinan yang bersifat permanen atau jangka panjang dan juga yang bersifat sementara. Faktor tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak sekali factor yakni pendidikan, lingkungan, kesehatan dan sebagainya. Lantas hal apa yang bisa diolah terkait permasalahan tersebut?
Masuk pada hal pertama yakni kemiskinan secara permanen, lantas apa yang membuat kemiskinan permanen tersebut dialami oleh beberapa orang terutama di Indonesia hingga kini . Masuk pada faktor yang paling berpengaruh yakni faktor pendidikan dan rendahnya motivasi dalam kehidupan , kurangnya semangat dalam hidup ataupun adanya dorongan lingkungan yang menduduk kemiskinan terus berlangsung . Masuk pada faktor pertama yakni pendidikan yang dimaksud pada hal ini yakni individu yang tidak mendapatkan bangku pendidikan sama sekali bahkan jika hal itu disengaja karena masuk pada faktor kedua yakni lingkungan yang mendukung seperti lingkungan yang penuh dengan individu yang tidak berpendidikan sehingga mengarah pada menurunnya moralitas, meningkatnya kriminalitas dan pada akhirnya mengarah ke kemiskinan , tentunya semua hal tersebut saling berkesinambungan satu sama lain. Hal tersebutlah yang dapat membuat kemiskinan tersebut nampak bisa seperti permanen walau walau hal tersebut tidak menjadi kan permanen itu akan melekat selamanya, karena kemiskinan dapat dikatakan pilihan bagi orang yang masih memiliki semangat dan yakin untuk bisa melakukan perubahan dalam ekonomi baik untuk dirinya maupun keluarganya.
Hal itu tentunya menjadi polemik bagi kehidupan berbangsa, pada tahun 2024 saja sebesar 25,22 juta orang indonesia masih berada pada garis kemiskinan dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS). Kendati demikian angka tersebut sangat mungkin untuk dapat diturunkan baik melalui tangan pemerintah ataupun kendali diri tiap individu. dimulai dari solusi dari tangan pemerintah yakni melalui program program yang disalurkan secara jelas dan transparan sehingga hal tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat bukan timbul masalah baru yakni korupsi. Program tersebut dapat berupa sosialisasi maupun pembukaan lapangan pekerjaan yang aman dan nyaman, tentunya dengan standar keamanan yang memadai dan juga gaji yang mencukupi. Pernyataan tersebut tentunya didukung oleh pekerjaan tetap maupun pendidikan yang cukup, hal tersebut kembali membawa pada agen perubahan dalam kehidupan tersebut yakni ialah diri kita masing masing bagaimana dapat membawa kita maupun keluarga kita kepada keadaan yang lebih baik lagi ke depannya.
Berbicara dengan keadaan sekarang yang dapat membuat pekerja harus ekstra keras untuk mendapatkan pundi pundi rupiah demi menjalani kehidupan yang kompleks adanya seperti biaya kehidupan sehari hari berupa makanan, biaya perawatan rumah maupun perawatan tubuh. Dengan adanya kemauan yang tinggi lalu adanya dukungan juga dari pemerintah , hal tersebut dapat membawa seseorang untuk lepas dari jerat kemiskinan , tinggi nya rasa perubahan dan juga motivasi lebih untuk bisa menjalani kehidupan yang lebih terjamin tentunya dapat merubah nasib agar lebih baik. Sesungguhnya kemiskinan bukanlah takdir abadi untuk setiap insan yang berakal dan juga bernafas namun kemiskinan merupakan suatu pilihan yang dapat dipilih untuk seseorang apakah mau lepas dari jeratan tersebut atau justru nyaman dengan keadaan sulit tersebut. Jawaban pada judul artikel tersebut adalah kembali lagi dengan pilihan mana yang mau kita ambil.

