Konten dari Pengguna

Ketika Ruang Bermain Tumbuh di Antara Nisan

Seorang Anak Bermain Di Hamparan Makam TPU Prumpung//Foto: Raja Ravanda
zoom-in-whitePerbesar
Seorang Anak Bermain Di Hamparan Makam TPU Prumpung//Foto: Raja Ravanda

Di tengah padatnya kehidupan Jakarta, ruang bagi anak-anak untuk bermain semakin menjadi sesuatu yang bernilai. Tidak semua anak memiliki halaman luas, taman yang mudah dijangkau, atau ruang publik yang secara khusus dirancang untuk permainan. Pada kondisi seperti itu, anak-anak akan menemukan ruangnya sendiri.

Pemandangan tersebut terlihat di TPU Prumpung, Jakarta Timur. Di antara barisan nisan dan hamparan tanah pemakaman, sejumlah anak menjalani aktivitas yang sangat sederhana: bermain bola, menerbangkan layang-layang, dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Sekilas, pemandangan itu mungkin terasa kontras. Pemakaman identik dengan keheningan, sementara permainan anak-anak identik dengan keceriaan. Namun, keduanya dapat hadir dalam satu ruang tanpa harus saling meniadakan.

Yang menarik bukan semata-mata keberadaan anak-anak di kawasan pemakaman, melainkan bagaimana mereka menemukan ruang untuk bermain di tengah lingkungan perkotaan. Bagi anak-anak, sebuah ruang terbuka dapat memiliki arti yang berbeda. Tanah lapang dapat menjadi lapangan bola, angin dapat menjadi alasan untuk menerbangkan layang-layang, dan keberadaan teman dapat mengubah tempat biasa menjadi ruang bermain.

Fenomena ini juga mengingatkan bahwa persoalan ruang bermain tidak selalu dapat dilihat hanya dari jumlah taman atau fasilitas yang tersedia. Ada persoalan yang lebih sederhana: di mana anak-anak dapat bermain dengan aman, bebas, dan sesuai dengan kebutuhan mereka?

Jakarta merupakan kota dengan kepadatan aktivitas yang tinggi. Rumah, jalan, pusat perdagangan, gedung, dan berbagai fasilitas publik saling berbagi ruang yang terbatas. Dalam situasi tersebut, ruang terbuka memiliki nilai sosial yang lebih besar daripada sekadar lahan kosong. Ia dapat menjadi tempat bertemu, berinteraksi, berolahraga, atau sekadar menghabiskan waktu.

Namun, ruang memiliki fungsi dan batasnya masing-masing. TPU tetap merupakan kawasan pemakaman yang harus dihormati. Karena itu, aktivitas apa pun yang berlangsung di dalam atau sekitar kawasan tersebut semestinya tetap mempertimbangkan ketertiban, keamanan, serta penghormatan terhadap makam.

Di sinilah foto jurnalistik dapat memainkan perannya. Foto tidak selalu harus menghadirkan peristiwa besar untuk menjadi penting. Kehidupan sehari-hari pun menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat menggunakan ruang di sekitarnya.

Anak-anak yang berlari mengejar bola, layang-layang yang terbang di atas kawasan pemakaman, dan deretan nisan yang menjadi latar belakang bukan sekadar kumpulan objek dalam satu bingkai. Semuanya memperlihatkan satu kenyataan sederhana: manusia selalu berusaha menemukan ruang untuk menjalani kehidupan, bahkan di tengah keterbatasan ruang perkotaan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang apakah anak-anak seharusnya bermain di pemakaman atau tidak. Persoalan yang lebih luas adalah bagaimana sebuah kota dapat menyediakan ruang yang layak bagi setiap warganya, termasuk anak-anak.

Sebab, kota bukan hanya tentang gedung yang menjulang dan jalan yang dipenuhi kendaraan. Kota juga tentang tempat seseorang tumbuh, bermain, bertemu, dan membangun ingatan masa kecilnya.

Dan terkadang, cerita tentang sebuah kota justru dapat ditemukan di tempat yang tidak pernah kita duga.