Konten dari Pengguna

Isu Biaya Hidup Memicu Demonstrasi di Berbagai Negara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Randi Cahyadi Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Biaya hidup yang terus naik—terutama harga pangan, energi, sewa rumah, dan transportasi—menjadi salah satu pemicu utama demonstrasi di berbagai negara. Ketika penghasilan masyarakat tidak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, daya beli menurun dan rasa ketidakadilan sosial meningkat. Dalam beberapa kasus terbaru, ketidakpuasan tersebut berkembang menjadi aksi massa berskala besar, termasuk di Prancis dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Krisis biaya hidup terjadi ketika harga kebutuhan dasar meningkat lebih cepat daripada pendapatan rumah tangga. Kebutuhan tersebut mencakup makanan, listrik dan bahan bakar, sewa atau cicilan rumah, biaya pendidikan, kesehatan, serta transportasi.

Kondisi ini berbeda dari sekadar “harga naik sesaat.” Krisis biaya hidup bersifat menekan karena masyarakat harus terus mengeluarkan uang lebih banyak untuk kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Akibatnya, keluarga berpenghasilan rendah dan menengah sering mengalami penurunan kualitas hidup: menghemat makanan, menunda kebutuhan kesehatan, atau kesulitan membayar tagihan.

Demonstrasi muncul karena biaya hidup bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan keadilan dan eksistensi rakyat. Beberapa penyebab utamanya adalah:

• Inflasi yang tinggi. Kenaikan harga barang dan jasa mengurangi nilai uang yang dimiliki masyarakat. Di Prancis, misalnya, inflasi tahunan dilaporkan mencapai 3,1 persen pada September 2026, naik dari 2,4 persen pada Agustus 2026.

• Harga energi dan bahan bakar meningkat. Kenaikan harga energi berdampak luas karena memengaruhi biaya listrik, transportasi, produksi, dan harga barang di pasar.

• Perumahan semakin tidak terjangkau. Harga sewa dan rumah yang tinggi membuat banyak keluarga, terutama kaum muda dan pekerja berpenghasilan rendah, kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

• Penghematan anggaran pemerintah. Kebijakan penghematan atau austerity sering dianggap memperburuk layanan publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi.

• Ketimpangan sosial. Masyarakat merasa beban krisis tidak dibagi secara adil, sementara sebagian kelompok tetap mampu mempertahankan standar hidupnya.

Contoh nyata: demonstrasi di Prancis

Pada Oktober 2026, Prancis mengalami gelombang demonstrasi besar terkait biaya hidup. Aksi tersebut awalnya berawal dari protes pelajar dan guru mengenai kondisi sekolah, kekurangan guru, serta fasilitas pendidikan yang memburuk di wilayah perkotaan kelas pekerja. Namun, protes itu kemudian meluas menjadi gerakan nasional tentang ketimpangan, pemotongan belanja publik, dan kenaikan biaya hidup.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan sekitar 550.000 orang mengikuti aksi di berbagai kota, termasuk sekitar 110.000 orang di Paris. Demonstrasi damai berlangsung di banyak tempat, tetapi sebagian kelompok melakukan kerusuhan, penjarahan toko, dan pembakaran kendaraan, sehingga polisi melakukan penangkapan dalam jumlah besar.

Sumber gambar : canva.com

Gambar di atas menggambarkan suasana protes di Prancis, ketika demonstrasi mengenai biaya hidup dan kondisi sekolah berujung pada bentrokan antara aparat dan sebagian demonstran.

Isu biaya hidup bersifat lintas negara karena beberapa faktor saling terhubung secara global :

Gangguan rantai pasok. Konflik, bencana, atau kelangkaan bahan baku dapat menaikkan harga pangan dan energi di pasar dunia.Inflasi impor. Negara yang bergantung pada impor pangan, bahan bakar, atau barang manufaktur dapat mengalami kenaikan harga domestik.Upah yang tidak seiring inflasi. Ketika kenaikan gaji lebih lambat daripada kenaikan harga, daya beli masyarakat menurun.Krisis perumahan perkotaan. Urbanisasi dan keterbatasan rumah terjangkau membuat biaya tempat tinggal meningkat di banyak kota besar.

Laporan media internasional mencatat bahwa protes terkait biaya hidup juga meluas ke negara-negara lain, termasuk di Amerika Latin dan Asia Selatan, dengan keluhan yang mirip: inflasi, perumahan mahal, pemotongan layanan publik, dan ketidakpuasan terhadap pemerint

Isu biaya hidup memicu demonstrasi karena menyentuh kebutuhan paling dasar manusia: makan, tempat tinggal, energi, pendidikan, dan pekerjaan. Ketika masyarakat merasa penghasilannya tidak lagi cukup untuk hidup layak dan pemerintah dianggap lambat merespons, protes menjadi salah satu saluran penyampaian aspirasi.

Demonstrasi di Prancis menunjukkan bahwa krisis biaya hidup dapat dimulai dari keluhan sektoral, seperti kondisi sekolah, lalu berkembang menjadi protes nasional ketika terhubung dengan inflasi, ketimpangan, dan menurunnya layanan publik. Oleh karena itu, solusinya tidak cukup hanya menenangkan demonstrasi, tetapi juga harus menyasar akar masalah: daya beli, pemerataan, dan keberlanjutan layanan publik.