Konten dari Pengguna

Membongkar Cara Kerja Informasi di Sekitar Kita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rangga Zacky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Ilustrasi Media Informasi" Sumber : Chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
"Ilustrasi Media Informasi" Sumber : Chatgpt

Pernahkah Anda merasa cemas setelah seharian membaca berita kriminal di media sosial atau televisi? Atau, pernahkah Anda mendadak membeli sebuah barang hanya karena seorang pembuat konten (content creator) yang Anda ikuti menyebut barang tersebut sebagai "produk terbaik tahun ini"?

Di zaman sekarang, kita nyaris tidak pernah sedetik pun lepas dari dekapan media massa. Mulai dari tayangan televisi saat sarapan, obrolan radio di tengah kemacetan, hingga guliran layar gawai yang menemani menjelang tidur. Media massa telah menjadi lingkungan baru tempat kita hidup dan bernapas. Namun, pertanyaannya: apakah kita yang mengendalikan media, atau justru media yang diam-diam sedang menyetir hidup kita?

Untuk memahami fenomena ini, kita tidak perlu bingung mencari jawaban instan. Para ahli komunikasi lewat berbagai teori klasik dan modern telah lama memetakan bagaimana informasi bekerja dan memengaruhi psikologis kita sebagai manusia.

Dari "Peluru" yang Menyihir hingga Kekuatan Opini Tetangga

Jika kita mundur ke masa setelah Perang Dunia I, para ilmuwan komunikasi sempat ketakutan dengan daya rusak media massa seperti surat kabar dan radio. Pada masa itu, lahir sebuah pandangan yang dikenal sebagai Teori Jarum Hipodermik (Hypodermic Needle Theory).

Teori ini ibaratnya melihat media sebagai jarum suntik raksasa, sementara kita, audiens, adalah pasien yang pasrah. Ketika media menyuntikkan sebuah pesan atau propaganda, kita dianggap akan langsung bereaksi seketika itu juga tanpa daya untuk menolak. Pesan media dianggap memiliki efek "menyihir" yang serempak menciptakan masyarakat massa yang seragam.

Namun, apakah manusia sepasif itu? Untungnya tidak.

Seiring berkembangnya masyarakat, lahirlah Teori Komunikasi Dua Tahap (The Two-Step Flow of Communication). Teori ini menemukan bahwa informasi dari media ternyata tidak langsung menancap ke semua orang. Ada filter penting di tengah masyarakat yang disebut sebagai Pemimpin Pendapat (opinion leaders). Mereka adalah orang-orang yang lebih rajin mengonsumsi media, memiliki informasi lebih banyak, dan dihormati di lingkungannya.

Menariknya, pemimpin pendapat ini tidak selalu tokoh politik formal atau pemuka agama. Di era modern, perannya bisa sangat cair:

- Di bidang kesehatan, mungkin dokter puskesmas setempat adalah rujukan utama Anda.

- Di bidang politik dan agama, tokoh masyarakat atau kyai lokal yang menjadi penuntunnya.

- Bahkan di lingkungan kampus atau pertemanan, urusan membeli handphone baru bisa jadi ditentukan oleh rekomendasi seorang teman yang paling melek teknologi.

Di sinilah media massa berpadu dengan komunikasi tatap muka. Kita kerap kali memercayai informasi bukan karena melihat langsung dari medianya, melainkan karena "pengaruh pribadi" dari orang yang kita anggap ahli di sekitar kita.

Bagaimana Televisi Mengonstruksi "Dunia Nyata" Kita

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang sangat takut keluar rumah di malam hari karena merasa dunia ini sangat kejam dan penuh kriminalitas, padahal lingkungan tempat tinggalnya sebenarnya aman-aman saja? Fenomena psikologis ini dijelaskan dengan sangat baik oleh Teori Kultivasi (Cultivation Analysis) yang digagas oleh George Gerbner.

Gerbner mengingatkan bahwa media khususnya televisi bekerja seperti sistem pesan yang kontinu dan dinamis. Jika seseorang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menonton televisi (heavy viewers), pikiran mereka perlahan-lahan akan "dikultivasi" atau ditanami oleh realitas buatan yang ada di layar kaca. Mereka akan cenderung melihat dunia nyata persis seperti gambaran, nilai-nilai, dan ideologi yang berulang kali muncul di televisi.

Melalui proses yang disebut mainstreaming (pengarusutamaan), televisi tanpa sadar mendikte cara pandang kita tentang banyak hal. Mulai dari stereotip gender, standar kesuksesan, hingga gaya hidup mewah yang dianggap sebagai kewajaran. Bahkan di abad ke-21 ini, meski internet berkembang pesat, televisi tidak kehilangan taringnya. Internet justru kerap menjadi jalan baru (new delivery system) bagi program-program media besar untuk menyebarkan pengaruhnya secara lebih cepat ke ruang tamu kita.

Mengapa Kita Mengonsumsi Media?

Meskipun media memiliki daya kultivasi yang kuat, kita tidak boleh lupa bahwa manusia juga memiliki kendali atas dirinya sendiri. Sudut pandang ini diwakili oleh teori yang sangat memanusiakan audiens, yaitu Teori Uses and Gratifications (Penggunaan Media dan Pemenuhan Kebutuhan).

Teori ini membalikkan pertanyaan klasik. Jika sebelumnya kita bertanya "Apa yang media lakukan kepada manusia?", maka teori ini bertanya "Apa yang manusia lakukan terhadap media?".

Setiap dari kita memiliki kondisi sosial-psikologis yang berbeda, yang kemudian melahirkan kebutuhan informasi yang berbeda pula. Kebutuhan inilah yang membuat kita secara aktif memilih media mana yang mau kita konsumsi demi mendapatkan kepuasan atau pemenuhan kebutuhan (gratifications).

Sebagai audiens yang aktif, kita sebenarnya terus-menerus memfilter informasi:

  1. Kita dengan sengaja mencari apa yang kita inginkan dan menolak isi media yang tidak relevan.

  2. Kita membawa informasi dari media ke dalam ruang diskusi kelompok atau keluarga untuk menguji kebenarannya.

  3. Kita membandingkan satu media dengan media lainnya sebelum memercayai suatu berita.

Jadi, ketika Anda memilih menonton video komedi di YouTube saat sedang stres, atau membuka portal berita ekonomi saat ingin berinvestasi, Anda sedang membuktikan kebenaran teori ini. Media hanyalah alat, dan Andalah yang memegang kendali atas pemenuhan kebutuhan psikologis Anda sendiri.

Mengenal Para "Penjaga Gawang" Informasi

Pernahkah Anda penasaran mengapa sebuah isu bisa menjadi viral dan dibahas oleh semua stasiun televisi, sementara isu lain yang tak kalah penting justru tenggelam begitu saja? Jawabannya ada pada konsep Gatekeeper (Penjaga Gawang) dalam organisasi media.

Dipopulerkan dalam dunia jurnalisme oleh David Manning White, gatekeeping adalah proses penyaringan informasi yang sangat ketat sebelum sebuah peristiwa layak berstatus sebagai "berita". Di dalam ruang redaksi yang rumit, sebuah informasi harus melewati banyak tangan dan kepala —mulai dari reporter di lapangan, koordinator peliputan, editor visual, hingga produser dan direktur berita.

Proses ini sayangnya tidak pernah 100% objektif. Pengalaman pribadi, sudut pandang subyektif, serta budaya organisasi sang gatekeeper sangat menentukan informasi mana yang akan ditayangkan dan mana yang dibuang ke tempat sampah redaksi.

Lebih jauh lagi, dalam organisasi media yang sangat kompak, sering kali muncul fenomena psikologis yang disebut Groupthink. Ini adalah situasi ketika sekelompok pengambil keputusan di media terperangkap dalam rasa percaya diri yang berlebihan, sehingga mereka cenderung "gegabah" atau meremehkan kompleksitas masalah yang ada. Akibatnya, produk berita yang dihasilkan bisa menjadi bias atau seragam karena tidak ada lagi ruang untuk perdebatan yang kritis di dalam internal mereka

Menjadi Audiens yang Berdaya

Melihat betapa rumitnya struktur organisasi media dan besarnya potensi efek yang ditimbulkannya, kita tidak bisa lagi menjadi konsumen informasi yang naif. Rumus klasik dari Harold Lasswell selalu relevan untuk kita gunakan setiap kali menerima informasi apa pun: Who Says What, In Which Channel, To Whom, With What Effect? (Siapa yang mengatakannya? Apa pesannya? Lewat saluran apa? Kepada siapa ditujukan? Dan apa efek yang diharapkan?)..

Dengan selalu kritis mempertanyakan lima elemen dasar tersebut, kita tidak akan mudah "disuntik" oleh hoaks. Kita juga tidak akan mudah cemas oleh bayang-bayang semu yang dikultivasikan oleh layar kaca. Media massa adalah cermin sekaligus pembentuk realitas sosial. Namun pada akhirnya, kitalah yang memegang kendali penuh untuk memilih: ingin menjadi korban dari agenda media, atau menjadi audiens cerdas yang memanfaatkan media untuk meningkatkan kualitas hidup kita.