Langkah Awal di Talang Nangka: Dodol Nanas, Ikon Baru Ekonomi Desa yang Manis

saya mahasiswi UIN Raden Fatah palembang. memiliki hobi membaca dan bermain hockey. saya anak yang ceria dan suka berbicara
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rani widiyasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selasa, 27 Januari 2026, akan dikenang sebagai titik balik penting bagi warga Desa Talang Nangka. Pada hari tersebut, mahasiswa KKN 84 Kelompok 63 berhasil menginisiasi sebuah gebrakan yang belum pernah ada sebelumnya di desa tersebut, yaitu pengolahan nanas menjadi produk dodol yang manis. Selama ini, selalu ada pembuatan dodol hanya berbahan gula merah seperti dodol pada umumnya. dan selama ini, melimpahnya tanaman nanas di desa tersebut cenderung hanya dipandang sebagai produk mentah dengan harga jual yang sangat murah ketika nanas melimpah. Namun, melalui kejelian melihat potensi lokal, mahasiswa KKN membuktikan bahwa bahan baku yang murah dan melimpah bisa disulap menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi tanpa memerlukan modal yang besar.

Kehadiran dodol nanas pertama ini bukan sekadar tentang menciptakan kudapan baru, melainkan sebuah solusi cerdas terhadap tantangan hilirisasi pangan di tingkat desa. Dengan proses pembuatan yang ekonomis, warga kini memiliki alternatif untuk mengolah hasil panen mereka sendiri menjadi produk yang memiliki masa simpan lebih lama. Dari sisi kualitas, dodol nanas hasil inovasi Kelompok 63 ini menawarkan simfoni rasa manis yang legit dengan sentuhan asam segar yang otentik, sebuah karakter rasa unik yang siap bersaing sebagai buah tangan khas daerah. Kemudahan akses bahan baku langsung dari kebun warga menjadi kunci utama mengapa produk ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai usaha mikro yang berkelanjutan.
Langkah yang diambil oleh Kelompok 63 di Desa Talang Nangka diharapkan mampu meletakkan fondasi bagi kemandirian ekonomi warga. Keberhasilan memproduksi dodol nanas untuk pertama kalinya ini menjadi pesan kuat bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan teknologi rumit, melainkan keberanian untuk memaksimalkan sumber daya yang ada di depan mata. Jika semangat kreativitas ini terus dirawat dan dilanjutkan oleh masyarakat setempat, dodol nanas tidak akan berhenti sebagai program KKN semata, melainkan akan bertumbuh menjadi simbol kebangkitan ekonomi kreatif yang membanggakan bagi Desa Talang Nangka di masa depan.
Ketika Selesai pembuatan dodol nanas pun ada momen yang di buat oleh kelompok 63 yaitu icip-icip rasa dan salah satu warga desa talang nangka berkata bahwa " Rasanya mantap dan mirip dengan dodol garut yang biasa di jual. rasanya pas enak dimulut dan ini pertama kalinya ada yang buat dodol nanas di desa ini" ucap saudara adji selaku warga desa talang nangka.
Sebuah kalimat yang tercipta dan terlintas dari kelompok 63 "Inovasi adalah jembatan antara potensi yang tersembunyi dan kesejahteraan yang nyata. Di Talang Nangka, langkah pertama menuju kemandirian itu telah kita mulai dengan sebuah rasa manis yang penuh harapan."
