Konten dari Pengguna

Home Sweet Loan: Ketika Mimpi Harus Berbagi Ruang dengan Tanggung Jawab

Ranisha Prameswari

Ranisha Prameswari

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ranisha Prameswari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Foto: Instagram @visinemaid)
zoom-in-whitePerbesar
(Foto: Instagram @visinemaid)

Judul : Home Sweet Loan

Sutradara : Sabrina Rochelle Kalangie

Perusahaan Produksi : Visinema Pictures

Genre : Drama keluarga

Pemeran Utama : Yunita Siregar, Derby Romero, Risty Tagor, Fita Anggriani, Ayushita

Pertama kali saat mendengar judul “Home Sweet Loan” saya kira hanya akan menjadi sebuah film drama keluarga biasa yang menampilkan huru hara masalah keluarga pada umumnya. Tapi ternyata setelah menonton film ini pandangan saya berubah. Film ini berhasil menampar secara halus tentang masalah yang ada di dalam keluarga. Tidak dengan adegan drama yang terlalu dibuat-buat, tetapi lewat hal-hal kecil yang justru terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari penontonnya. Dengan konteks sederhana seorang anak yang harus memikirkan masa depan, uang, dan keluarga disaat yang bersamaan.

Film ini berpusat pada Kaluna, seorang anak bungsu yang tinggal di rumah sederhana bersama orang tua, kakak, ipar, dan juga keponakannya. Bayangkan ketika satu rumah diisi dengan tiga kepala keluarga, jujur untuk membayangkan saja saya merasa ikut sesak, dan bagi saya ini bukan hanya sekadar detail kecil dalam film, tetapi juga sebuah representasi nyata kehidupan keluarga di Indonesia yang rumahnya terlihat “penuh” hanya karena tidak memiliki pilihan lain. Kaluna yang hanya bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji yang bisa dibilang tidak terlalu besar, tapi harus bisa membagi uangnya untuk kebutuhannya sendiri, kebutuhan rumah, bahkan kebutuhan sehari-hari keluarganya. Namun, di sisi lain dia juga punya satu mimpi yang sangat manusiawi bagi orang-orang seusianya, yaitu memiliki rumah sendiri. Menurut saya, mimpi sederhana seperti itulah yang membuat karakternya terasa lebih dekat. Bukan hanya mimpi punya rumah yang mewah tetapi juga rumah yang bisa benar-benar ia sebut sebagai miliknya.

Yang menurut saya paling menarik yaitu film ini tidak buru-buru dalam membuat alur yang menjadikan Kaluna sebagai korban yang harus dikasihani. Film ini tetap menampilkan seluruh perjuangan Kaluna dalam mencapai mimpinya. Saya sangat suka dengan model pendekatan film yang seperti ini karena cerita di dalamnya terasa lebih realistis bukan hanya menjadikan tokoh utamanya seperti korban yang terlalu dilebih-lebihkan.

Saya merasa alur dalam film ini dibangun dengan tempo yang terlihat sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konflik yang ada dalam film ini selalu datang dari hal-hal yang sering luput dari drama biasanya, seperti hitung-hitungan cicilan, gaji yang tidak cukup, dan keputusan keluarga yang berat. Bagi sebagian orang mungkin film ini terasa sangat lambat, tetapi bagi saya di situlah kekuatan dari film ini. Tidak perlu banyak drama berlebih untuk menarik emosional penonton, karena masalah yang sebenarnya adalah yang terasa paling dekat dan nyata, seperti apa yang ada dalam film ini.

Akting yang dibawakan oleh Yunita Siregar sebagai Kaluna sangat membuat saya terkesan sepanjang film. Dia sangat berhasil untuk membawa karakter tersendiri yang menurut saya sangat beda dengan tokoh-tokoh serupa di film Indonesia lainnya. Karakter yang dibuat paling lelah namun tidak pernah menunjukkan rasa menyerah bukanlah hal yang mudah untuk bisa dibawakan tanpa kesan yang berlebihan, dan bagi saya Yunita sangat berhasil membawakannya dengan baik. Chemistry-nya dengan Derby Romero yang memperlihatkan adanya interaksi yang dibuat dengan hangat tanpa dipaksa untuk menjadi romantis menurut saya juga menjadi salah satu daya tarik terbesar di dalam film ini. Ketika seluruh pemeran berhasil menuangkan karakternya dengan menyesuaikan pada kisah paling dekat dengan penonton, bagi saya ini menjadi suatu hal yang patut untuk diapresiasi dari film ini.

Suasana yang dibawakan di sini cukup unik, suasana penuh dan sesak dalam rumah yang justru menjadi karakter tersendiri di dalam film ini. Dari pandangan saya, suasana penuh dan sesak yang dibangun di sini sangat berhasil menyampaikan dua perasaan sekaligus, yaitu suasana hangat karena rumah penuh diisi dengan keluarga, tapi juga melelahkan karena minimnya privasi di dalam rumah. Hal inilah yang menurut saya menjadi bagian paling jujur dalam film, tidak selalu menggambarkan bahwa keluarga besar menjadi yang paling indah, tetapi juga tidak membawanya menjadi yang paling buruk.

Kelebihan utama dalam film ini menurut saya terletak pada kedekatan ceritanya dengan realita yang ada. Dengan membawa tema generasi sandwich yang harus menanggung beban keluarganya sekaligus mengejar mimpinya sendiri yang jarang dibawakan tanpa rasa menggurui. Saya juga sangat menghargai bagaimana film ini tidak menjadikan uang sebagai suatu masalah tunggal, tetapi juga melihatkan bagaimana tekanan ekonomi dapat mempengaruhi hubungan yang ada di dalam keluarga.

Di sisi lain, ada beberapa kekurangan yang saya rasakan dalam film ini, yaitu dalam bagian pengembangan karakter pendukung. Pada beberapa tokoh seperti kakak-kakak Kaluna terkadang terasa kurang mendapatkan ruang untuk mengembangkan karakternya, padahal banyak masalah dari keluarga mereka yang saya rasa masih bisa digali lebih dalam lagi. Pada bagian penyelesaian masalah di akhir juga saya rasa terlalu cepat jika dibandingkan dengan proses membangun konflik yang lumayan pelan di awal film.

Secara keseluruhan, saya merasa bahwa film Home Sweet Loan sangat berhasil menyampaikan suatu pesan yang besar lewat cara yang paling sederhana. Film yang dapat dibilang tidak sempurna, tetapi justru dari ketidaksempurnaannya itu yang saya rasa menjadi hal paling jujur. Saya sangat merekomendasikan film ini untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam kondisi yang sama, ketika harus memilih antara tanggung jawab atas keluarga atau atas mimpinya sendiri. Film ini memang tidak melihatkan solusi yang instan, tetapi dapat menjadi pengingat bahwa keduanya juga sama-sama layak untuk diperjuangkan.

Rating: 4,5/5