Typing Dingin: Mengulik Budaya Menyingkat di Indonesia

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rasyad Dhaf P F tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba bayangkan, di tengah hiruk-pikuk hari, notifikasi pesan berdering pelan dari saku ponsel Anda. Ternyata itu adalah teman atau rekan kerja Anda yang sedang menanyakan keberadaan Anda saat ini. Tetapi, alih-alih kalimat utuh yang ramah, yang menyambut justru ini:
"P, serlok, gw mw otw skrg.”
Saya personal sering sekali berjumpa dengan pesan yang tersusun layaknya sebuah kode yang disinyalir oleh alien ini. Meskipun demikian, budaya ‘kode’ ini sudah ada sejak ponsel pertama kali menjejak di Indonesia. Banyak orang memilih menghindari durasi mengetik yang panjang agar pesan sampai lebih cepat dan efisien.
Lantas, apakah efisiensi waktu menjadi satu-satunya pilar yang menopang eksistensi gaya mengetik ini? Mampukah gaya ini dipahami dan diadopsi lintas generasi tanpa kehilangan makna? Bila ditautkan dengan komprehensi komunikasi antarbudaya, teori manakah yang paling mendasar untuk membaca fenomena ini?
Sebelum itu, apa itu ‘typing dingin’? Alangkah baiknya saya jelaskan terlebih dahulu supaya kita bisa mendalami bersama detail-detail di balik fenomena ini.
Definisi & Budaya Typing Dingin
‘Typing Dingin’ atau yang lebih dikenal dengan ‘dry text’ oleh Generasi Z adalah gaya mengetik yang terkesan lugas dan apatis. (contohnya ‘y’ atau ‘g’ yang berarti ‘ya’ dan ‘tidak/nggak’) Biasanya typing dingin ini dilakukan dengan cara menghilangkan huruf vokal (selain pada awal kata) pada suatu kata atau frasa, seperti “gt” (gitu) atau “YTTA” (yang tau tau aja).
Paralel dengan berjalannya waktu, fenomena ini menjadi bagian dari dinamika komunikasi digital. Terkadang typing dingin digunakan untuk menyesuaikan diri dengan ritme komunikasi yang serba cepat ini. Subarkah (2025) berpendapat bahwa fenomena tersebut dapat menghadirkan kesan keakraban dan solidaritas di antara penduduk suatu komunitas, dengan kata lain berfungsi sebagai identity marker dalam interaksi digital.
Namun, bagi sebagian orang, gaya mengetik ini dapat terdengar kasar atau menyiratkan ketidaksediaan untuk melanjutkan percakapan.
Dalam ruang percakapan digital, nihilnya gestur nonverbal seperti intonasi, ekspresi, dan sebagainya memyebabkan penafsiran pesan bergantung pada unsur-unsur tambahan seperti emot, tanda baca, serta waktu pengiriman pesan. (Zullaicha et al., 2025)
Ekspektasi Terhadap Typing Dingin
Typing dingin tidak hanya mengandung ambiguitas secara horizontal, tetapi juga secara vertikal. Persepsi generasi lain terhadap typing dingin dapat bervariasi tergantung konteks dan intensi. Di sini, peran hierarki dan norma bersifat krusial jika bicara tentang gaya mengetik ini sendiri.
Dalam risetnya, Zullaicha et al. (2025) melaporkan bahwa partisipannya kerap menjelaskan jika typing dingin bersifat ‘ringkas”, “lugas”, dan “kurang ekspresif”. Hal ini mendukung premis Stuart Hall, seorang sosiolog asal Inggris, di mana makna yang ingin dicapai oleh pengirim teks bergantung pada reinterpretasi penerima.
Ia memberikan contoh singkat dari respons “OK”, yang jika disampaikan oleh teman dekat via WhatsApp dapat dipahami sebagai jawaban yang netral dan afirmatif. Tetapi sebaliknya, “OK” dari atasan dalam konteks yang profesional atau dari pasangan saat sedang bertengkar dapat dianggap menyepelekan atau bersikap pasif-agresif.
Dari sini, dapat dipastikan bahwa typing dingin dapat dipahami lintas generasi, tetapi tidak selalu dapat dimaknai dengan cara yang sama. Generasi yang tumbuh bersama SMS dan media sosial cenderung lebih terbiasa menafsirkan singkatan dengan baik. Meskipun begitu, jika kita berbicara dalam konteks Indonesia, komunikasi yang hangat dan nyaman masih menjadi ekspektasi utama seseorang ketika berbicara. Sehingga typing dingin banyak mengakar ke kesalahpahaman.
Teori Antar-kultural yang Mendukung
Sejauh ini, teori yang menurut saya cukup mengilustrasikan fenomena ini adalah milik Edward T. Hall, yaitu konsep budaya konteks tinggi dan rendah. Pada komunikasi berkonteks tinggi, makna lebih bersifat implisit dan membutuhkan pemahaman relasional, sedangkan pada konteks rendah bersifat sebaliknya. (Asih, 2026)
Untuk menguji relevansi teori, coba kita ulas balik dialog yang saya kutip pada awal artikel; “P, serlok, gw mw otw skrg.”
“P” diartikan sebagai “ping” atau panggilan perhatian yang terkesan informal, “serlok” adalah plesetan dari “shareloc” atau “share lokasi”, dan kumpulan singkatan pada “gw mw otw skrg” dimengerti sebagai “gue (aku) mau on-the-way sekarang”, yang bersifat sebagai keterangan situasi oleh sang penerima.
Respons tersebut menandakan komunikasi yang berkonteks tinggi, karena selain konteks urgensi, dapat dipastikan juga relasi antar pelaku. Hal tersebut tidak bisa disamakan ketika Anda berkomunikasi dengan atasan atau orang yang lebih tua, sehingga peran hubungan dan konteks di sini sangat didukung oleh teori tersebut.
Pendapat Saya: Apakah Typing Dingin Budaya yang Merugikan?
Pada akhirnya, saya rasa budaya typing dingin ini bukanlah hal yang terutama merugikan, terlebih lagi disingkirkan dari dinamika komunikasi digital di Indonesia. Melesatnya pacu kemajuan teknologi menjadi alasan utama gaya mengetik seperti ini masih dilestarikan, karena memang terasa lebih cepat dan praktis.
Akan tetapi, semuanya tetap bergantung pada konteks. Bagi saya, typing dingin menjadi merugikan ketika ia digunakan tanpa kepekaan terhadap lawan bicara. Pesan yang terlalu ringkas dapat menciptakan ruang tafsir yang lebar, terutama saat penerima sedang lelah, kecewa, cemas, atau berada dalam situasi konflik. Zullaicha et al. (2025) juga menekankan bahwa keadaan emosional pengirim dan penerima, serta konteks situasi yang sedang berlangsung, sangat memengaruhi penerimaan pesan.
Jadi, konteks dalam kategori dinamika komunikasi bersifat kardinal. Sebenarnya bisa saja kita menjadikan typing dingin sebagai sarana komunikasi yang efisien, tetapi Anda harus kompeten dengan cara menavigasi risiko misinterpretasi dari gaya mengetik ini dengan memperkuat relasi dan membangun kesadaran.
Dengan demikian, saya tegaskan lagi bahwa fenomena ini tidak boleh dibiarkan tanpa batas. Semua orang perlu menanamkan kesadaran untuk mengaplikasikannya secara kontekstual dan proporsional. Pastikan terlebih dahulu pesan yang akan disampaikan memenuhi kriteria penerima. Menambahkan sapaan atau satu kalimat penjelas mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik, tapi berdampak kolosal dalam menghindari kesalahpahaman yang bisa jadi bertahan sangat lama.
